Duda Somplak VS Bocah Tengil

Duda Somplak VS Bocah Tengil
6. Tiada hari tanpa perdebatan


__ADS_3

Huuuuf.


"Enak sekali rasanya."


Key sudah sampai di rumah. Langsung merebahkan badannya di kasur. Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan, bukan lelah karena pekerjaan. Akan tetapi, lelah dengan orang-orang aneh yang seharian ini ditemuinya.


Dari mulai tadi pagi diganggu oleh orang iseng, sampai dilabrak. Belum pula waktu siang tadi bertemu dengan wanita aneh.


"Semoga cukup hari ini keanehan terjadi, dan tidak akan lagi ada kejadian yang memalukan." Key pun mulai memejamkan matanya, untuk pergi ke pulau mimpi bersama bantal guling. Melupakan kejadian yang tak bisa ia simpan dalam memori untuk anak cucunya kelak, karena hal itu sungguh sangat-sangat memalukan.


Beberapa jam kemudian.


Samar-samar telinga Key mendengar sebuah teriakan, namun sejenak Key tidak memperdulikannya, karena masih mengantuk lagi pula ia pikir sekarang masih jam lima sore.


Dor.


Dor.


Dor.


Key mendengar suara gedoran pintu, dan kali ini suaranya sedikit keras. Akhirnya mau tak mau, Key harus membuka matanya. Meski dengan rasa malas.


"Iya … sebentar," sahut Key dari dalam kamar.


"Gak sabaran amat sih jadi orang," gerutu Key dengan keadaan langkah yang sempoyongan karena masih belum sepenuhnya nyawa terkumpul.


Ceklek.


"Apa kau tuli, atau memang pura-pura tuli!" geram Bu Endang pada Key saat ini.


"Apaan sih Bu, ini juga masih jam lima. Kenapa pula harus bangunin dengan cara berteriak," ujar Key mengucek kedua matanya. Sambil menimpali ucapan sang Ibu.


"Jam lima, kepalamu itu! Sekarang sudah jam tujuh malam. Apa kamu ingin tidur terus layaknya putri salju? Mimpi saja sana!" suara Bu Endang memekik begitu kencang. Hingga membuat Key beransur mundur, kalau tidak kupingnya akan panas jika terus-terusan berada di dekat Ibunya.


"Ya mana Key tahu Bu. Aku sedang tidur jadi tidak bisa melihat jam," terang Key yang tidak mau kalah.


"Sudahlah, daripada kamu berdiri seperti itu layaknya manekin. Buruan mandi kalau tidak sambal jengkol teri akan habis oleh Bapakmu," ujar Bu Endang yang segera menyuruh Key untuk secepatnya mandi.


Sambal jengkol teri adalah menu favoritnya, tentu bagi Rey tidak akan tinggal diam jika sampai dihabiskan oleh Pak Rudi.


Setelah mendengar Ibunya ceramah. Key pun beranjak dari kamarnya. Meski malas untuk mandi, namun tetap harus masuk ke dalam kamar mandi agar segera menikmati sajian yang menggugah perut dikala terdengar bunyi keroncongan pada perutnya.

__ADS_1


Sekitar 15 menit, Key sudah duduk di meja makan.


"Pak, jangan dihabisin dong. Ingat kolesterol emangnya Bapak mau tubuhnya sakit-sakit lagi!" dengus Key karena Pak Rudi mengambil sambal tidak beraturan.


"Key, Bapak itu tidak punya kolesterol ya. Jangan membuat Ibu kamu mengeluarkan tanduk kerbaunya, ya." Pak Rudi juga tidak mau kalah dengan Key.


Bisa-bisanya, membuat berita hoaks. Pak Rudi pun berpikir jika Key akan menghabiskan sambal jengkol teri nya sendiri. Maka dari itu Key membuat berita bohongan dan dengan begitu Ibunya akan turun tangan kalau mendengar sang Bapak sakit nantinya.


"Bapak jangan menutupinya dari Ibu–."


Brakh.


Sebelum selesai Key berkata. Sebuah gebrakan membuat anak dan ayah itu langsung terdiam.


"Kalau kalian masih meributkan jengkol, maka besok Ibu tidak akan membuatkannya lagi!" Bu Endang yang kesal karena seharusnya menikmati makan malam dengan damai. Nyatanya tak seindah yang dibayangkan, karena Key dan Pak Rudi masih saja adu argumen.


