Duda Somplak VS Bocah Tengil

Duda Somplak VS Bocah Tengil
43. Menikah tapi belum goal.


__ADS_3

"Yu, jangan ada kata-kata anu lagi ya. Aku muak dengarnya," ucap Key dengan cepat, karena ia juga tidak mau menjadi bahan ledekan nantinya. Hanya karena belum melakukan mantap-mantap dengan suami bule nya itu.


"Ya, habisnya aku heran saja sama kamu. Emang kuat gitu nahan nafsu, terus itu suami bule ga kasihan dari tahun lalu dianggurin." Ayu terus saja mengomel hingga membuat Key jengah.


"Jika mulutmu terus saja mengoceh, maka ini sambal akan masuk ke dalam mulut kamu!" sergah Key yang merasa jik lelah kalau terus meladeni Ayu.


Hehehe.


Ayu hanya tertawa merasa seperti orang yang tak punya dosa, karena kebetulan Key sedang sarapan nasi campur. Jadilah ia mengancamnya dengan menggunakan sambal.


Entah mengapa hari ini terasa begitu lama. Key terus menatap jam yang bertengger di lengannya, dan hari ini masih dipukul sepuluh siang.


"Yu," panggil Key.


"Ada apa?" timpal Ayu saat namanya dipanggil.


"Tidak jadi," ujar Key yang tak mau kalau Ayu bercerita dengan sosok lelaki, yang sudah beberapa hari ini ia kenal.


Ckckckck.


"Dasar, tadi kayak serius manggilnya. Giliran diseriusin malah PHP-in orang," kata Atu sedikit kesal karena saat dirinya sedang menghitung uang, Key tiba-tiba memanggilnya.


Key tersenyum, dan seperti itulah rasanya jika dipermainkan.


Saat ini tepat jam satu, dan Key juga belum mengisi perutnya karena belum menemukan nasi untuk ia buat makan. Namun, Abil sosok lelaki rekan Key tengah membawa paper bag dan diberikan pada Key.


"Ini apa, Bang?" tanya Key pada Abil.


"Gak tahu Key, itu tadi ada mobil mewah dan sepertinya dia seorang supir. Lalu menitipkan ke aku buat kamu," tutur Abil pada Key.


Key menerima dengan sejuta rasa penasaran, karena tidak tahu siapa dari seorang pemberi. "Bang, kamu tidak tanya ini dari siapa?" kata Key.


Seketika Abil menepuk jidatnya, karena baru ingat jika ia lupa untuk bertanya. "Maaf aku tadi lupa gak tanya dari siapa," jelas Abil yang merasa bersalah, karena tidak tahu siapa pengirim tersebut.


Hufff.


Terdengar helaan nafas dari Key, karena ia penasaran dari siapa makanan yang dititipkan pada Abil.


"Hye Abila, alias Sabilillah! Makasih ya." Lantas Key pun berterimakasih pada Abila, sosok lelaki dengan sejuta pesona karena sari dari banyaknya wanita sudah ia sesap. Makanya Abila sangat cantik, meski dia seorang lelaki.

__ADS_1


"Idih, macam mana kamu itu. Udahlah buruan makan," ujar Abila sembari berjalan layaknya Miss.


Beberapa saat kemudian, Key yang penasaran dengan isi paper bag tersebut. Langsung mengambil isi di dalamnya.


"Wahh ... ini pasti enak," puji Key terhadap makanan yang ia pegang saat ini.


"Eh, tapi ini dari siapa ya? Apa dari om Ian, masa sih dari itu bule?" Key bertanya-tanya dalam hati, soal siapa yang sengaja mengirimi makanan untuknya.


Sedangkan di lain tempat. Seorang pemuda tengah duduk di kursi kebesarannya. Yang saat ini tengah berbicara pada seseorang. "Bagaimana?" tanya lelaki itu.


Seorang dengan pakaian dinasnya, dengan profesi sebagai Scurity . Langsung menghadap bos nya, dan mengatakan jika perintahnya sudah dijalankan.


"Sudah Tuan, tadi saya titipkan pada salah satu temannya." Jawab Scurity tersebut.


"Kerja bagus, sekarang kamu bisa keluar." Sosok lelaki itu pun memerintahkan scurity untuk keluar dari ruangannya.


