
Terdengar suara salam dari belakang, membuat Key dan Bu Endang saling pandang sebelum menolah untuk melihat.
"Bu, Key."
"Kayak suara Om duda?" batin Key bertanya-tanya, tapi rasanya tidak mungkin jika Brian menyusul Key.
Itulah yang ada dipikirannya sekarang.
"Lho, mantu bule ku?" Bu Endang nampak bingung, bukannya tadi Key bilang kalau dirinya ingin berkunjung dengan datang sendirian, tapi kok Brian ikut menyusul. Sebuah pikiran aneh tengah mengusik pikiran Bu Endang.
"Om duda, ngapain ke sini?" pertanyaan dari mertuanya belum dijawab, tapi pertanyaan dari Key kembali dilontarkan.
"Baik saya akan jawab satu-satu dan kalian jangan membuat saya bingung," kata Brian dengan diiringi desisan.
"Saya tadi jemput Key Bu, tapi kata temannya Key ada di sini." Jawab Brian pada Bu Endang.
"Dan kamu Key, kenapa gak nunggu saya! Kan saya bisa antarin kamu daripada nebeng sama temen kamu yang jalannya gak searah." Brian menatap Key penuh dengan rasa kesal.
"Harusnya kan aku yang marah. Bukannya si duda somplak itu," batin Key saat membalas tatapan Brian tanpa punya rasa takut sedikitpun.
"Kita bahas di dalam. Gak enak kalau di luar di sangka kita sedang bertengkar," ajak Bu Endang pada anak dan menantunya.
Sesampainya di dalam.
"Key, Ibu tinggal ke warung dulu ya. Ada yang mau Ibu beli," pamit Bu Endang pada Key.
"Iya, Bu." Jawab Key.
Kini Bu Endang sudah pergi, dan menyisakan antara Key dan Brian di ruang tamu.
"Kenapa nyusul, cih dasar pria bermuka dua." Key mengumpat Brian karena rasa sakit pada hatinya, saat di tuduh masihlah membekas.
"Kamu marah?" ucap Brian dengan entengnya.
"Jika Om ke sini untuk membuat keributan lagi, mending pulang deh. Eneg aku lama-lama lihat wajah situ," balas Key dengan nada sengit.
"Saya kan bertanya, bukan cari keributan." Brian masih dengan suara entengnya berbicara, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
"Dasar edan," gerutu Key karena tidak tahu lagi cara menghadapi lelaki yang berstatus suaminya itu.
"Mending sekarang Om pulang deh, mataku bisa-bisa terkontaminasi liat wajah Om yang menjengkelkan itu."
"Kamu ngusir?" kata Brian.
__ADS_1
"Kenapa emang, ada yang salah!" Key benar-benar diuji saat ini. Bisa-bisanya Brian tidak sadar akan kesalahannya.
"Harusnya kamu sudah aku gantung di pohon chery ya, apa kamu lupa dengan kejadian tadi pagi. Aku masih marah atas tuduhan yang kamu berikan ke aku," marah Key pada Brian, dan kali ini tidak menyebut 'Om' lagi. Mungkin saking kesalnya hingga Key murka.
"Oh, jadi kamu marah karena itu dan milih ke sini."
Huaaaaaaaaaa.
"Dasar somplak, gak punya perasaan dan laki-laki macam apa sih kamu? Dasar wajah bule tapi otaknya mirip ketumbar." Key yang kesal hingga mengatainya, dan berlalu meninggalkan ruang tengah dengan hati yang dongkol.
"Lha marah," gumam Brian dengan wajah polosnya.
"Harusnya yang marah kan aku, kenapa jadi bocah tengil itu. Dia kan pergi tanpa pamit kalau saja tadi tidak mengikutinya, mana tahu ke sini akhirnya." Brian mengacak-acak rambutnya karena apa yang dia pikir tidak sesuai ekspetasi.
"Hye bocah tengil, tunggu!" Brian mengejar Key yang akan masuk ke dalam kamar, tapi sayang. Pada saat Brian sudah siap akan masuk tiba-tiba.
Bruuuuk.
Auh.
"Sial," umpat Brian.
Ups.
