Duda Somplak VS Bocah Tengil

Duda Somplak VS Bocah Tengil
42. Menunggu kepulangan Brian


__ADS_3

Malam harinya. Key terus saja menguap karena rasa kantuk yang tidak bisa ia tahan. Meski begitu, Key berusaha untuk tetap terjaga karena sudah ada niat untuk menunggu kepulangan Dirga.


Entah sampai berapa lama lagi Key menanti hingga sesekali kehilangan kesadaran, karena matanya tanpa diminta terpejam begitu saja.


Hufff.


Key berulang kali mengucek matanya dan terus memandangi jam yang terdapat di didinding.


"Sudah jam 10, kenapa om Ian belum juga pulang." Key dengan lesu bergumam, mencoba mengumpulkan nyawanya agar tetap bisa terjaga.


Hingga saat ini sudah jam 12 tengah malam. Belum ada tanda-tanda jika Brian akan pulang, entah butuh berapa jam lagi. Menurutnya menunggu terlalu lama itu akan membuatnya lelah, dan juga bosan.


Krieeet.


Sesaat, terdengar suara derit pintu. Yang diyakini jika itu adalah Brian dan sosok lelaku yang sedari tadi di tunggu-tunggu oleh Key.

__ADS_1


Benar saja, itu adalah Brian dan nampak terlihat dengan jelas wajah lelahnya. Meski begitu tidak mengurangi ketampanannya sama sekali, karena nyatanya Key tidak berhenti terus menatap suami bule nya itu.


"Key!" sapa Brian karena Key saat ini sedang terpesona oleh wajah sosok yang saat ini masih berdiri di hadapannya.


"Om." Seketika Key sadar dan menimpali sapaan dari Brian.


"Kenapa kamu belum tidur, apa kamu tidak melihat sekarang sudah jam berapa?" kata Brian karen tidak biasanya istri kecilnya itu, begadang dan entah karena apa Brian tidak tahu.


Ishh .


"Dasar tidak peka," gerutu Key karena Brian tak kunjung sadar jika Key tengah menanti kepulangannya.


"Saya kan tidak menyuruh kamu buat nungguin saya," ucap Brian dengan nada dinginnya.


"Harusnya aku tidur, dan gak nungguin Om, sangat menyebalkan!" pekik Key yang merasa sia-sia jika menunggunya dengan sangat lama. Terlebih lagi Brian tidaklah sadar dengan waktu yang dibuang oleh Key.

__ADS_1


"Owh, jadi kamu sedang menunggu saya, ya?" ujar Brian yang mulai rama dan tidak seperti tadi, terkesan kaku dan hal itu membuat Key sedikit tidak suka.


"Dasar manusia tidak punya perasaan, masa iya cuma gitu doang bilangnya." Saat Brian mendengar ocehan dari Key, membuat laki-laki itu merasa gemas.


"Tidurlah, besok masih ada waktu untuk bertanya." Ucapan Brian sontak saja menatap tajam ke arah suaminya.


"Memangnya kenapa kalau sekarang, apa Om takut jika bicara padaku? Pasti Om pulang dari club kan, jawab! Makanya pengen aku segera tidur." Jawaban Key lagi-lagi membuat Brian menghela nafas, merasa kesal akan tuduhan yang diberikan oleh Key, tapi ia juga tidak boleh berkata kasar karena memang. Setiap hari dirinya pulang tengah malam dan hal itu sah-sah saja, jika Key berpikiran seperti itu.


"Key, besok saya akan menjelaskannya. Sekarang kamu tidur, ya." Brian lantas memerintahkan agar Key segera tidur, hari kian larut dan tidak mungkin juga tengah malam harus diwarnai dengan keributan kecil.


Brian berusaha membujuk Key, karena lelaki itu sendiri sudah cukup lelah karena seharian terus bekerja.


Ckckck.


Brian berdecak, belum juga ada lima menit. Key sudah tertidur dengan dengkuran halus.

__ADS_1


"Belum juga lima menit, udah dengkur. Sepertinya boleh juga dibuat nakutin tikus," gumam Brian saat ini. Dengan senyuman kecil ia berbicara.


__ADS_2