Duda Somplak VS Bocah Tengil

Duda Somplak VS Bocah Tengil
41. Hati Key dilema


__ADS_3

Brooooot.


"Keylaaa!" teriak Brian yang mendengar suara Legend dari Key, hingga membuat lelaki itu marah. Selama ini dirinya tidak pernah mendengar suara telur busuk yang diciptakan oleh Key, dan sepanjang sejarah baru kali ini terdengar langsung di telinganya.


"Eh, ada orang ya. Aku kira tadi gak ada," ujar Key tanpa punya rasa kehilangan karena sebuah kentut, dan pura-pura tidak tahu soal Brian yang ada di bawah kakinya.


"Dasar bocah jorok, ini sangat bau tau gak!" seru Brian sambil menutup hidungnya dan tidak lupa mengibaskan tangannya. Agar bau itu segera pergi dari hidungnya, dan tidak menusuk indra penciumannya.


"Namanya kentut ya pasti bau lah. Beda lagi sama parfum," kata Key dengan suara yang begitu tenang. Tanpa memikirkan jika sekarang Brian tengah marah, bukan Key namanya jika tanpa membuat hal konyol.


"Tidak harus di hadapkan ke muka kan, dasar bocah tengil!" pekik Brian yang masih marah dengan ulah Key.


"Lagian suruh siapa tidur di bawah, dan kenapa juga bisa tidur di kamarku." Key mengusap pelipisnya karena tak habis pikir akan suaminya.


Sepertinya Brian memang sengaja tidur di kamarnya, dan hal itu membuat Key patut mencurigainya.


"Karena sudah cukup puas untuk waktu semalam," ucap Brian dengan tatapan menggoda.


"Om, jangan bilang kalau waktu aku tidur. Tangan Om tengah berjalan-jalan, kan?" mata Key terus menatap tajam ke arah suaminya. Ia yakin bahwa semalam Brian telah melakukan sesuatu kepadanya.


"Hye bocah, itu mulut jaga. Saya itu laki-laki baik, meski menyandang kata 'Duda' setidaknya saya menghargai wanita! Meski seharusnya kamu memberikan jatah malam untuk saya."


Glek.


Mendengar Brian berbicara seperti itu. Membuat Key seketika menelan ludah dengan kasar, karena memang tiga bulan menikah. Nyatanya belum juga menjadi seorang istri yang sebenarnya.


"Kenapa diam, bener kan apa yang saya katakan!" kata Brian lagi dengan memicingkan satu matanya. Berharap jika Key akan menyadari kesalahannya, yang sudah mengabaikan hati dan perasaannya.


"Memangnya Om gak kasian mau ngelakuin sama bocah yang baru berusia 18 tahun, Om kan bule, jadi wajar dong kalau aku takut."


Uhuk.

__ADS_1


Uhuk.


Seketika Brian tersedak salivanya sendiri.


"Dasar bocah edan," umpat Brian lelaki itupun berdiri dan langsung pergi ke kamar mandi, ada hal yang harus ia tuntaskan di sana.


Di dalam kamar mandi. Brian tak henti-hentinya mengumpat karena terpancing oleh gesekan tubuh Key, hingga membuatnya meriang alias panas dingin.


"Lihat saja nanti, aku pastikan jika gadis itu akan meminta tambah karena kekuatan superku." Dalam senyuman yang mengerikan Brian berucap dan akan menaklukkan Key.


Sedangkan di dalam kamar Key masih merenung membayangkan, akan cerita dari orang-orang. Yang mana, jika mempunyai suami bule maka harus siap mental. Itu karena batang pisangnya yang super jumbo, membuatnya harus lebih hati-hati. Itu yang Key denger dari kebanyakan orang.


Hari-hari yang dilalui Key seperti biasa, dan tidak tahu pada saat suaminya bangkrut. Lalu sekarang bekerja apa, Key sama sekali tidak dan tidak bertanya. Namun, akhir-akhir ini membuat Key merasa aneh karena Brian selalu pergi di saat dirinya bangun, dan pulang pada saat Key juga sudah terlelap.


