Duda Somplak VS Bocah Tengil

Duda Somplak VS Bocah Tengil
7. Aku bukan bocah tengil


__ADS_3

Tidak mau berlama-lama untuk berdebat, mendahului sarapan nasi di pagi hari. Key langsung memakai sepatu olahraganya, dan bersiap untuk joging.


Kebetulan Key juga sudah janjian dengan Ayu, maka dari itu ia secepatnya langsung berangkat.


Di taman.


"Yu, maaf lama." Key dari arah kejauhan melihat Ayu yang tengah duduk di kursi panjang. Melihat hal itu Key buru-buru menghampiri dengan sedikit berlari.


"Sama, aku juga baru nyampe." Jawab Ayu yang menimpali ucapan Key.


"Ya sudah, yuk jalan."


Key pun langsung mengajak Ayu untuk memulai aktivitas di pagi hari yang sudah lama tidak dilakukannya, maka hari ini pun mereka berdua lakukan, ditambah keduanya mendapat shift sore.


"Key, aku haus. Kamu tunggu di sini ya, aku mau beli minuman dulu." Ayu yang tengah kehausan dan lupa tidak membeli minum. Lantas langsung berpamitan pada Key dan menyuruhnya untuk menunggu sampai dirinya kembali.


"Ya sudah, sana!" kata Key yang menyuruh Ayu untuk segera berangkat.


Key yang saat ini tengah bermain ponsel. Sembari menunggu Ayu, namun dikagetkan dengan suara laki-laki yang berada tepat di depannya.


"Eh ada bocah tengil!" seru pria itu.


Key tak ingin membuat masalah dan memilih diam untuk sementara, sampai batas kesabarannya habis.


"Hye bocah tengil, jangan pura-pura gak denger ya!" seru lelaki lagi.


"Berisik," sentak Key karena merasa tidak ada urusannya dengan pria yang tengah berdiri di depannya.


"Kan bisa jawab, kenapa pura-pura tuli?" kata pria dengan usia berbeda jauh dari Key.


"Kamu bisa diam kaga, dasar Om-om gak waras!" pekik Key yang mulai tersulut emosi.


"Hye, kalau ada orang tua bicara itu yang sopan. Lagian kapan saya nikah sama Tante kamu! Sampai saya harus dipanggil 'Om' ckckck, dasar menyebalkan," lelaki yang pernah bertemu Key beberapa hari lalu, kini keduanya kembali dipertemukan. Tidak pernah akur dan pasti ada saja yang membuat keduanya selalu berdebat.


" Bodoh! Lagian kenapa pula Om ada di sini, yang ada nanti Key dikatai Pelakor sama orang-orang. Soalnya Om nempel sama sama aku terus," Key pun berkata dengan tatapan tidak suka. Bukan hanya itu, tapi Key juga takut jika dirinya ada yang mengira bahwa Key seorang penyuka Om-om.


"Hye bocah tengil. Saya itu tidak punya istri, lagian siapa juga yang mau deketin kamu!" ujar lelaki itu pada Key, dengan sesekali mengusap lehernya dengan handuk kecil yang dia bawa.


"Om bertanya-tanya, tapi saya tidak bertanya." Key lalu berdiri dan meninggalkan Om-om yang sangat mengganggunya, dan berusaha untuk menghindar, karena setiap bertemu dengan lelaki tersebut. Pasti akan ada kesialan yang menghampirinya.


Benar saja, belum ada lima langka. Dua pria tersebut langsung menghadangnya.

__ADS_1


"Hye cantik, semalam berapa tarifnya?" suara dari depan mampu membuat Key langsung berhenti, dan mengernyitkan dahinya.


"Hye, kami berbicara sama kamu. Jangan-jangan kamu tuli ya, makanya butuh uang sampai mau sama Om-om. Kita juga masih muda lho kenapa gak sama kita saja," ucap salah satu dari dua lelaki tersebut. Dengan kurang ajarnya mereka mengatakan jika Key adalah simpanan Om-om.


"Apa maksud kalian?" Key mendongak dan meremas ujung bajunya karena berusaha untuk tidak emosi.


Sedangkan Brian ingin menghampiri dan memberi pelajaran bagi dua pria yang kurang ajar tersebut. Sebelum itu Key sudah memberi isyarat pada Brian. Agar dirinya tak ikut campur dalam urusannya.


