
Brian yang melihat Key, belum memberikan komentar. Langsung bertanya karena sangat penasaran dengan penilaian dari istri kecilnya tersebut. "Key, bagaimana rasanya?"
Key pun berhenti mengunyah dan langsung melempar senyuman pada Brian. "Ini sangat enak, Om. Nasi goreng dengan rasa tiada tanding," puji Key pada nasi goreng buatan Brian.
Brian pun bernafas lega karena aksinya tidak sia-sia, lalu Key mencoba menyuapi Brian agar tahu rasanya seperti apa. "Ini, Om cobalah biar tahu rasanya."
Brian pun menerima suapan dari Key, benar saja kalau memang rasanya sangatlah nikmat. Sampai-sampai Brian menghabiskan separuh dari nasi goreng yang berada di piring Key.
"Om, jangan dihabiskan!" seru Key dengan mulut maju ke depan.
Brian yang seketika sadar, langsung berhenti mengunyah, lalu meletakkan sendok tersebut. "Maaf, saya khilaf."
Ckckck.
Bibir Key semakin mengerucut ke depan, pasalnya nasi itu tinggal sedikit dan Key masih belum kenyang.
"Makanya buat yang banyak, jadi gak makan punyaku, kan!" ucap Key menatap sinis ke arah Brian.
"Dasar pelit, orang cuma ambil sedikit juga. Tau gitu tadi tidak saya buatkan biar sekalian kelaparan," balas Brian tidak kalah ketus.
Keduanya masih saja berdebat, hingga tidak sadar jika sekarang pukul dua dini hari. Perkara nasih goreng membuat Key dan Brian lupa, bahwa mereka juga butuh istirahat.
Samar-samar terdengar suara ayam berkokok. Membuat dua orang yang tidak pernah akur saling tatap, lalu berpikir untuk melirik ke arah jam tersebut dan.
"Apa! Sekarang sudah jam dua," ucap Key dengan nada terkejut.
Lalu Brian ikut melihat ke arah tembok di mana jam yang bertengger di atas sana. "Key, kita tidur yuk, ini sudah hampir pagi!" ajak Brian karena tidak menyadari jika sedari tadi bertengkar, tanpa melihat waktu.
Key yang mendengar ajakan Brin, langsing berjalan menuju kamar. Tanpa melihat kamar siapa yang ia masuki karena matanya sudah cukup lelah.
"Apa Key sudah lupa ingatan? Sampai tidak sadar dia masuk di kamar siapa," batin Brian dengan dahi yang mengkerut.
__ADS_1
Brian yang tak ambil pusing, langsung saja masuk dan tidur di samping Key, biarlah jika besok gadis itu harus marah pikirnya.
Keesokan paginya.
Suara kokok ayam kian terdengar di telinga, membuat kedua insan sedikit terusik.
Sepertinya Key sudah mulai mengumpulkan nyawanya karena suara kokok ayam, yang sekarang mengusiknya.
Eummm.
Key melenguh dan menaikkan kedua tangannya untuk meregangkan otot-ototnya, setelah Key sadar beberapa detik kemudian ia menatap sekeliling ruangan. Nampak asing dan merasa jika yang di tempati nya bukan kamarnya.
"Astagfirullah, benar ini bukan kamarku!" pekik Key yang seketika terbangun dan mengucek kedua bola matanya. Sayangnya, pada saat hendak bangun tangannya di cengkram oleh seseorang, yang tak lain adalah Brian dan sepertinya lelaki itu sudah bangun sedari tadi, tapi pura-pura memejamkan matanya untuk melihat istri kecilnya tersebut.
"Mau ke mana?" suara seseorang dari belakang Key, membuat gadis itu seketika menelan saliva dengan susah payah.
"Jelas mau turun, memangnya mau ke mana lagi?" ujar Key dengan hati yang berdebar.
"Tidak Om, ini sudah siang." Key menolak dengan alasan sudah siang dan harus memasak untuk sarapan.
"Tidak ada penolakan," tekan Brian yang tak mau jika Key keluar.
