Duda Somplak VS Bocah Tengil

Duda Somplak VS Bocah Tengil
45. Diamnya Key


__ADS_3

"Bisa marah juga itu anak," gumam Brian saat mendapati Key membanting pintu.


Sedangkan di dalam kamar, Key terus mengumpat dan melempar semua yang ada di atas kasur.


"Lagian siapa sih yang deketin om Ian. Kesel banget deh," gerutu Key di dalam kamar.


Brian yang ada di luar, sedari tadi mendengarkan suara lemparan bantal guling, dan lelaki itupun merasa gemas.


"Bener-bener marah itu anak," gumam Brian lagi.


Brian yang lapar memilih memesan makanan online, dan berencana akan memanggil Key, ia yakin jika istri tengilnya belum makan.


Beberapa menu sudah disiapkan dan diletakkan di karpet depan TV, karena kontrakannya tidak memiliki meja makan. Jadilah duduk dengan beralaskan karpet yang sudah lumayan pudar.


Tok ...tok ... tok.


Brian mengetuk pintu kamar Key sebanyak tiga kali, tapi masih tidak ada sahutan. Apa mungkin Key tidur lagi? Itulah yang sedang dipikirkan oleh Brian.


"Key ... bangun, kita makan!" teriak Brian yang berusaha memanggil istri kecilnya itu.


Ceklek.


"Kenapa Om suka menganggu, memangnya kenapa sih teriak-teriak. Sudah mirip tarzan saja," gerutu Key yang masih kesal karena kalimat, yang dilontarkan oleh Brian.


"Masih marah?"

__ADS_1


"Menurut, Om?"


Ckckck.


"Dasar bocah tengil," umpat Brian.


"Sekarang mau apa, dan kenapa gedor-gedor pintu?" tanya Key dengan nada kesal.


"Saya tadi beli makanan. Sata mau kamu menemani makan," ajak Brian.


"Memangnya gak berani makan sendiri," cetus Key.


"Jangan banyak bicara," ucap Brian, lalu lelaki itu pun langsung menarik lengan Key dengan paksa, dan langsung membawanya dimana makanan tersebut berada.


Sedangkan di lain tempat.


"Cantik," gumamnya dan memuji sosok wanita tersebut. Yang tak lain adalah Keyla sosok perempuan yang bekerja di salah satu minimarket.


Yah, sosok itu adalah Dimas. Entah kenapa lelaki itu, terus saja memikirkan Key dan anehnya. Dari sekian wanita berlomba-lomba mendapatkan cintanya. Justru Dimas sendiri lebih memilih sosok Key yang penuh dengan kehumorisan.


Lelaki dengan usia 25 tahun itu. Masih terus memikirkan cara agar Key mau menanggapinya, dan tidak lagi mengacuhkannya.


Malam yang semakin larut, dan jam yang berada di dinding sudah menunjukkan diangka 10, membuat Dimas kembali masuk ke dalam kamarnya dan bersiap untuk tidur.


Di sisi lain.

__ADS_1


Semenjak bertengkar dengan Brian. Key tak lagi perduli dan tidak pernah menunggu kepulangan suaminya.


Menurutnya semua itu tidaklah perlu, karena pada akhirnya akan berakhir. Brian juga sudah memilih perempuan lain, yang lebih dari dirinya. Jadi, untuk apa bertahan jika sudah tidak ada lagi rasa cinta untuknya.


Seperti sore ini. Kebetulan Key dapat jatah sif sore dan hal itu membuatnya begitu beruntung karena bisa terhindar dari Brian, yang kebetulan sudah berada di rumah. Dari satu jam lalu dan sekaranglah Key meninggalkan lelaki itu di kontrakan sendiri.


Sesampainya di indomerit. Key nampak seperti biasanya, dan tidak terlihat jika sedang ada masalah. Hanya karena tidak mau melibatkan Ayu, jadilah memilih diam.


"Key, akhir-akhir ini sedikit aneh?" ujar Ayu, dan untuk wanita itu. Nampaknya tidak bisa dibohongi karena dari wajah pun sudah terlihat.


"Aneh kenapa, dari kemarin juga sudah gini." Jawab Key dengan asal.


"Key—," ucapan Ayu langsung di stop oleh Key, karena ada pembeli yang sedang ngantri di kasir.


"Nanti lanjut lagi, karena aku mau total belanjaan pembeli." Ayu hanya bisa menghela nafas saat Key berkata seperti itu.


Tidak berapa lama kemudian, setelah selesai meladeni para pembeli. Ayu pun ingin bertanya lagi, tapi lagi-lagi wanita itu tidak melanjutkan untuk membuka mulutnya. Dikarenakan sosok lelaki itu lagi yang terlihat. Jadilah Ayu hanya bisa menghela nafas karena rasa ingin tahunya ia tunda.


"Bang, Dimas!" sapa Key saat lelaki itu juga masuk ke dalam antrian.


"Iya Key, maklum bujangan jadi kalau butuh apa-apa harus beli sendiri." Jawab Dimas, meski kaku tetap saja lelaki itu terlihat sangat keren.


"Salah sendiri mau jadi angka satu. Coba kalau ada gandengannya bisa jadi angka 10, atau bisa jadi angka 12, kan." Key sengaja menggoda Dimas, dan cara ini juga mampu membuatnya lupa akan sosok Brian, Walau sebentar.


"Bisa saja kamu, Key."

__ADS_1


"Oh ya, apa kamu nanti ada waktu. Aku mau ngajak makan?" ajak Dimas pada Key.


Sesaat Key memikirkan soal ajakan dari Dimas, dan beberapa kali juga. Ayu terus menyenggol lengan Key, agar menolak ajakan dari pria tersebut. "Jam berapa nanti ...," ucapan Key terjeda karena Ayu menyenggol lengannya lagi.


__ADS_2