Dua Pewaris Tunggal

Dua Pewaris Tunggal
Part 19


__ADS_3

Sungguh kali ini Zidan benar-benar membuat Romi kesal, tapi biar bagaimanapun Zidan adalah boss muda nya, sifat nya pun sudah di ketahui dengan jauh oleh seorang Romi.


"Sudah sudah, jangan berisik lagi, bukan kah sekarang kita akan pergi? Ayo cepat, sebelum cuaca buruk."Ucap Fiona menjadi penengah di antara dua manusia yang sedang bertengkar ini.


"Baik nona muda."Ucap Romi sambil tersenyum.


Romi pun menyalakan mesin mobil nya dan kemudian melaju meningal kan mansion.


"Apa yang kau senyumi itu?" Tanya Zidan kesal.


Seketika Romi mengubah wajah nya menjadi datar.


Sementara itu Fiona hanya bisa tersenyum melihat tingkah Zidan yang sangat sensitif.


Sungguh Fiona merasa sedikit terhibur karena berada di sisi dua orang ini.


"Romi, jangan lupa berhenti di restoran biasa, aku belum sarapan."Ucap Zidan kepada Romi.


"Baik boss muda."Ucap Romi sambil fokus menyetir.


Setelah lima menit berlalu, Romi pun memberhentikan mobilnya di depan sebuah restoran.


"Kita makan dulu."Ucap Zidan kepada Fiona.


Fiona mengangguk kan kepala nya, karena dirinya juga merasa lapar.


Mereka pun turun bersama untuk makan terlebih dahulu di restoran tersebut.


Sementara itu di sisi lain.


"Ma, kira-kira, di mana ya sekarang perempuan itu?"Tanya Maya kepada mama nya.


Saat ini mereka sedang melihat-lihat foto dekorasi pernikahan yang nantinya akan di pilih oleh Maya untuk dekorasi pernikahan nya.


"Sudah jangan memikirkan dia, kau kan sudah menjadi anak satu-satunya Robert sekarang, semua kekayaan Robert tentu akan menjadi milik mu, apa lagi yang kau pikirkan? Dia mungkin sudah mati tidak makan."Ucap Dewi dengan mata yang terus menatap tablet yang berisi foto dekorasi pernikahan.


"Ya sih, tapi aku penasaran, tidak ada sama sekali berita tentang dia."Tutur Maya.


"Iya juga ya, tapi sudah lah, jangan di pikir kan, selagi kita masih aman dan tidak ada yang menggangu kita tidak perlu membahas dia lagi oke, kau harus fokus, kau sebentar lagi akan menikah dan menjadi seorang istri."Ucap mama Dewi kepada anak nya.

__ADS_1


"Ya, ya aku mengerti apa yang mama ucap kan, ngomong-ngomong, di mana papa?"Tanya Maya kepada mama nya.


"Ada di kamar, mungkin sedang sakit-sakitan."Bisik mama Dewi ke telinga Maya.


"Semoga dia cepet mati ya ma."Ucap Maya dengan kejam nya.


"Ssst, pelan kan nada suara mu."Ucap mama Dewi kepada Maya.


Begitu lah dua orang luar yang sehari-hari nya hidup enak di mansion Robert dengan segudang akal jahat nya.


Sementara itu di kamar papa Robert.


Terlihat papa Robert yang duduk di kursi depan balkon kamar nya, dia terlihat sangat sedih, entah apa yang ada di pikiran nya saat ini, yang jelas wajah nya terlihat penuh rasa sesal.


"Fiona, apa yang kau lakukan? Mengapa kau membuat papa kecewa kepada mu, kau membuat papa marah, dan melakukan hal bodoh ini, tapi di mana kau sekarang? Papa merindukan mu, tidak ada yang bisa menemukan mu."Batin papa Robert.


Ya sejak kepergian Fiona, papa Robert jadi lebih sering merenung dan murung, ya sebagai seorang anak dan ayah, dia tentu tidak benar-benar memutuskan tali darah nya antara dirinya dan anak nya Fiona, saat marah semuanya bisa terucap tapi setelah semuanya terjadi ya akan penuh dengan penyesalan.