Akhirnya Key pun menuruti permintaan Brian, menemaninya untuk tidur kembali dan tidak tahu akan bangun jam berapa. Meski dengan keadaan terpaksa, Key pun tetap menikmatinya.
Siang hari saat Brian sudah bangun, tapi tidak dengan Key yang masih tertidur pulas. Dengan kedua tangan yang begitu cekatan, Brian memasak untuk mereka sarapan karena sekarang sudah jam 10, tidak terasa jika hari sudah siang.
Sedangkan di kamar, Key yang tadinya masih tidur. Namun, sebuah aroma kian menusuk hidung dan membuat Key terbangun akibat mencium bau masakan. Dengan segera gadis itu langsung berjalan untuk melihat keadaan dapur, Key sempat meragukan jika yang berada di dapur adalah Brian.
Benar saja, setelah Key berada di dapur dan ternyata adalah Brian, yang tengah memasak dan tidak biasanya siang hari, lelaki itu berada di rumah. "Om!" sapa Key dengan rambut acak-acakan.
Brian yang merasa terpanggil, akhirnya menoleh dan melihat Key tengah berdiri di samping pintu. "Key, mandilah dan kita akan sarapan." Sebuah perintah dari Brian dan Key pun segera melaksanakannya.
__ADS_1
Key yang sudah mandi dan juga sudah rapi dengan pakaian santainya. Buru-buru duduk di atas tikar yang sudah di suguhi berbagai menu.
Sepertinya Brian tahu apa yang ada di pikiran Key karena terlihat istri kecilnya itu melihat dengan wajah bingung. "Jangan bingung dan segera makan!" titah Brian.
"Aku hanya bingung Om, kenapa ada banyak makanan enak-enak, tidak seperti biasanya juga Om ada di rumah, kan?" Key yang penasaran akhirnya memilih bertanya. Rasanya aneh saja karena setelah mengontrak dua bulan lalu, baru kali ini ada makan banyak dan terlihat mewah.
Akhirnya, mau tak mau Brian mengatakan perihal makanan tersebut karena tidak mau, Key terus bertanya. "Saya kemarin dapat gaji dan ini sisanya." Brian langsung menyodorkan amplop berwarna coklat, terlihat tebal dan dapat dipastikan jika ada banyak uang di dalamnya.
"Ini ... ini Om serius!" kata Key dengan perasaan campur aduk.
"Maaf, baru bisa memberikannya sekarang." Brian berucap dengan perasaan bersalah. Sejak dua bulan lalu, baru kali ini dirinya memberikan uang bulanan.
"Tidak Om, aku tidak mempersalahkan akan hal itu. Terima kasih untuk semua ini," ujar Key dengan seulas senyuman.
"Bukalah," pinta Brian.
Key pun dengan perlahan membuka amplop tersebut. Dengan mulut yang ternganga karena tidak menyangka, jika jumlah begitu sangat banyak.
"Om, apa ini uang?" tanya Key tanpa mengalihkan pandangan.
"Bukan, itu kertas dengan sejumlah nominal!" sungut Brian yang masih membuat lelucon.
Hehehe.
Key tersenyum karena begitu sangat bodoh, saat ia bertanya dengan hal yang tidak masuk akal.
"Aku hanya memastikan, memang apa salahnya." Ucapan Key membuat Brian langsung membuang muka.
"Sudah-sudah, sebaiknya kita cepat makan. Lagi pula saya sudah lapar memangnya mau menunggu apalagi," dengus Brian yang memilih uuntuk membahas uang dan ingin segera makan.
Sedangkan di tempat lain, Dimas hari ini benar-benar kesal karena kejadian semalam. Di mana saat mengantarkan Key pulang dan untuk saat ini. Dimas harus menyusun rencana untuk mendekati Key lagi, lalu dengan perlahan ia akan menaklukkan Ayah nya Key.
__ADS_1
"Lihat saja nanti, aku pasti bisa bertemu lagi dengan Key, wanita yang unik sehingga membuatku semakin ingin mendekatinya." Dimas bergumam dengan sesekali menyesap kopi.