
Sesampainya di tempat kerja. Ayu yang melihat Key dengan kaki pincang. Buru-buru menghampiri sekaligus bertanya ada apa dan kenapa.
"Key, kaki kamu kenapa?" tanya Ayu dengan rasa was-was.
"Kecelakaan kecil kok, Yu. Kamu jangan terlalu berlebihan," ujar Key yang tak mau jika Ayu terlihat sedih hanya gara-gara kakinya.
"Kecelakaan bagaimana? Tolong katakan, sebenarnya apa yang terjadi sama kamu?" tanya Ayu sekali lagi.
Akhirnya Key pun menjelaskan, akan kakinya yang tengah pincang saat ini.
........
Sedangkan di rumah.
Brian yang tengah menyusun strategi, karena sebentar lagi dirinya akan membuka usaha kecil-kecilan.
Tiba-tiba saja. Sebuah notifikasi masuk, membuat Brian ingin membukanya karena sedikit penasaran. Di tambah lagi yang tertera adalah nomor tidak dikenal.
"Nomor siapa lagi ini?" Brian mendengus, karena rasa penasaran. Jadilah dirinya membuka dan terlihat rahang yang mengeras, tatapan kebencian saat melihat gambar seseorang yang tengah menghiasi layar ponselnya.
"Dasar gadis murahan. Dia bilang tidak pernah bersentuhan dengan laki-laki. Nyatanya ini apa? Dasar munafik," ucap Brian dengan wajah yang tengah menahan amarah.
Sedari tadi pikiran Brian tidak bisa tenang, entah. Apa yang akan terjadi saat Key pulang nanti. Yang pasti lelaki itu, sangat kecewa dengan Key.
Brian kira, Key adalah gadis yang tidak neko-neko. Serta tidak dapat terpengaruhi oleh apapun itu, nyatanya sebuah gambar memperlihatkan layaknya sepasang kekasih.
Niat hati ingin melihat tempat yang ingin di sewa. Namun, pikirannya tidak bisa diajak kerja sama. Semua itu karena Key, yang terus memutari isi kepalanya hingga menatap kopi pun. Terlihat bayangan wajahnya.
"Apa aku sudah gila! Sepertinya belum, karena belum menjadi orang miskin." Brian berceloteh pada saat ingin meneguk kopi. Seakan semuanya berubah menjadi sosok Keyla.
Arggggh!
Brian benar-benar frustasi karena tidak bisa mengendalikan emosi. Sampai beberapa barang ia hempaskan, untuk menjadikan melampiaskan akan kemarahannya.
__ADS_1
"Lihat saja kalau kamu nanti pulang Key, aku tidak akan melepaskan kamu!" seru Brian dengan mengepalkan kedua tangannya.
..........
Di indomerit.
"Yu, ada hal yang ingin aku katakan sama kamu, tapi aku harap kamu tidak akan marah."
Ayu mengerutkan keningnya, karena sikap Key dari yang datang sampai sekarang. Terlihat sedang menyimpan sebuah beban.
"Apa yang akan kamu katakan padaku?" tanya Ayu yang saat ini tengah berada di pangkalan nasi goreng.
Malam ini Key memutuskan mengajak Ayu untuk makan, karena sudah waktunya pulang juga. Namun, di samping itu Key juga ingin bercerita akan masalahnya dengan teman satu-satunya yang selalu mendukungnya.
"Yu, kamu ingat dengan pria bule waktu itu?" ujar Key sebelum membicarakan ke hal yang lebih serius lagi.
"Yang mana?" tanya Ayu yang sepertinya sudah lupa.
"Pria yang selalu kamu panggil 'Om' itu, ada ada yang lainnya?" ujar Ayu yang mulai ingat akan sosok laki-laki yang dimaksud oleh Key.
"Iya, dia orangnya." Jawab Key antusias, tapi sedikit gemetar, takut jika Ayu akan marah karena masalah sebesar itu. Dirinya tidak bercerita akan masalah yang sekarang tengah melanda Key.
"Apa kamu ada masalah orang itu? Atau kamu sedang tergila-gila dengan wajah bule nya?" sebuah pertanyaan membuat Key, seketika menelan ludah. Meski payah, ia tetap berusaha.
