
Keduanya sudah nampak akur, dan tidak ada lagi pertengkaran. Mungkin saja saat Key tertidur pulas, Brian tengah mencari bukti kebenarannya.
Lalu pada saat Key tidur. Saat itulah Brian melihat kaki Key memar dan ada yang luka, dan lelaki tersebut dengan perasaan bersalah. Buru-buru mengobatinya, tanpa membuat Key terbangun.
Dari situ Brian berpikir jika ada yang tidak beres, lantas menyuruh anak buahnya mencari informasi. Mengenai Key yang hampir celaka, dan ternyata benar bahwa ada hal ganjal di tempat saat Key mengalami kecelakan yang disengaja oleh seseorang.
Di pantai.
"Key, untuk semalam saya minta maaf ya. Sudah sangat keterlaluan," ucap Brian pada Key yang tengah asik bermain pasir, layaknya anak kecil yang begitu sangat senang.
"Jika Om mengulanginya lagi. Maka aku akan benar-benar marah," timpal Key dengan bibir mengerucut ke depan, jika teringat ingin sekali Key memberi bogeman mentah, sayangnya sebelum melakukannya. Key sudah lebih dulu takut karena sorot mata Brian yang bengis membuatnya tidak punya kekuatan.
"Namun, aku lihat jika kamu ikut larut dalam buaian yang saya ciptakan bukan, menikmati akan sentuhan—."
"Stop, Om! Aku tidak mau dengar lagi." Key kesal dan menghentikan ucapan Brian yang sudah keterlaluan.
Pluk.
Key sengaja menimpuk Brian dengan pasar, karena lelaki tersebut pantas untuk mendapatkannya.
"Key, kamu mulai nakal ya, awas kamu dan saya pastikan akan mendapatkanmu." Brian berdiri dan terus mengejar Keyla di pinggir pantai. Merasakan sesuatu yang sangat berbeda, dan sekarang Brian jauh lebih menikmati waktu yang tak pernah ada sebelumnya.
Setelah keluarganya bangkrut. Brian merasa jika hidupnya jauh lebih berguna, karena tidak melulu berkerja mengumpulkan uang. Hingga lupa jika dirinya juga perlu kebahagiaan, dan sekarang Brian menemukannya.
Keduanya masih asik berlarian layaknya sepasang muda-mudi yang tengah dimabuk asmara, menikmati waktunya di pantai.
"Key, sepertinya kamu membawaku ke dalam pengaruh baik, terimakasih telah bertahan." Brian bergumam dalam hati, dengan pandangan dari gadis yang kini tengah berlarian sendiri, dan hal itu membuat Brian tersenyum saat melihat istri kecilnya itu begitu sangat imut.
............
Sedangkan di tempat lain.
"Siapa kalian? Aku tidak mengenal kalian semua?" pekik seorang wanita yang tengah di sekap karena perintah dari bosnya.
"Kami hanya menjalankan tugas, harusnya kamu sadar akan kesalahan yang kamu perbuat." Dua lelaki dengan bertubuh kekar, berbicara dengan tatapan tidak suka.
__ADS_1
"Aku sama sekali tidak melakukan kesalahan, jadi segera lepaskan aku!" pinta perempuan itu lagi.
"Kami akan melepaskan kamu. Jika bos sudah memberikan kami perintah," ujar lelaki dengan wajah hitamnya berkata.
"Resiko di tanggung penumpang, bukan kondektur. Sekarang nikmati akan balasan yang sudah berani mencelakai istri, bos." Wanita itu masih nampak bingung, karena sama sekali tidak mengerti.
"Sekarang lebih baik kalian menjelaskan dan jangan bertele-tele," ujar wanita tersebut. Sambil sesekali berontak dan berusaha untuk melepaskan tali, dari tubuhnya.
"Dasar wanita amnesia sudah berbuat jahat, tapi tidak mau mengakui." Ucapan dari pria botak tersebut. Membuat wanita itu mengerutkan dahinya, selama ini dirinya tidak pernah berbuat licik. Atau jangan-jangan.
