
Brian hanya bisa diam. Menyaksikan bungkus snack yang berserakan, di samping itu ia tak menyangka jika ucapan Key telah membuatnya sadar. Kalau selama menikah dirinya belum memberikan uang bulanan pada Key.
"Key, makanlah ini dulu. Lepas itu ada hal yang ingin saya bicarakan," kata Brian yang memberikan makanan itu pada Key.
"Apa ini Om, sepertinya enak karena begitu harum?" tanya Key antusias, layaknya anak kecil yang baru saja menerima makanan.
"Om." Seketika Brian berhenti untuk melangkah karena Key tengah memanggil namanya.
"Ada apa, Key." Brian menoleh dan langsung menimpali panggilan tersebut.
"Ini kalau para Buto tahu. Pasti marah karena namanya dibuat es," ujar Key dengan tampang polosnya.
"Allahuakbar ini anak," gerutu Brian dengan tangan berada di kening.
"Bagaimana tidak, ini es yang berwana ijo dan kenapa nama Buto ijo yang harus jadi sasarannya!" kata Key dengan tatapan serius pada cup yang ia pegang.
"Key, jangan bicara aneh-aneh." Brian mendengus sebal saat istri kecilnya itu membicarakan soal hantu dengan kulit khas.
"Bukan aku yang aneh Om, tapi yang jual gak nemu nama. Makanya nama demit di pakai dan coba deh kalau yang punya nama tahu, kan berabe."
Seketika Brian menelan ludahnya dengan kasar, niat hati ingin mandi ternyata Key sudah lebih dulu membuat kulitnya merinding, dengan kata-kata yang tak ingin didengar oleh Brian.
"Key, tinggal minum apa susahnya sih!" ucap Brian yang mencoba mencairkan suasana agar Key, tidak lagi membahas soal hantu menakutkan itu.
"Bisa sih Om, tapi yang jual itu lho, sangat keterlaluan banget dan juga ...."
__ADS_1
Lap.
Huaaaaaaaa.
"Keyyyy ... lontong!"
"Eh maksudnya tolong!"
Brian berteriak histeris saat lampu tiba-tiba padam. Bertepatan dengan sebuah ucapan Key barusan.
"Apa-apaan sih Om, kayak anak kecil saja!" Key justru merasa risih saat Brian mencoba mencari perlindungan layaknya seorang anak.
"Semua ini gara-gara kamu tahu gak, coba saja kalau tadi kamu gak sebut ... itu hantu," ujar Brian dengan suara yang sudah ketakutan.
Prank
Brakh.
Huaaaaaa.
"Ommm ... sakit!" teriak Key dengan sangat keras.
"Dasar sialan, Om sengaja ya, buat aku patah tulang!" cercah Key lagi.
"Ma-maf Key, saya tidak tahu." Jawab Brian.
__ADS_1
"Dasar penakut, makanya nyali di gedein jangan cuma ototnya!" seru Key yang terlanjur marah.
Bagaimana tidak marah, saat mendengar suara barang jatuh yang diperkirakan dari arah dapur. Brian langsung meloncat tanpa tahu akan menimpa tubuh Key yang kecil, dan Key yakin itu adalah hewan keramat penunggu rumah.
"Kamu dari tadi kok ngeledek saya terus sih, memangnya saya ada salah apa sama kanu?" ujar Brian karena sedari tadi, Key terus sensitif pada Brian.
"Ucapanku benar, jangan merasa jika Om adalah orang tersalimi." Jawab Key dengan nada kesal.
"Ngomong saja belepotan, sok-sok'an marah."
"Terzalimi kali Key, gitu doang harus di tuntun!" ucap Brian membenarkan kosa kata Key yang salah.
"Bodoh amat." Key lantas berdiri dan berjalan hendak pergi ke kamarnya karena sudah ngantuk, harusnya sekarang ia makan. Akan tetapi, karena lampu sedang padam akhirnya memilih tidur .
"Key, kamu mau ke mana?" tanya Brian yang langsung memegang lengannya.
"Aduh Om, mau ke WC buat Pup. Mau ikut kah?" Key pun balas bertanya dan terlihat Brian menatap dengan wajah jijik.
Akhirnya Key berjalan dengan berdendang ria, tidak perduli dengan Brian yang sudah ketakutan.
"Key, tapi saya bagaimana?" Lagi, Brian kembali bertanya karena tidak mau ditinggal sendiri.
"Tidak, aku tidak mau sendiri. Nanti kalau benar si Buto ijo datang, tamat sudah riwayatku dan satu lagi. Aku juga belum merasakan makan kue serabinya Key, jadi aku gak mau di bawa." Diam-diam Brian tengah memikirkan hal konyol, yang tak akan membuat orang percaya. Bahwa tingkahnya tak patut di contoh.
"Key ... Keyla, tunggu saya!" dengan lutut gemetar Brian berusaha mencari keberadaan Key.
__ADS_1