Dua Pewaris Tunggal

Dua Pewaris Tunggal
Part 17


__ADS_3

Pelayan itu pun mengangguk kan kepala nya dan kemudian mendorong pelan kursi roda mama Lika ke ruang makan.


Mama Lika adalah mama nya Zidan, istri dari tuan Argos, papa nya Zidan yabg sudah meningal, sejak meningal nya papa Argos, mama Lika tidak lagi tingal di mansion karena mengingat begitu banyak kenangan yang tak bisa di lupakan oleh nya di mansion, dan juga, kondisi tubuhnya kurang sehat jadi dia harus tingal di vila, atau lingkungan yang lebih sejuk agar kesehatan nya tidak terganggu.


Di sisi lain.


"Kak Alfa, aku senang akhirnya kita bisa makan malam bersama, dan juga jalan-jalan."Ucap Maya.


"Ya."Jawab Alfa singkat.


"Kak, ada apa? Mengapa kau begitu cuek dengan ku?"Tanya Maya memasang wajah polos nya.


"Maya, aku ingin bertanya, apa benar aku melakukan itu kepada mu? Setahu ku, aku hanya masuk ke dalam kamar ku setelah itu pingsan."Jelas Alfa.


Maya terdiam, wajah nya mulai terlihat sangat panik, dan pucat setelah mendengar apa yang di ucap oleh Alfa barusan. Namun, yang namanya seekor ular, tentu bisa berbelit-belit dengan mudah mencari alasan dan bersandiwara.


"Hikss, kak, apa kau masih tidak percaya? Kau melakukan itu kepada ku, di malam itu, saat mengingat nya aku benar-benar sangat menderita jika aku terus ingat ini."Lirih Maya berhenti makan makanan nya dan mulai menangis.


Orang-orang di dalam restoran itu terlihat sangat perihatin dengan wajah sedih Maya.


"Sudah, sudah jangan menagis, aku minta maaf, aku benar-benar minta maaf, aku percaya aku percaya pada mu."Ucap Alfa lagi.


"Kak, aku mohon jangan meragukan hal ini lagi, aku benar-benar trauma jika harus mengingat nya."Ucap Maya.


"Baik, ayo makan dan lupakan apa yang tadi aku ucapkan."Tutur Alfa yang saat itu begitu bodoh dan selalu percaya atas apa yang di ucapkan oleh Maya.


Beberapa puluh menit pun berlalu.


Mereka kini selesai makan dan keluar dari restoran tersebut.


"Apa mau pulang sekarang?"Tanya Alfa.


Maya mengganguk kan kepala nya dengan bertingkah sok imut.


"Baik lah, ayo."Ucap Alfa yabg sedikit risih dan membuka kan pintu mobil untuk Maya.

__ADS_1


Maya pun masuk ke dalam mobil itu dengan senang hati, dia saat ini merasa jika dirinya di ratukan oleh Alfa.


Padahal dia belum tau, jika ratu yang sebenarnya belum bertidak.


Setelah masuk ke dalam mobil mereka pun pergi meningal kan restoran tersebut.


Sementara itu di mansion Argos.


"Aku bisa memakannya sendiri, tidak mau di suap."Ucap Fiona menolak Zidan yang saat ini ingin menyuapi nya bubur.


"Jangan membantah ku, ayo cepat, setelah itu kau minum obat."Ucap Zidan tampa ekspresi agar Fiona tidak menolak nya.


"Tapi aku tidak mau di suapi."Ucap Fiona lagi dengan raut wajah yang begitu mengemaskan.


"Lihat lah tangan mu yang seperti itu, apa kau bisa memegang mangkok bubur ini dan memakan makanan mu?"Tanya Zidan dengan kesal.


Fiona terdiam dan menatap tangan nya, hal ini membuat nya sadar jika apa yang di katakan Zidan sekarang itu benar.


"Emm, maaf."Lirih nya sedikit manyun.


"Ayo senyum lah, bubur ini enak."Ucap Zidan lagi.


