
Sementara itu Romi benar-benar lelah mengawasi Fiona yang ke sana sini, di halaman depan villa, dia bahkan masuk ke dalam perkebunan jeruk samping villa.
"Astaga nona jangan memanjat pohon itu! Turun cepat, jika boss muda tau aku akan mendapatkan masalah."Ucap Romi kepada Fiona.
"Kau cukup tenang Romi, aku tidak akan jatuh,ini hanya lah hal kecil, aku tidak akan jatuh."Ucap Fiona yang saat itu tengah meraih beberapa buah jeruk yang sudah matang.
"Jangan begitu nona, itu bahaya, duri nya akan membuat tangan mu sakit."Tutur Romi sambil mengacak-acak rambut nya furstasi.
Namun kali ini Fiona tidak lagi mempedulikan apa ya g di katakan oleh Romi, dia terus saja melakukan apa yang dia suka dan memetik banyak buah jeruk matang.
"Nona, aku bisa meminta tukang kebun villa untuk mengambil nya sebanyak yang kau mau, tapi tolong dengar kan aku, turun sekarang juga!"Teriak Romi lagi.
"Mana tukang kebun nya?"Tanya Fiona berbalik dan melihat ada Zidan dan juga mama nya yang sedang berjalan ke arah mereka, saat ini lah Fiona merasa takut, karena wajah Zidan terlihat sangat marah dari kejauhan dia terlihat buru-buru menghampiri Fiona dan Romi.
Karena rasa takut nya itu, Fiona menjadi buru-buru menuruni anak tangga yang dia pijak untuk mengambil buah jeruk tersebut, sayang nya karena tidak fokus,dia pun salah menginjak anak tangga sehingga kaki nya tergelincir dan dia pun jatuh.
"Aaa!"Teriak nya.
Namun kedua tangan seseorang menyambut nya sehingga Fiona tidak jatuh ke tanah. Merasakan dirinya tidak sakit dan tidak jatuh ke tanah Fiona pun membuka mata nya.
"Nona, kau baik-baik saja?"Tanya Romi.
Ya, Romi lah yang menyambut Fiona yang hampir jatuh itu.
"Heem."Kode Zidan dengan wajah memerah menahan marah.
Sontak Romi yang mendengar itu buru-buru melepaskan Fiona.
"Maaf kan aku boss,ini salah ku."Ucap Romi menuduhkan kepala nya.
"Tidak, dia tidak salah, aku lah yang salah memaksa untuk manjat."Jawab Fiona memebela Romi.
"Sekarang sudah bisa saling membela ya."Jelas Zidan yang seperti nya sangat marah.
"Maaf."Lirih Fiona.
"Zidan, sudah lah, Romi kau masuk lah ke villa bersama Zidan, aku ingin bicara dengan nya."Lirih mama Lika kepada Zidan dan Romi.
__ADS_1
"Baik nyonya." Jawab Romi.
Namun beda dengan Zidan dia menatap Fiona sejenak dan kemudian berjalan pergi dari tempat itu.
Terlihat sekali tatapan Zidan yang tidak suka melihat Fiona dan Romi tadi.
Kini tingal lah Fiona dan mama Lika di kebun tersebut.
"Permisi bibi, emm, maaf aku baru datang sudah membuat kekacauan."Tutur Fiona yang berjongkok di depan mama Lika.
"Kau tidak perlu minta maaf sayang, siapa nama mu? Kau sangat cantik."Ucap mama Lika.
"Nama ku, nama ku Fiona, bibi kau adalah mama nya Zidan?"Tanya Fiona dengan sopan.
"Iya, aku adalah mama nya Zidan, memandang wajah mu, aku teringat seseorang, nama mu juga."Ucap mama Lika.
"Seperti nya aku membuat mama nya Zidan teringat akan putri nya, sebaiknya aku hiraukan saja."Batin Fiona.
"Ah, bibi, apa bibi nyaman tinggal di villa ini?"Tanya Fiona mengalihkan pembicaraan.
"Ya, aku cukup nyaman, karena penyakit ku ini, aku tidak bisa tingal di lingkungan perkotaan."Jelas mama Lika kepada Fiona.
"Kau ini sangat pintar ya, oh iya boleh kan bibi bertanya sesuatu kepada mu?"Tutur mama Lika sambil mengelus rambut Fiona yang sedikit berantakan.
