
Sementara itu di luar para maid dan kepala pelayan tengah sibuk cek Cok bahagia melihat tuan muda mereka yang terkenal galak terhadap perempuan kini malah membawa seorang perempuan cantik ke Mansion.
"Apa yang kalian bicarakan?"Ucap Romi yang saat itu melihat beberapa maid yang sedang bergosip.
"Tuan Romi, maaf."Jawab mereka takut jikalau Romi akan memberikan mereka hukuman.
"Apa yang kalian lihat saat ini, jangan sampai bibi tau, jika tidak, aku akan memberikan kalian pelajaran."Ucap Romi memberikan peringatan kepada beberapa maid dan kepala pelayan yang saat ini tengah gemetar karena takut.
"Ba,baik lah tuan Romi, kami minta maaf."Jelas kepala pelayan mewakili maid-maid.
"Bagus, sekarang pergi ambil kan semangkok air hangat dan juga sapu tangan yabg bersih, segera antar kan ke kamar boss muda."Ucap Romi kepada maid.
"Baik,tuan Romi baik."Jawab salah satu maid yang kemudian menjalankan perintah sedang kan maid lain kembali ke dapur dan mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing, begitu juga dengan kepala pelayan.
Setelah mengatakan itu, Romi berjalan menuju ruang tengah, tugas nya hari ini sudah selesai, dan dia terasa begitu lelah,ia pun pergi untuk istirahat.
Sementara itu di kamar Zidan.
"Mengapa dulu kau menolak ku? Aku jadi sangat marah kepada mu, jika malam itu aku tau itu adalah kau, aku mungkin tidak akan meningal kan mu sampai pagi tiba, kau pasti mendapat kan masalah dari papa mu, aku tau betul dia bagaimana."batin Zidan yang saat ini duduk di samping ranjang tepat nya di sebelah Fiona yang masih dalam keadaan pingsan.
Di Tubuh Fiona masih terlihat begitu banyak bekas gigitan dari Zidan tadi malam, hal ini tentu membuat Zidan tersenyum tipis, karena dia adalah orang pertama yang menikmati Fiona.
"Tenang lah, aku akan mencari tau, siapa yang menjebak mu, dan tidak akan ada lagi yang bisa membuat mu terluka saat kau berada di sisi ku."Batin Zidan yang terlihat sangat mencintai Fiona.
Bagaimana tidak, dia sudah mencintai Fiona sejak SMP.
Tok ... Tok ... "Tuan muda, aku membawa semangkok air hangat dan sapu tangan."Ucap maid yang saat ini tengah berdiri di depan pintu kamar yang rengang itu.
"Bawa masuk."Ucap Zidan dari dalam kamar.
Maid itu pun bergegas masuk ke dalam kamar Zidan dan menaruh semangkuk air hangat dan juga sapu tangan di nakas samping ranjang Zidan.
"Keluar lah."Ucap Zidan setelah melihat maid tersebut melakukan perintah nya.
__ADS_1
"Baik tuan."Ucap sang maid tak berani bertanya atau membantah.
Dia pun keluar dari kamar itu dan kembali ke dapur, di dapur wajah nya terlihat sangat merah oleh beberapa maid lain.
"Ada apa dengan mu?"Tanya kepala pelayan yabg juga memperhatikan wajah maid itu.
"Aduh aku benar-benar tidak tahan untuk mengatakan ini, gadis itu sangat cantik, dia berkulit putih,bibir merah merona, dia seperti Putri tidur."ucap sang maid yabg ternyata sempat memeprhatikan wajah Fiona.
"Bagaimana bisa, setau ku, wanita cantik di kota ini hanya lah anak dari tuan Robert, itu pun jarang keluar karena takut di sorot banyak media."Tutur maid lain.
"Apa mungkin itu dia?"Ucap kepala pelayan.
Sungguh maid-maid dan kepala pelayan tidak bisa berhenti bergosip, mereka bahkan mengaumi kecantikan Fiona.
Sementara itu di kamar Zidan.