Namun di sisi lain.


Setelah selesai makan, Fiona, Romi dan juga Zidan kembali melanjutkan perjalanan mereka.


"Aku sudah menyiapkan nya di bagasi."Ucap Zidan dengan santai nya.


"Ohh."Jawab Fiona singkat.


Berjalan pun terus berlanjut dengan lancar, semakin jauh perjalanan semakin sepi keadaan dalam mobil, tidak ada satu pun dari mereka yang ingin angkat bicara, hingga dua jam pun berlalu.


Kini mereka sudah tiba tepat di depan sebuah villa, vila yabg cukup besar, namun sekeliling nya penuh dengan pohon-pohon hijau, di belakang villa itu juga terlihat gunung yang cukup tinggi menjulang, terlihat sangat jelas meskipun jarak nya cukup jauh.


"Wahh, indah sekali, ini sangat indah, benar-benar suasana yang selama ini aku impikan!"Teriak Fiona berlari-lari di halaman villa.


Sementara itu Romi dan Zidan saling pandang dan mengerutkan kening mereka.


"Boss, dia tidak pernah melihat suasana perkampungan?"Tanya Romi menatap wajah Zidan.


"Dia tidak pernah keluar terlalu jauh dari mansion nya Romi, dia adalah anak semata wayang milik Robert."Jelas Zidan kepada Romi.


"Jika Robert sesayang itu kepada nya, mengapa dia membuang nya?"Kembali lagi Romi mengajukan pertanyaan.

__ADS_1


"Kau pasti tidak tau, betapa rindunya Robert sekarang kepada anak nya itu, sudah jangan banyak tanya, jaga dia, aku akan masuk ke villa untuk menemui mama."Ucap Zidan meningal kan Romi yang masih berdiri tegak tidak jauh dari mobil nya.


Karena Fiona masih asik menikah suasana depan villa, Zidan pun masuk sendiri ke dalam villa, dia tidak ingin mengangu Fiona yang sedang menikmati kebahagiaan nya dan melupakan sejenak masalah dalam hidup nya.


"Nona Fiona sangat cantik, baik, pantas saja sejak SMP boss muda sudah sangat tergila-gila kepada nya."Batin Romi sambil menatap Fiona yang sedang menikmati suasana indah itu.


Sementara itu di dalam villa.


"Nyonya! Nyonya! Tuan muda sudah datang!"Teriak pelayanan mama Lika.


"Astaga, kau ini, mengapa begitu heboh, dia datang bukan baru sekali ke villa."Ucap mama Lika lagi.


"Bukan nyonya, bukan itu yang aku heboh kan, tapi ada yang lebih heboh lagi!"Ucap pelayan tersebut.


"Iya, tapi apa? Ayo katakan kepada ku."Ucap mama Lika malah ikut penasaran.


"Anu, anu itu, tuan muda, dia datang dengan seorang perempuan cantik!"Ucap pelayan tersebut histeris.


"Apa?"Kaget mama Lika.


"Mama."Lirih Zidan yang sudah masuk ke ruang tengah mencari keberadaan sang mama.


"Zidan."Ucap mama Lika menoleh menatap Zidan.


"Ma."Ucap Zidan lagi yang memeluk mama nya yang sedang duduk di kursi roda.


"Sayang, ada apa ini? Kau terlihat tidak seperti biasanya? Ada sorot yang agak sedikit aneh dari biasa nya."Goda sang mama yang memegang wajah putra nya.


"Ma, aku datang membawa seseorang."Ucap Zidan sambil tersenyum kepada sang mama.


Mama Lika menatap wajah pelayanan nya, dan kemudian kembali menatap wajah sang anak dengan senyum yang mengembang.


"Lalu di mana dia? Ayo tunjukkan kepada mama."Ucap mama Lika antusias.


"Ayo ma."Ucap Zidan yang kemudian mendorong pelan kursi roda nya dan kemudian berjalan menuju pintu keluar villa.


Sementara itu Romi benar-benar lelah mengawasi Fiona yang ke sana sini, di halaman depan villa, dia bahkan masuk ke dalam perkebunan jeruk samping villa.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2