
Fiona tersenyum, meskipun terlihat Ndari sorot matanya dia benar-benar menyimpan begitu banyak luka.
"Aku baik-baik saja, tidak begitu sedih seperti sebelumnya, aku harus bangkit dan kembali merebut semua yang menjadi hak ku sebagai putri tunggal keluarga Robert."ucap Fiona dengan teguh.
"Aku percaya pada mu."Ucap Zidan lagi.
Perlahan Zidan dan Fiona sudah mulai dekat, mereka lebih terlihat seperti adik dan kakak, namun beda dengan hati Zidan, dia benar-benar mencintai Fiona.
"Oh iya, aku ingin bertanya kepada mu, apa kau mau ikut dengan ku ke vila besok?"Tanya Zidan mengalihkan pembicaraan mereka.
"Ke villa? Bertemu dengan mama mu?"Tanya Fiona lagi.
Zidan mengangguk kan kepala nya.
"Boleh, aku juga sudah bosan tidak keluar dari sini dalam beberapa hari."Jelas Fiona.
"Baik lah, kalau begitu sekarang kita tidur."ucap Zidan kepada Fiona.
"Kita? Tidur?"Tanya Fiona menatap Zidan sedikit mendongak karena Zidan terlalu tinggi untuk nya.
"Ya, eh maksud ku, aku tidur di sofa dan kau di kasur."Ucap Zidan mengaruk kepala yang tidak gatal.
Fiona pun tersenyum cangung dan kemudian berjalan meningal kan Zidan sendiri di balkon dan pergi ke kamar.
"Hey tunggu!"Ucap Zidan kepada Fiona.
Namun Fiona tidak mempedulikan nya, dia naik ke ranjang dan segera menyelimuti dirinya dengan selimut.
"Kau benar-benar akan segera tidur?"Tanya Zidan lagi.
Fiona menjawab pertanyaan itu dengan sebuah anggukan.
"Baik lah, good night."Ucap Zidan yang kemudian pergi ke sofa yang tidak jauh dari ranjang.
Karena Fiona sedang sakit, Zidan memilih untuk menemani nya tidur di dalam kamar saja, meskipun dia menempati sofa.
Malam pun semakin larut, kini Fiona dan juga Zidan sudah berada di dalam mimpi mereka masing-masing.
Keesokan harinya.
Fiona tidur begitu nyenyak, akan tetapi dia terus bergulir seperti kelereng di atas ranjang king size itu, entah ini memang khas nya tidur seperti itu atau tidak Zidan pun tidak mengerti, yang jelas Zidan ikut kebingungan saat melihat Fiona yang tidur dengan bergulir, bahkan sekarang dia sudah hampir jatuh dari ranjang nya.
__ADS_1
"Astaga!"Kaget Zidan yang saat itu masih duduk di sofa karena dia juga baru bangun.
Zidan kaget saat melihat Fiona yang sedikit lagi hampir jatuh, hal itu membuat Zidan reflek dan buru-buru membaringkan dirinya di bawah ranjang tepat di sisi ranjang yang di atasnya ada Fiona yang hampir terjatuh.
Brukh ...
Ya bukan hampir lagi, lebih tepatnya Fiona benar-benar terjatuh dari ranjang, tepat nya di atas tubuh Zidan. Tubuh mungil itu kini berada dalam dekapan Zidan.
"Astaga dia membuat sesuatu bangun."Lirih Zidan terlihat menahan sesuatu.
Sementara Fiona yang kepalanya terbentur dagu Zidan tentu saja bangun dan alangkah kagetnya dia karena saat ini posisi tubuhnya sudah berada di atas tubuh Zidan.
Saat ini lah mata keduanya saling beradu pandang, saling menatap satu sama lain.
"Bangun tidur saja masih cantik."Batin Zidan.
"Tampan."Batin Fiona yang memang sudah sedikit terpikat akan ketampanan Zidan.
"Astaga kau berat juga."Ucap Zidan kepada Fiona.
"Umhhh, maaf, maaf kan aku, aku turun sekarang."Ucap Fiona dengan tampang lugu nya berusaha turun dari tubuh Zidan.