Zidan perlahan mengompres kaki dan juga tangan Fiona dengan pelan, karena itu terlihat kotor dan banyak debu yang menempel di tubuh nya.
Mata nya mulai melirik sekeliling ruang kamar tersebut,dan berhenti tepat setelah sorot mata itu bertemu dengan mata Zidan.
"Sudah bangun?"Lirihnya.
Fiona yang memiliki rasa trauma akibat kejadian malam itu, bergegas menarik selimut nya menutupi seluruh tubuhnya sambil melihat Zidan dengan tatapan takut.
"Di mana aku? Siapa kau?"Ucap Fiona yang tentu saja tidak mengenali wajah Zidan karena memang malam itu dia tidak bisa melihat jelas wajah Zidan.
"Aku? Aku ... Nanti kau juga akan tau."Ucap Zidan tersenyum tipis.
"Aku ingin keluar dari sini, tolong jangan lakukan apapun kepada ku, aku mohon lepas kan aku."Lirih Fiona yang seingat nya tadi dia di tangkap oleh dua orang laki-laki jahat.
"Kau ingin pergi dari sini? Apa kau yakin? Apa kau memiliki tempat tinggal?"Tutur Zidan dengan tatapan dingin nya.
Fiona terdiam mendengar perkataan Zidan barusan, dia tidak tau harus menjawab apa, saat ini dia hanya lah seorang wanita yang tidak memiliki keluarga atau rumah yang bisa di tempati, papa nya sudah membuang nya.
__ADS_1
Tapi tingal di tempat seorang laki-laki yang sama sekali tidak di kenali oleh nya juga adalah suatu hal yang tidak bagus.
"Aku, aku pergi saja, aku mohon biar kan aku pergi."Tutur Fiona lagi.
"Pergi lah, jika kau tidak takut dingin nya malam, orang-orang jahat, dan juga hujan badai."Ucap Zidan yang mencoba membuat Fiona ketakutan.
Wajah Fiona kembali meredup, dia memikirkan bagaimana sulit nya dia menjalani beberapa jam saja di jalan raya, apalagi bermalam, bisa-bisa dirinya jadi seekor tikus got yang sangat jelek.
"Tidak aku tidak mau, aku akan tetap tinggal di sini, sampai aku bisa menemukan tempat tinggal baru, sampai aku menemukan seseorang yang bisa membantu ku untuk membalas dendam kepada mereka yang sudah membuat aku menderita."Batin Fiona yang saat ini hatinya di penuhi dengan rasa dendam.
"Istirahat lah, aku tidak akan menggangu mu."Ucap Zidan yang kemudian berdiri dari duduknya dan hendak keluar dari kamar tersebut.
"Tunggu."Ucap Fiona.
Zidan pun menghentikan langkahnya mendengar ucapan Fiona.
"Hmm?" Lirih Zidan sambil mengerutkan keningnya menandakan jika dia meminta Fiona melajukan kalimat nya.
"Tuan, siapa kau sebenarnya?"Tanya Fiona penasaran.
"Aku? Jangan panggil aku tuan, sekarang istirahat lah, kondisi mu sangat lemah, besok kau akan tau siapa aku."Ucap Zidan yang masih merahasiakan identitas nya dari Fiona karena tidak ingin wanita itu semakin banyak pikiran.
Setelah berkata demikian, Zidan pun berjalan keluar dari kamar tersebut menunjukkan ruang tengah.
Sementara Fiona yang kondisinya sangat lemah kembali memilih untuk istirahat, dia tidak ingin memikirkan apapun saat ini karena rasanya tubuhnya seperti di pukul oleh beberapa kayu besar.
Sementara itu di luar.
"Boss muda, bagaimana keadaan nya?"Tanya Romi yang berdiri dari duduknya melihat Zidan datang ke ruang tengah mansion menghampiri Romi.
Zidan diam, dia belum membuka mulutnya, dia duduk di sofa ruang tengah mansion dengan mimik wajah yang sedikit kebingungan.
Bersambung ....
__ADS_1