Duda Somplak VS Bocah Tengil

Duda Somplak VS Bocah Tengil
43. Pagi yang menyenangkan


__ADS_3

Akhirnya Brian pun meletakkan tas nya dan menggulung kemejanya ke atas, lalu meraih tubuh Key dan akan membawanya ke kamar.


Tanpa pikir panjang, Key dibaringkan di kasurnya. Tepatnya kasur milik Brian bukan milik Key, dan setelah itu lelaki itu pun keluar hendak membersihkan diri.


Aroma segar dari tubuh Brian, membuat suasana di kamar terlihat menggoda, tapi sayang jika Key sudah terlelap.


Setelah itu Brian langsung tidur dan memeluk tubuh Key dari belakang.


Eummm.


Key melenguh dan memutar tubuhnya, kembali memeluk Brian tanpa tahu yang dipeluk itu. Guling atau manusia, yang pasti cukup untuk menghangatkan tubuhnya.


"Sekarang main peluk, coba saja besok. Pasti mengaung seperti serigala kehilangan ekor," gumam Brian, tapi lelaki itu tidak memikirkan esok pagi. Yang jelas malam ini ada penghangat bagi tubuhnya.


Pagi hari, seperti biasa.


Pukul 5 pagi, Key yang sudah bangun. Lagi-lagi tidak melihat keberadaan Brian, sosok lelaki yang semalam ia nanti.


Sambil menutup mulut Key menguap, lalu mengambil ponsel di atas nakas dan melihat ke sekelilingnya. Dimana sekarang dirinya tidak berada di kamarnya, dan hal itu membuatnya bertanya-tanya.

__ADS_1


"Apa om Ian yang membawaku ke sini?" Key bertanya dalam hati.


"Ishh, kebiasaan." Key menggerutu pasalnya Brian seperti biasanya, pergi tanpa pamit dan pulang tanpa di antar.


"Kertas," gumam Key saat mengambil ponsel secarik kertas ada di atas nakas.


Dengan wajah bahagia Key membacanya, dengan bibir yang terus mengeluarkan sebuah senyuman.


"Ini duda romantis juga," ujar Key lirih sembari terus memegangi kertas tersebut.


Setelah itu Key beranjak dari tempat tidurnya, dan melihat apa yang sudah dibuat oleh Brian.


Key terus saya membaca surat yang ditulis oleh Brian. Menyimpannya di dalam sakunya sebagai kenang-kenangan. Meski hanya secarik kertas, tapi begitu berarti bagi Key.


Apa mungkin Key sudah membuka pintu hatinya untuk Brian? Sosok suami yang sudah tiga bulan menemaninya dalam mahligai rumah tangga? Atau memang Key sedari awal sudah mencintainya. Hanya saja karena ego yang begitu besar lantas tidak menyadari.


Bahwa di hatinya sudah tumbuh nama Brian, yang sekarang semakin hari terus memberi kenyamanan.


Seperti biasa, Key sekarang sudah berangkat bekerja. Seharian ini Key terus tersenyum dan terlihat begitu ceria, tidak seperti hari-hari sebelumnya dan hal itu membuat Ayu bertanya-tanya.

__ADS_1


"Key, apa kamu habis dapat uang banyak. Makanya dari tadi pagi sikap kamu sungguh aneh?" kata Ayu merasa aneh dengan Key, dari yang tadinya murung layaknya seseorang tidak dapat jatah, sekarang justru Key terlihat seperti orang yang habis dapat lotre.


"Kamu gak tahu saja, kalau pagi tadi aku tuh dapat kejutan." Key berujar dengan wajah layaknya orang kasmaran.


"Memangnya apa yang ngebuat kamu sebahagia itu?" tanya Ayu dengan alis naik turun. Tidak sabar saat Key mengatakan sesuatu yang membuatnya begitu sangat bahagia.


"Ada deh, yang pasti hal itu buat aku seneng." Jawab Key yang tak mau memberitahu perihal apa yang sudah membuatnya, sebahagia ini.


Ckckck.


Ayu berdecak karena Key tak kunjung mengatakannya, dan hak itu membuat Ayu bertanya dalam hati. "Apa Key sudah dibobol, makanya terlihat semangat?" batin Ayu bertanya-tanya.


Key yang melihat tatapan aneh dari Ayu, membuatnya seketika membalas dengan tatapan tajam. "Aku tahu apa yang ada di otak kamu Yu, jangan kira aku tidak tahu!" ucap Key dengan tatapan sinis.


"Eh, bukan gitu ... maksudku apa kamu sudah gol? Tapi aku lihat cara jalan kamu tidak ada yang aneh, dan itu normal?" kata Ayu dengan sedikit perasaan tidak enak, karena sudah berpikir yang tida tidak.


"Cih, apa dia pikir aku sama om Ian sedang lakuin kikuk-kikuk semalam? Apa semua orang akan berpikir yang sama juga?" ucap Key dalam hati yang menerka-nerka jika orang-orang akan berkata seperti itu juga.


"Dasar omes (Otak mesum) apa yang ada dipikiran kamu seperti itu? Ckckck ... aku belum kikuk-kikuk tahu," balas Key yang terpaksa berkata jujur.

__ADS_1


"Huh, jadi selama ini ...."


__ADS_2