
"Om duda pun tampan, tapi kenapa masih ada yang lebih tampan." Key membatin dalam hati, menikmati akan bayangan dari lelaki tersebut. Meski wajahnya terlihat dingin, tapi begitu sangat memabukkan saat menatapnya.
"Hayooo ... lagi ngalamin apa?" goda Ayu saat melihat Key bengong dengan bibir yang terus tersenyum.
"Kamu ganggu saja," pekik Key yang tengah melamun. Belum puas akan membayangkan pria tampan, tapi tiba-tiba saja. Ayu menggodanya dengan cara menyenggol bahu Key.
"Lagian itu bibir kenapa? Udah kayak orang yang sedang kesurupan," ujar Ayu yang saat ini berdiri di sebelah Key.
"Kamu mah mau tau saja," jawab Key dengan tangan memainkan jari-jarinya pipi.
"Ingat, kamu sudah punya om duda, pagar tetangga memang mewah karena kita hanya melihat." Ucapan Ayu membuat Key langsung menatap dalam ke arah sahabatnya. Key pikir jika Ayu tahu soal dirinya yang sedang memandangi lelaki yang sempat ia pegang tadi di kasir, dan berasumsi bahwa Ayu juga tahu sejak kejadian tadi.
"Ya ela Key, aku tahu apa yang ada di dalam otak kamu. Ingat untuk tidak tergoda," ujar Ayu lagi.
"Iya aku tahu, lagian siapa yang mau ngeliat pagar tetangga!" kata Key dengan bibir mengerucut ke depan karena sebuah ucapan dari Ayu.
Akhirnya keduanya pun kembali bekerja agar bisa secepatnya istirahat, jam menunjukkan pukul delapan malam, dan itu artinya masih kurang satu jam lagi.
__ADS_1
tidak berapa lama, waktu yang sudah di tunggu-tunggu akhirnya datang juga, dan saat Key sudah siap dengan tasnya. Sebuah motor sport berwarna merah tengah parkir di indomerit, dan Key yakin jika itu ada Brian yang sedang menantinya.
"Key, bukankah itu suami kamu?" tanya Ayu yang melihat Brian tengah duduk di atas motor. Tidak lupa sebatang rokok terselip diantara jemarinya.
"Iya, itu memang om Duda," batin Key, lalu menghampiri pria tersebut.
Setelah menghampiri Brian, Key dibuat bingung karena lelaki yang berstatus suaminya itu sedikit aneh, dan membuat ngeri Key.
"Om, sehatkan?" tanya Key dengan tubuh merinding.
"Memangnya kamu mau, kalau saya sakit." Jawab Brian dengan menatap wajah Key penuh senyuman.
"Ini adalah sebagian dari rasa bahagia, jadi jangan berkata aneh-aneh." Jawab Brian yang tak ingin berdebat dengan Key.
"Ya sudah, jangan senyum-senyum mirip orang gila, karena aku sudah lelah." Key pun langsung meminta Brian untuk segera menghidupkan motornya, rasa lelah bercampur ngantuk. Membuat Key ingin segera pulang dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Tak berselang lama, mungkin sekitar 30 menit mereka berdua sudah sampai di rumah kontrakan.
__ADS_1
"Key, bangun. Kita sudah sampai!" kata Brian yang mencoba menggoyangkan motornya. Agar Key bangun karena sedari tadi istri kecilnya itu sudah tertidur.
"Pasti ini anak tidur," gumam Brian karena memang tak ada respon pada tubuh Key.
Akhirnya dengan terpaksa, Brian membopong tubuh kecil Key, untuk di bawah ke kamat.
Brian yang merasa ngantuk pun, malas untuk pindah di kamarnya sendiri. Lantas lelaki itu pun ikut naik dan tidur di samping Key, tanpa peduli bahwa singa betina akan marah besok.
Keesokan paginya.
"Ini tubuh kenapa susah digerakin sih!" sungut Key yang tengah mengumpat karena berniat ingin bangun, tapi tubuhnya tapi tubuhnya sulit digerakkan.
"Lagian ini apa sih, kok berat banget?" Key bertanya-tanya soal apa yang sudah menimpa tubuh Key.
Dengan sejuta kemampuan, hingga jurus seribu kentut pun ia keluarkan, karena sudah tidak tahan akan panggilan dari alam. Yang terus memintanya beranjak dari kasur.
Doooooot.
__ADS_1
Prakkkk.
"Suara apa itu?"