Lelaki itu pun merasa senang, jika nanti makanan yang dikirim olehnya. Telah dihabiskan, dan itu adalah menu baru di restorannya, dan orang pertama yang akan mencicipi rasanya ialah Key. Sebelum di tulis menjadi menu lainnya.


"Aku harap kamu menyukainya, Key." Lelaki itu bergumam seraya membayangkan jika istrinya akan memuji menu yang sempat dikirim kepadanya siang tadi.


Lepas itu, yang sekarang sudah malam. Brian memutuskan untuk pulang lebih awal, karena ia ingin istirahat walau sejenak.


Sesaat kemudian, Brian menatap dalam ke arah Key, dengan wajah lelahnya masih tersimpan kecantikan alami yang didapat di wajah Key.


"Kamu selalu cantik Key, meski tanpa makeup sekalipun." Brian bergumam seraya terus membelai lembut wajahnya, dan hal itu ternyata membuat Key sedikit terganggu.


Uhhhh.


Key menggeliat karena sedikit merasakan tidak nyaman pada area kepalanya.


Masih dengan belaian lembut, hingga Key secara perlahan membuka matanya. "Om," panggil Key.


"Kenapa tidak tidur di kamar. Apa kamu sengaja mau donor darah?" ujar Brian dan Key tidak mengerti dengan ucapan Brian.


"Siapa yang donor darah, apa Om lagi mengigau makanya ngomongnya ngawur." Key berujar dengan mata di paksa untuk membuka.


"Lha itu apa, kalau bukan donor darah." Brian menunjuk ke arah kaki Key, dan di situlah akar permasalahannya.


"Mau saya bantuin?" kata Brian lagi karena hewan tersebut. Dengan brutal menghisap darah Key tanpa punya rasa kenyang.

__ADS_1


"Iya, tapi ...."


Hiaaaaaaa.


Pakh.


Pakh.


Huaaaaaaa.


"Dasar Om sialan!" umpat Key dengan berteriak sekeras mungkin.


"Setidaknya itu hewan penghisap sudah mati," kata Brian dengan bangga.


"Lihat ini kulitku! Langsung berubah warna kan, gegara Om naboknya berlebihan." Tidak tahan lagi Akhirnya Key mengomel tanpa jeda. Sampai-sampai membuat Brian jengah, dan memilih pergi untuk bersih-bersih.


"Woee ... tunggu!" teriak Key pada Brian, dan sepertinya gadis itu masihlah dendam.


####


Tak terasa hari-hari pun kian semakin cepat, dan sudah sebulan ini Brian jarang ada di rumah. Lantas hal itu semakin membuat Key merasa diacuhkan.


"Kerja apaan sih om Ian itu, kenapa terus pulang malam. Terakhir pulang sore di jam sembilan malam dan itu kejadiannya sudah dua minggu lalu," gerutu Key yang merasa kesal pada Brian, yang selama ini tidak pernah ada kesempatan untuk berada di rumah, walau sejenak saja.


"Yang, pasti buat istri saya nanti." Jawab Brian, dan saat itulah Key diam. Tidak beraksi sama sekali karena yang disebut bukan namanya.


"Apa mungkin om Ian punya wanita lain, dan itu adalah calon istrinya?" tanya Key dalam hati.


"Om, Om punya istri lain?" tanya Key mencoba memberanikan diri dan bicara.


Brian pun menatap Key begitu dalam, sepertinya gadis itu belum sadar juga pikir Brian. "Iya, karena wanita itu lebih menghargai saya daripada kami!" ucap Brian, dan hal itu membuat Key seketika lesu.


"Apa ini yang dinamakan patah tulang. Sakit sayang tidak berdarah," gumam Key dalam hati saat mendengar pengakuan Brian.


Berarti sebentar lagi mereka akan bercerai, karena Brian akan mendapat istri yang jauh lebih sempurna daripada Key.


"Key, tinggu!" teriak Brian yang sedang memanggil Key, tapi tidak digubris. Key yang sudah terlanjur kecewa akhirnya memilih pergi ke kamar.


Brakkkk.

__ADS_1


Suara bantingan pintu yang begitu keras. Sehingga membuat Brian terlonjak karena kaget.


__ADS_2