Duda Somplak VS Bocah Tengil

Duda Somplak VS Bocah Tengil
21. Tante Linda salah jalur


__ADS_3

Keesokan paginya. Key seperti biasa, Key bangun pagi dan membantu mertuanya di dapur.


Hoammm.


"Key, sepertinya kamu masih ngantuk?" tanya Tante Linda pada Key.


"Key emang masih ngantuk Ma, Om Brian semalam ngajakin gelut di atas kasur. Makanya ini mata sampai sekarang masih seperti kena perekat," terang Key pada Tante Linda.


Ekspresi tak biasa yang diperlihatkan oleh Tante Linda, membuat Key menatap aneh, dan berpikir jika Tante Linda tengah membayangkan hal yang sangat menyerukan.


"Kenapa dengan mertuaku ini?" dalam hati Key bertanya-tanya karena Tante Linda terlihat senyum-senyum sendiri.


"Ma, Mama gak lagi demam kan. Soalnya dari tadi Key lihat Mama terus tersenyum," ucap Key pada Tante Linda.


"Eh kamu Key, membuat lamunan Mama buyar saja." Tante Linda langsung menjawab perkataan Key, karena tadi sempat mendapat tepukan lembut di tangannya.


"Lagian Mama, orang Key sebel malah senyum-senyum kaga jelas." Key merenggut saat Tante Linda malah berkata jika Key tengah mengganggunya.


"Emang kamu gelut macam mana, sampai kekurangan tidur?" tanya Tante sedikit kepo dengan urusan Key.


"Om Brian gak mau ngalah, dan minta tetep di atas. Sedangkan Key mau Om Brian yang ada di bawah," kata Key menjelaskan.


"Lho, kan memang harusnya kamu yang ada di bawah Key, dan Ian ada di atas." Tante Linda menimpali dengan sesekali tangannya mengaduk minuman.


"Mama gak seru ah, masa ia perempuan yang harusnya ngalah!" sungut Key tak terima jika mertuanya lebih mementingkan anaknya, dibanding tanggung jawabnya Brian kepadanya.


"Lho, kamu kok marah. Mama juga dulu di bawah Key, dan Papa yang ada di atas." Lagi-lagi Tante Linda membela Brian, dan tak memperbolehkan anak lelakinya ada di bawah.

__ADS_1


"Duh, kok bahas nya dalam amat yah." Key sedari tadi berpikir jika di setiap jawaban yang diberikan oleh mertuanya sedikit melenceng, dari pembahasan.


"Seriusan, terus Papa sampai sekarang di bawah gitu, Ma?" Key sedikit penasaran lantas melanjutkan obrolan yang sudah melenceng jauh itu.


"Kadang-kadang saja Key, tapi yang sering Papa di atas, karena Mama sudah tua jadi tidak cukup tenaga kalau terus di atas." Jawab Tante Linda dengan wajah malu-malu.


"Berarti Mama tetep tidur di bawah ya, dan Papa tidurnya di atas gitu?"


Duh, mampus kan Tante Linda sudah salah jalur.


"Ja-di yang kamu maksud itu tidur di bawah Key, bukan anu-anu?" ujar Tante Linda yang tak sanggup menahan malu karena sudah berbicara, yang mengarah ke hal dewasa.


"Lha emang Mama pikir apa! Key berantem karena hal itu. Om Brian tidak mau ngalah, lalu maksud Mama anu-anu apa sih Key sama sekali tidak mengerti." Key semakin dibuat bingung dengan ucapan Tante Linda, dan Key juga membicarakan soal tempat tidur bukan hal lainnya.


"Astaga! Jadi Key tidak sedang membahas kikuk-kikuk. Apa aku yang terlalu bersemangat?" Tante Linda merasa malu karena sudah salah tanggap.


"Iya Ma, dan Om Ian gak mau ngalah sama Key." Jawab Key mengadu.


"Kamu tenang saja, biar Mama biar kasih pelajaran nanti, kamu sekarang lebih baik minum teh hangat saja dulu." Lantas Tante Linda langsung memberikan cangkir pada Key.


............


Sarapan sudah siap. Brian atau pun Papa Axsel sudah siap dengan tas kantornya.


"Waw ... tampan," puji Key tanpa sadar.


"Saya memang tampan, usahakan air liur itu tidak jatuh." Brian tersenyum puas karena pada akhirnya bisa mengejek Key.

__ADS_1


"Memangnya aku bicara seperti itu? Aku rasa Om sepertinya perlu servis itu kuping. Biar pendengarannya semakin jelas," kata Key yang tak mau jika dirinya memang sengaja memuji Brian.


"Kamu kira telinga saya tuli! Kamu bilang kalau saya tampan kan, sudah deh jangan berbelit." Brian yakin jika Key bilang kalau dirinya itu 'Tampan' dan ia rasa tidak ada yang salah dengan pendengarannya.


"Wahai Tuan, anda terlalu percaya diri." Setelah berkata, Key langsung pergi karena tidak mau meladeni ucapan Brian. Yang nantinya akan mengundang pertengkaran.


"Dasar bocah," kata Brian yang tak lagi bisa membalas dendam.


Beberapa detik kemudian.


Keluarga Axsel sudah berada di meja makan, dan Brian pun sudah siap dengan apa yang akan disampaikan olehnya. Perihal dirinya yang akan pindah, di rumah pribadinya.


"Ma, Pa. Ada yang ingin aku katakan," ucap Brian dengan keduanya tangan menyangga dagu.


"Memangnya apa yang ingin kamu sampaikan, dan sepertinya sedikit serius?" tanya Tante Linda menatap Brian dengan sangat intens.


"Apa yang akan kamu katakan, apa ada hal serius dengan usaha yang kamu rintis?" tanya Papa Axsel ikut menimpali. Sedangkan Key hanya diam cukup menyimak obrolan mereka.


"Begini Pa, Ma. Aku rencananya nanti sore akan pindah di rumah yang setahun lalu aku beli," ujar Brian yang tak pernah jujur soal rumah tersebut, jadi dipastikan jika Tante Linda dan Papa Axsel tidak tahu akan hal itu.


"Sejak kapan kamu berbohong pada kami, Brian?"


"Bukan maksud aku bohong Ma, hanya saja memang tidak ingin kalian tahu karena rumahnya juga masih tahap renovasi, dan minggu kemarin beru selesai." Brian dengan perlahan mencoba menjelaskan akan alasan, kenapa sampai tidak memberitahu soal rumah tersebut.


"Baiklah, lantas kapan kamu pindah, apa tidak sebaiknya di sini saja? Apa kamu tega meninggalkan kita berdua?" ucap Tante Linda sedikit tidak rela jika Brian keluar dari rumah tersebut.


"Oh ya, tapi Papa juga sedang ingin mengatakan sesuatu. Papa harap juga kalian bisa menerimanya?" ujar Papa Axsel dengan tatapan serius.

__ADS_1


__ADS_2