"Pintuku tidak apa-apa kan?" Key justru mengelus-elus pintunya, dan berbicara sendiri.
"Ouh ... Jadi kepala Om Brian ya yang kena, tapi gak sampai gegar otak kan?" ujar Key menanggapi Brian dengan suara santai.
Huh ... huh ... huh.
"Sabar Ian, sabar." Brian lantas mengusap dadanya karena tak segampang menaklukkan semut, karena Key terlalu gesit.
"Kamu sepertinya sengaja, mengerjai saya." Dengan tatapan sengitnya, Brian berkata seakan Key memang sengaja sedang mengerjainya.
Sttt.
"Diam." Key memberi isyarat pada Brian, agar tidak bersuara karena terlihat langkah seseorang tengah menuju ke ruang tengah.
"Apaan?" Brian yang belum sadar, mengangkat kedua alisnya.
"Berhenti berbicara kerasa," bisik Key pada Brian, karena ia tidak mau jika disidang lagi oleh Bapak atau Ibunya.
"Kamu bisa bicara sedikit keras gak, saya tidak dengar." Ucapan Brian membuat Key gemas karena bukan hanya otaknya saja yang tinggal seperempat, tapi telinganya juga perlu di servis.
__ADS_1
"Ibu datang, apa Om mau. Jika kita disidang lagi?" kata Key dengan mimik muka yang tengah menyimpan rasa geram.
Tap.
Tap.
Tap.
Terdengar suara sendal, dan bisa dipastikan jika itu adalah sandal milik Bu Endang. Keduanya saling tatap dengan posisi Key di dalam kamar, dan Brian yang berada diambang pintu.
"Kalian sedang main petak umpet, ya. Makanya yang satu di dalam dan yang satu di luar," suara dari arah belakang Brian membuat mereka berdua menelan saliva dengan kasar.
"Eh Ibu, ini tadi saya manggil Key buat minta handuk buat mandi karena gerah." Brian yang tak enak hati memilih menjawab meski sedikit tak masuk akal.
"Handuknya Key kan ada di belakang, dan kenapa itu jidat kamu kok memar?" tanya Bu Endang yang melihat kening menantu bule nya berubah menjadi ungu kehitaman.
"Masa Sih Bu, saya kok tidak sadar." Jawab Brian berpura-pura.
"Memangnya ada apa Bu dengan keningnya Om Brian?" Key mendongak untuk memastikan penglihatan Ibunya pada suaminya. Yang katanya memar, dan mungkin itu tadi karena terbentur oleh daun pintu.
"Dasar, istri tidak peka. Orang suaminya sakit kok bisa-bisanya masih bertanya," ujar Bu Endang.
"Mana Key tahu, lagian ini orang kan laki. Masa gitu saja udah ngeluh sakit," pekik Key karena memang harusnya lelaki bisa lebih kuat dibanding seorang wanita.
"Sudahlah, ini tidak sakit. Jadi, kalian berhenti untuk membahas keningnya yang ada kembangannya." Brian menengahi agat tidak semakin terbawa terlalu jauh.
Ketiganya akhirnya diam, bukan karena ucapan Brian. Akan tetapi, terdengar suara perut yang sedang konser.
Kruuuuk.
"Itu suara perut siapa?" tanya Bu Endang lekas menatap satu persatu anak menantunya.
Hehehehe.
Brian meringis tertawa karena rupanya suara itu berasal dari perutnya. "Itu suara perut saya," kata Brian mengakui.
Ckckck.
Key berdecak karena Brian ternyata lapar. "Apa siang tadi ini orang tidak makan?" batin Key bertanya-tanya.
"Tumben jam segini sudah lapar, memangnya siang tadi Om tidak makan, atau sengaja tidak makan karena pengiritan?" ucap Key, asal ceplos mirip moci.
Bu Endang yang mendengar akan hal itu, menatap tidak percaya karena mana mungkin Brian orang yang perhitungan. "Apa iya kalau mantu bule ku pelit, dan makan pun harus ikut irit?" Bu Endang terus bertanya-tanya dalam hati untuk memastikan jika Brian bukanlah sosok seperti itu.
__ADS_1
"Mama gak sempat masak, dan siang tadi sudah berangkat ke desa."
"Apa!"