Namun belum sempat dia bergerak, Zidan malah melingkar kan tangan nya ke pingan Fiona, sehingga Fiona tidak bisa bergerak.
"Sakit?"Tanya Zidan tanpa rasa bersalah membuat wanita yang ada di atas tubuh nya kini merasa tidak nyaman.
"Tangan ku yang sakit."Ucap Fiona lagi.
"Boleh aku minta sesuatu?"Tanya Zidan kepala Fiona.
"A,apa?" Ucap Fiona yang berfikir jika Zidan sedang meminta hal-hal tidak baik.
"Boleh kah kau memelukku?"Tanya Zidan lagi.
Fiona sedikit terkejut dengan permintaan Zidan barusan, tapi saat dia mengingat jika Zidan mengatakan wajah nya mirip dengan adik nya, Fiona pun tampa ragu-ragu memeluk nya dan membenamkan wajahnya di dada bidang Zidan.
"Apa begini bisa membuat mu tidak merindukan adik ku lagi?"Lirih Fiona.
Zidan menjawab nya dengan sebuah anggukan kecil.
Lima menit pun berlalu, mereka pun menyudahi nya dan sama-sama bangun.
__ADS_1
"Kau jangan bergulir lagi, jika aku tidak melihat mungkin kau akan terkena patah tulang."Ucap Zidan memberikan peringatan kepada Fiona.
"Hehe, aku minta maaf, ini sering terjadi di mansion tapi aku tidak patah."Jawab Fiona sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Yasudah, sekarang mandi lah terlebih dahulu, lalu siap-siap, aku akan mandi di kamar mandi lantai bawah, kita akan ke villa setelah itu."Ucap Zidan kepada Fiona.
"Baik lah."Jawab Fiona dengan patuh nya.
Setelah mendengar kan kata iya dari Fiona, Zidan pun berjalan keluar dari kamar itu untuk mandi di kamar mandi lantai bawah, sedang kan Fiona mandi di kamar mandi itu.
"Ya Tuhan, tolong jangan buat aku deg-degan seperti ini, aku tidak sanggup, dia memang begitu perhatian dan tampan, tapi dia itu baik kepada ku karena aku mirip dengan adik nya, bukan hal lain."Umpat Fiona kepada dirinya sendiri.
Sementara itu di lantai bawah mansion.
"Boss muda, hari ini akan ke villa nyonya?"Tanya Romi yang sudah siap-siap dari tadi.
"Ya, tapi kita bawa Fiona."Tutur Zidan.
"Apa? Nona Fiona ikut? Apa anda tidak takut nyonya kenal dan mengatakan apa-apa kepada nona Fiona?"Tanya Romi kebingungan dengan keputusan Zidan.
"Kau tidak perlu khawatir, terakhir mama bertemu dengan nya itu saat SMP, dan mana mungkin mama akan mengenali nya sekarang."Ucap Zidan dengan yakin.
"Hmm, baik lah, jika terjadi hal yang tidak boss muda ingin kan aku tidak akan bertanggung jawab."Jelas Romi kesal.
"Diam lah, atau aku akan memakan mu."Tutur Zidan yang kemudian berlalu meningal kan Romi.
"Dasar keras kepala, tidak ada yang bisa membuat dia menunduk kecuali nona Fiona."batin Romi sambil menggeleng kepala pelan.
Satu jam kemudian.
Kini Fiona, Zidan dan juga Romi sudah berada di dalam mobil mereka akan segera berangkat ke vila sang mama yang berjarak cukup jauh dari mansion karena villa mama Lika berada di tempat yang sebegitu pekat akan alam nya.
"Boss muda, bernagkat sekarang?"Tanya Romi yang saat ini sudah duduk di kursi kemudi mobil.
"Tahun depan."Jawab Zidan.
Seketika Fiona dan Romi saling pandang.
"Ya sekarang lah."Ucap Zidan lagi.
Sungguh kali ini Zidan benar-benar membuat Romi kesal, tapi biar bagaimanapun Zidan adalah bisa muda nya, sifat nya pun sudah di ketahui dengan jauh oleh seorang Romi.
__ADS_1
Bersambung ....