
"Aku mau," ucap Key dengan cepat, tanpa peduli dengan ucapan Ayu.
"Ini anak, begitu gampang banget diajak." Ayu bergumam dalam hati, dan tidak habis pikir kenapa sama sekali tak memikirkan sosok Brian.
"Ya sudah kalau begitu saya permisi dulu," pamit Dimas pada Key.
Setelah kepergian Dimas, Ayu sudah menatap Key dengan tatapan bak serigala lapar. Nampaknya Key perlu di ceramahi agar tidak sembarang menerima ajakan orang. Yang baru saja beberapa hari ini ia kenal.
"Key, apa kamu gila? Dimana perasaanmu tentang suami kamu?" kata Ayu yang mencoba menasehati Key.
"Dia tidak penting, lagian sebentar lagi kita cerai kok. Apa yang mau dipikirin," ujar Key dengan nada malas.
"Key, jangan main-main dengan ucapan kamu. Rasanya tidak mungkin jika om Brian sampai mau menceraikan kami," tukas Ayu yang masih belum percaya dengan perkataan Key.
__ADS_1
"Ya sudahlah, mau aku jelasin pun. Percuma kalau kamu tidak percaya," ujar Key dengan nada kecewa. Pasalnya Ayu tidak percaya dengan apa yang ia katakan.
Key yang tidak suka, langsung menatap tidak suka pada Ayu, karena kenapa selalu saja Brian si bule somplak itu yang ia bela. Bukan sahabatnya sendiri, dan terus saja berpihak pada suami Key.
Saat ini tepat pukul 10, Key yang sudah pulang. Tuba-tiba saja sebuah mobil berhenti tepat di hadapannya. "Key!" panggil seorang, yang tak lain adalah Dimas.
"Eh Bang, kirain tadi siapa." Key pun menimpali dengan sebuah senyuman.
"Ya sudah, yuk." Lantas Dimas pun mengajak Key untuk segera masuk ke dalam mobil ya ia buka, dan mempersilahkan gadis itu.
Tidak berselang lama, Key dan Dimas akhirnya sampai di cafe. "Maaf ya Key, mungkin kita sudah kemalaman. Makanya semua tempat sudah tutup," ujar Brian, karena sedari tadi dirinya tidak melihat restoran yang buka.
"Tidak masalah," sahut Key yang tak mempermasalahkan hal tersebut.
__ADS_1
Namun, sayang. Pada saat keduanya hendak turun cafe itu pun sudah diberi plakat close. " Yah, tutup." Key berujar dengan wajah lesu karena acara makan malam akan tertunda.
Sedangkan Dimas pun merasa tidak enak hati, pasalnya dirinyalah yang berniat untuk mengajak Key pergi. "Key maaf ya, acara makan malam kit sepertinya ....,"
Ucapan Dimas terjeda karena Key langsung memotongnya. "Tidak masalah, lain kali juga bisa. Sekarang lebih baik antarkan aku pulang," ucap Key saat ini.
Gagal makan malam, akhirnya Key pun meminta Dimas untuk mengantarkannya pulang, karena saat ini sudah jam 11 lebih.
"Tentu," sanggup Dimas.
Sedangkan di rumah. Brian yang nampak cemas karena tidak melihat Key di rumah, dari setengah jam lalu. Membuatnya sangat khawatir, dan takut jika terjadi apa-apa pada isti kecilnya itu.
"Key, kamu dimana sih. Dari tadi aku hubungi tidak aktif," gumam Brian dengan keadaan tangan masih memegang ponsel. Tidak lupa layaknya setrika, karena terus mondar-mandir. Hanya demi menunggu Key dengan wajah menyimpan kecemasan.
__ADS_1
Dengan pertimbangan, akhirnya Brian memutuskan untuk mencarinya, karena rasa takut kian menghantuinya. Belum sempat mencari tiba-tiba saja, sebuah mobil yang lumayan mewah. Berhenti di depan rumahnya, dan Brian pun terus saja menatap karena ingin melihat siapa yang ada dalam mobil tersebut.