"Tunggu! Apa maksud kalian itu—," ucapan wanita itu terhenti karena salah satu dari pria berbadan kekar langsung menyela.
"Sepertinya kamu sudah ingat, sekarang nikmati kesendirian di tempat ini." Dua lelaki itu pun langsung pergi meninggalkan wanita yang masih disekap.
Sedangkan dua orang suruhan dari Brian. Pergi ke gudang yang lain, untuk melihat dua orang lagi, yang bekerja sama untuk mencelakai istri dari bos nya.
Byurrrr.
Byurrrr.
"Bangun!" bentak lelaki berparas botak.
"Kalian siapa? Kenapa kita berdua ada di sini?"
Plak.
Plak.
Bukan jawaban yang diterima oleh dua lelaki yang tengah diikat, melainkan sebuah tamparan dengan bergantian mendapat giliran masing-masing.
"Harusnya kalian sudah saya buang di tempat sana!" tunjuk lelaki dengan tubuh sedikit gemuk.
Glek.
Kedua pria yang disekap langsung menoleh ke arah jari dari pria gemuk tadi, dan mata melotot hendak keluar dari cangkangnya.
__ADS_1
"Tolong, kami tidak mau mati sia-sia karena di rumah ada anak istri yang butuh kami." Kedua pria tersebut memohon agar diampuni.
"Apa kalian bisa berpikir sebelum melakukan kesalahan? Ingat! Bos kami orang bisa tahu segala hal. Apalagi soal nyawa yang sengaja ingin kalian lenyapkan," ucap pria berkepala botak.
"Kami hanya di suruh, kami butuh uang maka dari itu aku dan dia setuju dengan syarat melukai seorang gadis." Jawan salah satu lelaki yang disekap dengan wajah memelas.
"Rik, kita beri dia pelajaran, biar orang ini jerah." Lelaki yang bernama Bondan, berbicara pads Erik yang mana ingin memberi pelajaran pada dua orang. Yang telah membuat istri bos nya itu celaka?" ujar Bondan.
"Ide yang bagus, sepertinya kita akan bermain-main sedikit." Erik menyetujui usul Bondan dan segera memberi pelajaran pada dua lelaki tersebut.
Aaaaaa.
"Ampun ... ampun!" keduanya meminta ampun karena pelajaran yang diberikan bukanlah sebuah pukulan. Melainkan menggelitik keduanya dengan sebuah bulu angsa.
.........
Sedangkan di tempat lain.
Key dan Brian sudah pulang dari pantai. Lalu pria tersebut mengajak Key untuk mampir makan karena perutnya cukup lapar.
"Om, kita akan makan di mana?" Key bertanya dengan sesekali merapikan anak rambutnya, yang terkena angin.
"Nanti juga kamu tahu, saya sudah lapar. Jadi, kamu jangan banyak bicara." Brian memberitahu karena tidak ada waktu hanya untuk berdebat dengan Key.
Tidak membutuhkan waktu lama. Keduanya sudah sampai di restoran, dan membuat Key mengerutkan kening.
"Bukankah Om ian tidak memiliki pekerjaan, lantas kenapa membawaku ke tempat ini?" batin Key bertanya-tanya.
"Kenapa? Apa kamu sedang berpikir jika saya tidak punya. Lalu dengan tiba-tiba mengajak kamu ke tempat ini?" ujar Brian menatap lekat ke arah gadis tersebut.
"Kalau Om sudah tahu. Lantas kenapa masih mengajak aku ke sini? Aku tidak mau kalau nanti aku juga yang harus bayar," ucap Key dengan suara kesal.
"Memangnya saya se-miskin itu apa! Sampai-sampai makan minta dibayarin kamu," ucap Brian tidak terima.
"Siapa tahu. Bukannya uang Om habis?" sebuah pertanyaan konyol membuat Brian menghela nafas.
__ADS_1
"Sebaiknya kita masuk, kalau saya tidak mampu bayar. Kan ada kamu dibuat jaminan," kata Brian dengan satu mata di kedipkan.
"Enak saja." Key berjalan dengan mulut yang terus mengoceh, hingga membuat Brian gemas.