"Pintar."Ucap Zidan setelah satu suap bubur masuk ke dalam mulut Fiona. Begitu lah seterusnya, Zidan benar-benar memberikan semua pergantian nya kepada Fiona.


Namun tiba-tiba, ponsel Zidan bergetar, menandakan ada sebuah panggilan masuk.


"Sebentar, aku angkat telpon dulu."Tutur Zidan yang kemudian menaruh mangkok bubur ke atas nakas dan kemudian berdiri dari duduknya.


Zidan berjalan menuju balkon kamar yang terbuka, dia mengambil ponsel dari saku celana nya dan melihat nomer telpon yang menelpon nya. Itu adalah nomer telepon vila, Zidan pun buru-buru mengangkat telpon tersebut.


Call on.


"Hallo."lirih Zidan memelan kan suaranya.


"Maaf menganggu malam-malam begini tuan muda, tapi nyonya lah yang meminta saya untuk menelpon tuan muda."Tutur pelayan villa di sebrang telpon.

__ADS_1


"Ya, ada apa dengan mama?"Tanya Zidan tudepoin.


"Nyonya baik-baik saja, akan tetapi dia seperti nya sedang memikirkan tuan muda, karena beberapa hari ini tuan muda belum datang menjenguk nya."Ucap pelayan tersebut.


"Begitu, bilang kepada mama akhir akhir ini aku sangat sibuk, besok pagi aku akan datang ke vila untuk menjenguk nya."Ucap Zidan lagi.


"Baik lah tuan, nyonya pasti akan sangat senang."Ucap pelayan.


"Baik, kalau begitu aku tutup dulu."Tutur Zidan yang kemudian mematikan telepon secara sepihak.


Call off.


"Heem."Kode Fiona yang saat ini sudah berdiri di belakang Zidan.


Zidan yang mendengar itu pun berbalik dan melihat ke arah Fiona.


"Sejak kapan kau berdiri di belakang ku? Apa yang kau lakukan? Kau sedang sakit ayo cepat kembali ke kasur."Ucap Zidan yang hendak membopong Fiona kembali ke kasur.


"Tidak, aku tidak mau,aku ingin di sini, aku ingin melihat mama ku."Tutur Fiona kepada Zidan dan menatap bintang-bintang yang begermerlapan di malam itu terlihat sangat indah dari atas balkon kamar.


"Tapi kau akan masuk angin jika berdiri di sini, apalagi kau sedang sakit."Jelas Zidan.


"Jangan terlalu khawatir,aku baik-baik saja, di dalam juga cukup panas."Jelas Fiona agar Zidan tidak marah dengan nya.


"Baik lah, kalau begitu,aku akan menemani mu di sini, sampai kau masuk lagi ke kamar."Ucap Zidan yang kemudian berjalan menuju kursi yang memang terletak di balkon.


Sementara itu Fiona hanya tersenyum sekilas dan kemudian menatap langit sambil tersenyum.


"Mama, lihat lah betapa menderitanya aku sekarang, tapi aku kuat, di sisi ku ada orang-orang baik, meksi papa sudah membuang aku, setidaknya aku berada dalam lingkungan yang sangat baik, aku berjanji tidak akan menyerah sampai di sini ma, aku akan merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milikku."Ucap Fiona seolah bercerita kepada sang mama sambil menatap langit dengan mata indah nya yang saat ini sedang menyimpan begitu banyak air mata duka.


Zidan yang melihat itu ikut sedih, karena wanita yang di cintai nya berada dalam kesulitan yang begitu besar.


Zidan pun berdiri dan kembali menghampiri Fiona, berdiri di samping Fiona sambil merangkul nya.


"Jangan sedih, ada aku, ayo ungkap kan apa pun yang ingin kau ungkap dengan mama mu, aku yakin di atas sana dia mendengar semua keluhan mu, dia juga pasti sangat bangga karena anak semata wayangnya begitu kuat."Ucap Zidan menguatkan hati Fiona.

__ADS_1


Fiona tersenyum, meskipun terlihat Ndari sorot matanya dia benar-benar menyimpan begitu banyak luka.


Bersambung ....


__ADS_2