"Yu, apa kamu percaya bahwa laki-laki yang kamu maksud itu. Sekarang sudah menjadi suami ku," ucap Key dengan wajah tertunduk.
"Key ... apa ada hal yang aku tidak tahu? Apa perkataanmu bisa aku percaya," ujar Ayu dengan sebuah tatapan penuh dengan tanda tanya...
Key mengangkat jarinya, dan disitulah Ayu mendapati kenyataannya bahwa di jari manis Key, terdapat sebuah cincin.
"Kenapa kamu menyembunyikan semua ini dariku? Apa kamu juga tidak menganggap aku sebagai temanmu lagi? Jawab Key! Jangan menunduk seakan kamu adalah orang yang paling terzalimi."
Keyla sudah dengan wajah bersalah. Menggenggam kedua tangan Ayu, meminta maaf karena tidak menceritakan kesalahan yang tak pernah dilakukannya.
__ADS_1
"Maaf Yu, aku ... aku terlalu takut saat bercerita denganmu, takut kamu tidak percaya ...."
"Stop Key, jika aku masih kamu anggap teman. Kenapa masalah seperti ini harus kamu sembunyikan," ucap Ayu yang langsung menghentikan ucapan Key yang ingin menjelaskan, tapi sudah dipotong olehnya.
"Aku mengaku salah, kejadian itu terlalu cepat. Maka dari itu aku memilih untuk diam, tapi ...." Key menjeda ucapannya karena tidak mampu untuk melanjutkannya.
Air mata yang ia tahan. Akhirnya runtuh juga dan Key tak mampu untuk tetap menahannya. Sedangkan Ayu yang mulai luluh, merasa kasihan dan menggenggam erat tangan Key.
"Bicaralah, aku akan setia mendengarkannya. Maaf aku sedikit egois karena mungkin, jika aku menjadi kamu. Hal itu pasti akan aku lakukan juga," ucap Ayu, yang mencoba menenangkan Key.
"Aku gak cinta sama sama orang yang sekarang berstatus suami ku Yu, tapi pada saat dia bilang akan menerima keputusan yang akan aku buat. Rasanya ngilu di sini, ada yang hilang di dalam sini juga." Key memukul-mukul dadanya dan entah perasaan apa yang sekarang dirasakannya pada sosok Brian.
"Itu artinya kamu gak rela, jika suatu saat Om Brian melepaskan kamu Key, dan di sini ada sedikit rasa yang kamu simpan untuk orang itu." Jawab Ayu yang berusaha membantu keluar dari masalah, yang menyangkut soal hati dan perasaan.
"Itu tandanya jika ada rasa ketidakrelaan saat aku memilih melepaskannya?" Key menatap wajah Ayu dengan tatapan sendu, saat membenarkan perkataan dari sahabatnya itu.
"Tanyakan pada diri kamu sendiri Key, rasa kehilangan akan muncul saat kita sudah melepaskannya. Jadi, sebelum terlambat perbaiki hubungan kalian."
Key diam, memikirkan soal ucapan Ayu, dan sekarang dirinya sedang berperang dengan perasaannya.
Apa benar, Key tidak rela saat satu kalimat yang membuatnya dilema?
Apa betul, jika orang yang akan merasa kehilangan pada saat sudah melepaskannya, namun hatinya tidak rela?
Seakan semua berkecamuk di dalam pikiran Key, dan menari-nari untuk segera meminta jawaban.
"Aku tadinya mau marah karena kamu sudah tega padaku, tapi aku tidak sanggung jika mengabaikan kamu dengan keadaan seperti ini. Sekarang lebih baik kamu ku antar pulang karena waktunya sudah mulai larut," ucap Ayu yang tak ingin melanjutkan akan curhatan Key. Namun, sekarang sudah cukup malam untuk mengobrol dan akan dilanjutkan besok.
Tin! Tin!
Tepat keduanya berdiri dan sudah siap untuk pulang. Sebuah klakson membuat Key dan Ayu menoleh ke arah sumber suara tersebut.
"Key, pulang dan selesaikan secara dewasa dan nantinya. Kamu akan menemukan dan keyakinan di dalam hati kamu," ucap Ayu lagi, yang langsung meninggalkan Key.
__ADS_1