"Ke mana sih sebenernya orang itu? Sudah macam demit saja!" dengus Key karena pada saat bangun dirinya sudah tidak melihat suaminya, dan hal itu membuatnya bertanya-tanya.


"Sesibuk apa sih Om Ian, sampai pulang larut malam. Pagi-pagi sekali udah main pergi, macam maling saja keluarnya." Lagi, Key hanya mampu bertanya dalam hatinya, karena memang setiap hari tidak melihat wajah Brian, dan hal itu sudah berjalan dua minggu.


Siang itu.


Di tempat Key bekerja, tidak sengaja bertemu dengan sosok lelaki yang pernah ia temui karena sebuah kesalahan.


Key yang mencoba acuh karena berusaha tidak tertarik pada lelaki tersebut, tapi sayang. Justru lelaki itu malah berjalan menghampirinya pada saat Key membeli minuman di tempat parkir.


"Hye!" sapa pemuda itu, dengan seulas senyuman.


"Hye juga," sapa Key balik lalu menoleh lagi ke arah stand minuman.


"Tumben pagi, biasanya juga sore?" pemuda itu pun langsung bertanya dan membuat Key melirik ke arah pria yang ada di sampingnya.


"Iya, dapat jatah pagi." Jawab Key ramah.

__ADS_1


"Oh, makanya saya kemarin ke sini sore tidak melihat kamu." Dengan gayanya sok kenal sok deket, pemuda yang saat ini berada di stand minuman bersama dengan Key, lantas berkata jika dirinya kerap datang supermarket, dimana Key bekerja.


"Sif di bagi dua selama seminggu. Mas nya ke sini mau belanja atau ...,"


"Iya, tadi selesai cari sesuatu dan pas keluar liat kamu." Dengan cepat lelaki yang belum diketahui namanya itu, nampak lebih banyak bicara daripada tempo hari.


"Oh, ya sudah kalau begitu. Saya permisi masuk," pamit Key saat pesanannya sudah selesai.


"Tunggu!" teriak pemuda tersebut dan Key pun langsung menoleh.


"Saya Dimas, kamu siapa?" tanya lelaki itu yang penasaran dengan nama Key.


"Panggil saja Key." Jawabnya yang lalu langsung pergi dan kembali masuk, ke minimarket.


Harusnya Key senang karena sudah mengetahui nama dari lelaki tersebut, tapi ada yang aneh di diri Key, karena ada yang hilang dan entah itu apa.


Perasaan yang tak biasa kini mulai mengganggu dipikirannya. Selama ini masih baik-baik saja, tapi hari ini ada sosok yang ia rasa telah abai kepadanya.


"Key, suami kamu masih tetap seperti biasa?" tanya Ayu saat melihat Key dengan wajah lesu nya.


"Masih, dan aku rasa bule itu sengaja menghindariku." Jawab Key nyaris tanpa ekspresi.


"Lelaki juga butuh kepastian Key, merasa kamu abaikan dan memilih pergi untuk sementara waktu." Ucapan Ayu seketika membuat Key terdiam. Memikirkan sebuah kalimat yang baru saja di sampaikan oleh sahabatnya.


Apa iya, jika sosok lelaki yang hanya status suami itu butuh kepastian?


Bukannya akan jauh lebih gampang jika Brian mencari seorang pendamping, tanpa meminta kepastian dari Key?


Lalu, aba benar juga jika Brian telah jatuh hati pada Key yang saat ini tengah dilema atas perasaannya, yang merasa ada kehilangan di dalam lubuknya yang paling dalam.


Key yang lelah dengan pikirannya memilih pergi untuk ke kamar mandi. Sekedar mencuci muka agar bayang-bayang Bria tidak lagi menggangunya, karena hal itu membuatnya tidak fokus dalam bekerja, karena sebuah wajah yang terus terlihat

__ADS_1


__ADS_2