"DIAMMMM!" Bu Endang yang tidak tahan, akhirnya memilih membentak keduanya karena jika tidak. Maka akan berakhir terus menerus.


"Sekarang diam dan makan. Jangan banyak bicara!" hardik Bu Endang lagi.


Setelah kemarahan Bu Endang kini tiga manusia tengah menikmati makan malam. Menu sederhana namun mampu membuat saling berebut.


Keesokan paginya, suara burung yang saling bernyanyi dan tawa ayam. Saling bersahutan, membuat Key sedikit merasa terganggu. Sampai pada akhirnya ia memilih bangun, berbarengan dengan munculnya sang surya di atas sana.


Ketika sudah terbangun dan Key segera masuk ke dalam kamar mandi, untuk sekedar cuci muka dan gosok gigi.


Bu Endang yang saat itu tengah berada di dapur juga dibuat tercengang kala melihat penampakan sang anak. Yang tidak biasanya bangun di pagi buta seperti sekarang.


"Key, tumben." Bu Endang menegur Key yang tengah berjalan melewatinya.


"Semalam habis mimpi dapat Wahyu, makanya sekarang bangun." Jawab Key dengan mulut menguap.


"Key, mulutmu bau comberan." Dengan memegangi hidungnya Bu Endang protes.


"Masa sih, padahal semalam lupa gak gosok gigi lho." Jawab Key dengan santai.


"Pantas bau. Jangan-jangan itulah kebiasaan kamu," ketus Bu Endang.


"Kaga Bu, pas lagi khilaf doang." Ucapan Key membuat Bu Endang langsung membulatkan matanya dengan sempurna.


"Dasar, kaga jelas." Bu Endang meninggalkan Key di dapur, karena tidak mau otaknya ikut konslet jika terus berbicara dengan Key.

__ADS_1


Namun, baru saja satu langka. Bu Endang berhenti akan Key yang tiba-tiba bangun pagi-pagi sekali, karena penasaran akhirnya Bu Endang pun memilih bertanya.


"Key, tunggu!" seru nya pads Key yang belum sempat masuk ke dalam kamar mandi.


"Oh ya, tumben jam lima sudah bangun. Habis mimpi apa?" tanya ulang Bu Endang.


"Mimpi dapat Wahyu Bu, makanya bisa bangun sepagi ini." Jawab Key dengan handuk yang sudah berada di lehernya.


"Memangnya kata Wahyu, apa?" dengan wajah penasaran ditambah kepolosan Bu Endang, justru menunggu jawaban dari Key.


"Memangnya Ibu pengen denger, apa kata Wahyu!" Key membenarkan letak handuknya, dan seakan-akan percakapan ini adalah hal yang serius.


"Boleh, karena Ibu penasaran." Jawab Bu Endang sambil menopangkan kedua tangannya di dagu, karena saat ini beliau tengah duduk sambil menghadap secangkir kopi.


"Kata Wahyu, Key di suruh bangun pagi-pagi dan lekas suruh olah raga. Biar tubuh sehat," kata Key lalu ia pun langsung masuk ke dalam kamar mandi.


Percakapan dua orang perempuan yang polos. Sehingga membuat orang berpikir ini adalah percakapan antara orang waras dan orang gila.


"Hmmm … dasar Key," gumamnya. Lalu Bu Endang melanjutkan acara menyeruput kopi untuk sejenak.


Tidak berapa lama kemudian, Key sudah keluar dan mendekati sang Ibu.


"Astaghfirullah." Bu Endang yang tengah menikmati minuman. Dibuat terkejut oleh Key.


"Kenapa seperti itu?" tanya Key tanpa dosa.


"Kamu kek kuntilanak saja, tiba-tiba datang. Lalu tiba-tiba menghilang," dengus Bu Endang.


"Cantik begini dikatain kunti, dasar durhakim jadi orang tua." Dengan bibir mengerucut Key berbicara.


"Iya cantik, kalau dilihat dari sedotan."


"Dasar menjengkelkan, seumur-umur baru nemu Ibu jahat seperti anda cih." Key pura-pura merajuk.


"Sekali kamu ngomong ini permen dengan rasa cabe. Masuk ke dalam mulut kamu," ucap Bu Endang.


"Ditambahin gorengan mau, Key."


"Yasalam."


Ckckck.

__ADS_1


__ADS_2