"Aku berbicara serius, kenapa kau tak dengar. Kita bisa kok menyenangkan kamu, meski tidak juga dengan Om-om." Dua lelaki itu pun tetap berbicara yang tidak pantas terhadap Key. Seolah-olah dirinya memang gadis tidak benar.


"Tuh kan, apes lagi." Key membatin dan sangat menyesali akan pertemuannya dengan Om-om tadi, karena tanpa disadari bahwa semua itu mengundang hal negatif.


"Baiklah, aku akan menuruti ajakan kalian. Kalau begitu … maukah salah salah satu diantara kamu dan kamu, menjulurkan tangan kalian padaku!" dengan senyuman jahat, Key sudah bersiap dengan mereka berdua yang tengah mengajaknya bermain-main.


Beberapa saat kemudian.


Kreeek.


Pakh.


Auh. Brian meringis dan memejamkan mata, karena tidak menyangka gadis yang selama ini di isengin. Ternyata jago gelut.


Prakh.


Bukh.


Ampunnnn!


Dua lelaki berteriak merasakan seluruh tulangnya, seperti kayu yang dipatahkan.


Bukh.


Bukh.


Ampuuun!


Lagi-lagi dua lelaki meringis kesakitan, karena mendapatkan serangan yang cukup membuat tulang menjadi lunak.


"Sakit gak tuh," gumam Brian sambil memegangi tangannya. Seolah-olah dirinyalah yang sedang dihajar hingga merasakan ngilu yang luar biasa.


"Masih mau lagi, kalau mau ngajak main jangan tanggung-tanggung."

__ADS_1


"Ampun Bos, kami berdua minta ampun dan tidak mengulanginya lagi." Dengan suara lirih serta muka dan tubuh yang bonyok. Dua lelaki merasa kapok dan berjanji tidak mengulanginya lagi.


"Good," balas Key tersenyum penuh kemenangan.


Sekarang Key tengah menatap Brian, dengan tatapan elangnya.


"Sekarang lihat kan Om, semua ini karena anda yang kerap mengganggu. Sampai-sampai aku yang diganggu," suara ketus dari Key mampu membuat Brian diam. Bukan kalah, hanya saja menyiapkan kata-kata yang akan dirangkai. Guna membalas Key, karena Brian tidak mau dicap pengganggu.


"Hye bocah tengil, siapa yang mengganggumu! Ini kan taman. Wajarlah kalau kita bertemu, dan lagipula siapapun tidak bisa berjalan, berjungking, berjongkok, ataupun tengkurap." Jawab Brian mulut yang terus mengoceh.


Memangnya siapa dia berani-berani?


Brian mendengus karena bisa-bisanya bocah tengil mengira jika dirinya sedang membuntutinya.


"Akan tetapi, tiap Key ketemu Om, selalu apes kan."


"Itu resiko kamu."


"Dasar somplak."


"Dasar tengil."


Dasar Om-om gak laku."


"Apa kamu bilang–."


STOP!!!


"Apa Bos tidak capek dari tadi berantem terus?" kedua lelaki yang sempat mendapatkan door prize oleh Key, kini mencoba menengahi pertengkaran antara Key dan Brian.


"Jangan ikut campur atau anu kalian, bakal aku remas-remas kayak perkedel tempe!" seru Key pada dua lelaki yang kini berangsur mundur. Keduanya langsung diam dengan kedua tangan tepat menutupi resleting.


"Duh, bisa gawat kalau sampai anu kita jadi korbannya si Bos, ntar yang ada istri kita gak kebagian karena udah jadi perkedel." Mereka berdua saling berbisik dan memilih tidak ikut campur.


"Makanya, itu kan masa depan kita buat istri kelak."


"Sudahlah, kita diam. Nanti juga berhenti kalau capek," dan akhirnya dua lelaki diam. Sampai tiba-tiba ada seorang wanita menepuk bahunya.


"Kenapa mereka?" Ayu yang baru datang, memilih bertanya pada dua lelaki dengan muka babak belur.


"Jangan ikut, biarkan mereka berantem sepuasnya." Jawab salah satu dari kedua lelaki tersebut.

__ADS_1


"Jika tidak, kamu akan merasakan sakit yang luar binasa, eh salah. Maksudnya luar biasa," timpal orang satunya lagi.


"Dasar, cat and mouse."


__ADS_2