Dua Pewaris Tunggal

Dua Pewaris Tunggal
Part 33


__ADS_3

Sementara itu di sisi lain.


"Terima kasih, hari ini kau benar-benar membuat aku puas, sudah bisa melawan mereka."Ucap Maya kepada Zidan.


"Aku juga bahagia, melihat kau bahagia."Ucap Zidan sambil memegang pipi Fiona.


Fiona tersenyum menatap Zidan, begitu juga sebaliknya.


Perlahan Zidan semakin mendekat kan wajah Nya ke wajah Fiona, hal ini membuat Fiona semakin berdebar, dia tau apa yang akan di lakukan Zidan saat ini, namun rasanya dia sangat engan untuk menolak.


Akan tetapi, saat bibi Fiona dan bibir Zidan hambir bersentuhan, telpon yang ada di saku celana Zidan pun berdering.


Hal ini membuat keduanya sadar dan gugup.


"Fiona,aku angkat telpon sebentar, masuk lah ke kamar mu dan Istirahat,kau pasti lelah."Ucap Zidan lagi.


"Emm, baik lah."Jawab Fiona yang kemudian berjalan masuk ke dalam kamar nya.


Sementara itu Zidan mengangkat panggilan telepon tersebut.


Call on.

__ADS_1


"Halo, tuan, aku sudah menemukan informasi penting tentang mendiang mama nya nona Fiona."Ucap seseorang di sebrang telpon.


"Apa? Bagaimana? Bisa kau menjelaskan kepada ku sekarang?"Tanya Zidan lagi.


"Ini hal yang cukup penting tuan, bisa kah kita bertemu sekarang di lokasi xx?"Tanya anak buah Zidan yang ada di sebrang telpon.


"Baik lah, aku akan ke sana sekarang, tunggu aku."Ucap Zidan mematikan telepon secara sepihak dan kembali memasukkan terlapon tersebut ke dalam saku celana nya.


Setelah itu Zidan pun buru-buru keluar dari mansion dan masuk ke dalam mobil nya.


Malam harinya.


"Maaf, kepala pelayan, di mana Zidan?"tanya Fiona kepada kepala pelayan mansion.


"Aku tidak tau nona, tapi tadi aku melihat tuan muda pergi dengan mobil nya."Jawab si kepala pelayan.


"Baik lah terima kasih."Jawab Fiona dan hendak beranjak pergi dari ruang makan tersebut.


"Nona, makan malam dulu."Ucap kepala pelayan itu menghentikan Fiona yang hendak pergi dari sana.


"Tidak usah, aku akan makan dengan Zidan nanti."Jawab Fiona yang kemudian meningal kan ruang makan tersebut dan pergi ke ruang tengah mansion untuk menunggu Zidan kembali sambil menonton televisi.

__ADS_1


Beberapa jam pun berlalu, namun Zidan tidak kunjung pulang ke mansion.


"Di mana dia? Mengapa jam segini masih belum kembali? Pergi juga tidak bilang, membuat orang khawatir saja."Batin Fiona sambil beberapa kali menatap jam yang melingkar di pergelangan tangan nya.


Sudah beberapa kali dia menguap menahan rasa ngantuk yang menyerang nya, namun Fiona masih tidak masuk ke kamar karena ingin menunggu Zidan.


"Nona, sudah larut, sebaiknya nona tidur saja, nanti jika tuan muda Zidan kembali, dia pasti akan membangun kan nona."Ucap kepala pelayan merasa khawatir karena Fiona malah begadang menunggu Zidan.


"Iya bi, tidak apa-apa aku akan tidur di sini."Ucap Fiona lagi.


Tidak lama setelah mengatakan itu, Fiona benar-benar ketiduran, kepala pelayan pun senantiasa menjaganya agar tidak jatuh dari sofa itu.


Selang satu jam berlalu, Zidan pun akhirnya pulang dan melihat Fiona yang sedang tidur di atas sofa ruang tengah mansion.


"Bi, ada apa dengan nya? Mengapa dia tidur di sana?"Tanya Zidan menghampiri kepala pelayan.


"Nona muda bersikeras untuk menunggu tuan muda kembali, dia bahkan tidak makan malam, mungkin sedang khawatir."Ucap kepala pelayan.


Zidan yang mendengar itu merasa bersalah karena tidak ijin terlebih dahulu saat pergi tadi sore.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2