Baru kali ini ada seseorang yang begitu lembut kepada Fiona,di elus oleh mama Lika rasanya Fiona kembali memiliki seorang mama.
"Boleh, silahkan bibi." Ucap Fiona sambil menampilkan senyum manisnya.
"Apa kau adalah kekasih nya Zidan? Sebelum ini dia tidak pernah dekat dengan seorang perempuan, apalagi sampai membawa nya ke vila dan bertemu dengan ku, kau adalah perempuan pertama yang dia bawa ke villa untuk bertemu aku, seperti nya kau cukup istimewa."Ucap mama Lika dengan tangan yang mengengam tangan Fiona.
Sebelum nya Fiona cukup khawatir bertemu dengan mama nya Zidan, takut jika mama nya Zidan mengira dia adalah wanita terbuang yang di kutip oleh Zidan dan di bawa ke sana, tapi ternyata sama seperti Zidan mama nya cukup lembut dan baik hati.
"Aku em, aku tidak tau harus menjawab apa bibi."Jelas Fiona dengan raut wajah sedih.
Ya dia juga tidak bisa mengatakan apapun karena dia tidak mungkin jujur sekarang, itu akan membuat suasana menjadi tidak enak.
"Bibi, sudah mau hujan, bagaimana aku bawa bibi masuk ke dalam dulu."Tanya Fiona mengalihkan topik pembicaraan.
__ADS_1
"Seperti nya dia sedikit malu, aku juga seharusnya tidak bertanya kepada nya, seharusnya aku bertanya kepada Zidan saja."Batin mama Lika.
"Bibi."Pangil Fiona lagi.
"Ah iya, ayo."Ucap mama Lika.
Fiona pun dengan pelan mendorong kursi roda mama Lika untuk keluar dari area kebun yang indah itu menuju villa.
Sementara itu di dalam villa.
"Boss, jangan marah padaku, aku sudah mengingatkan dia agar tidak manjat."Ucap Romi yang khawatir akan wajah manyun boss muda nya.
"Kau tidak bisa di andalkan."Marah Zidan.
"Tapi aku menangkap nya, sehingga dia tidak jadi jatuh dan baik-baik saja sekarang bos."Ucap Romi lagi.
"Ya karena itu aku marah, kau memegang wanita ku tampa seijin ku."Ucap Zidan ya g ternyata cemburu.
"Astaga boss,jika aku ijin dulu dia akan jatuh dan patah tulang, aku pikir apa, ternyata boss ini sudah sangat cemburu pada ku ya?"Ucap Romi blak-blakan.
"Diam lah, aku tidak mau bicara dengan mu lagi."gaduh Zidan dengan wajah datar.
"Sekarang masih bicara."Ucap Romi lagi.
"Diam atau aku jahit mulut mu "Ucap Zidan memelototi Romi.
"Astaga, apa yang kalian ributkan? Masih belum selesai juga ribut-ribut?"Tanya mama Lika yang saat ini baru saja tiba di ruang tengah villa bersama dengan Fiona.
"Aku pergi dulu."Ucap Zidan yabg kemudian berjalan meningal kan ruang tengah menuju lantai atas villa Tampa menatap Fiona.
"Romi?"Tutur Fiona dengan raut wajah penuh tanda tanya.
"Aku, aku tidak tau nona."Jawab Romi yang saat itu tak kalah kesal nya dengan Zidan.
"Sudah lah, kalian sering seperti ini saat datang ke villa, membuat aku pusing, untung ada Fiona, jadi aku tidak perlu lagi memikirkan kalian, ayo Fiona antar bibi ke kamar."Ucap mama Lika sambil tersenyum.
Sebenarnya mama Lika tau apa yang sedang di perdebatkan oleh boss dan asisten itu, tapi mama Lika tidak ingin Fiona mengetahui nya.
__ADS_1
Fiona pun mengangguk kan kepala nya dan kemudian mendorong kembali kursi roda mama Lika untuk ke kamar mama Lika, kebetulan saat itu kamar mama Lika tidak jauh dari ruang tengah karena kondisi mama Lika yang lumpuh tidak bisa tidur di lantai atas karena tidak ada lift.
Bersambung ....