Duda Somplak VS Bocah Tengil

Duda Somplak VS Bocah Tengil
47. Kemarahan Brian


__ADS_3

"Itu, kan ...." belum sempat Brian berucap. Namun, sosok wanita telah keluar dari dalam mobil, dan hal itu membuat lelaki dengan predikat duren( atau duda keren) hanya bisa mematung. Dengan penuh amarah, lantaran pulang di antar oleh lelaki lain.


Tanpa pikir panjang, Brian langsung menghampiri Key, dan langsung menariknya. "Lepaskan aku!" pekik Key saat tangannya di tarik paksa.


Seolah buta, Brian justru menarik lengan Key dengan begitu erat, dan dengan tatapan tajam. Ia menoleh pada lelaki yang ada di samping Key, dan langsung turun. "Pak, maaf saya tadi tidak meminta izin saat ingin membawa Key, tolong lepaskan dia. Kasihan kan kalau dipaksa," ucap Dimas, dan seketika Brian mendelik seakan bola mata hendak keluar dari tempatnya.


"Kau panggil saya apa?" suara Brian terdengar sangat menakutkan. Hingga membuat Dimas merinding disko, karena sepertinya sudah salah ucap.


Glek.


Dimas berusaha menelan saliva dengan susah payah, sebelum mengulang kalimat tersebut. "Pak!" ucap Dimas dengan wajah yang sudah dipenuhi oleh keringat, padahal malam ini sedikit dingin. Dibanding malam-malam sebelumnya.


"Apa muka saya terlihat tua, sampai kau memanggilku dengan sebutan 'Pak' apa kau pikir saya setua itu?" ujar Brian dengan tatapan tajam ia berbicara pada Dimas, dengan aura mematikan.


"Ma-af Pak, eh Om. Maksud saya," ucap Dimas karena tidak menyangka jika orang tua Key begitu sangat menakutkan.


Sedangkan Key, antara marah dan ingin tertawa. Pasalnya Dimas kira jika Brian adalah Bapaknya.


"Jangan pernah membawa Key lagi, karena dia sudah ada yang punya!" seru Brian dengan memegang krah Dimas.


"I-iya Om, saya tahu." Jawab Dimas terbata.


"Bagus, sekarang masuk mobil dan laju kan bannya itu."


"Kamu Key, masuk!" bentak Brian.


Tanpa banyak bicara dan ini kali kedua Brian marah. Tidak ingin kejadian beberapa bulan lalu menimpanya, lantas Key pun memilih masuk.


Begitu juga dengan Dimas, dengan keringat dingin. Ia masuk ke dalam mobilnya dan tentunya ini adalah sebuah tantangan untuknya. Terlihat garang macam Bapaknya macan, ia yakin kalau suatu hari si jaguar akan ditaklukkan.


"Sialan," umpat Brian saat mobil milik Dimas sudah meninggalkan pelataran rumahnya.


"Apa dia tidak punya cermin, dan menyamakan aku dengan usia lanjut? Ckckck. Dasar bocah," gerutu Brian lagi dengan langkah menuju pintu rumah.


Saat Brian sudah masuk, ia menatap tajam ke arah Key.


"Apa kamu sudah puas membuat saya cemburu, ups." Setelah mengatakan hal itu, Brian buru-buru menutup mulutnya karena sudah keceplosan.

__ADS_1


Sedangkan Key masih bengong dengan mata melotot. Baru kali ini Key mendengar jika Brian sudah cemburu dengan Dimas, dan tanpa sadar lelaki itu mengatakannya di depan Key.


"Lupakan itu, saya hanya mengetes. Seberapa terkejutnya kamu," kata Brian lagi yang mengalihkan pembicaraan, karena tidak mau jika Key berbesar kepala.


Ckckckck.


Key berdecak pinggang, karena ia yakin jika Brian sedang cemburu. Terlihat ekspresinya saat memarahi Dimas, dan hal itu membuatnya merasa malu.


"Kalau Om tidak cemburu, kenapa bilang kalau aku udah ada yang punya? Harusnya Om juga tidak semarah itu, kan."


Jlepp.


Mungkin inilah yang namakan senjata makan tuan, karena ucapan itu berbalik kepada Brian.


"Saya hanya menjaga kamu dari lelaki yang tidak baik, memangnya salahnya ada di mana?" serang balik Brian dan dengan alasan apapun itu. Ia akan terus berusaha agat tidak terlihat bahwa memang dirinya sedang cemburu.


"Cih, menyebalkan. Memangnya Om Brian adalah lelaki yang baik, aku rasa tidak!" pekik Key dengan nada tidak suka saat Brian seakan peria yang paling baik.


"Sudahlah, jangan membantah. Saya mau kalau kamu tidak lagi jalan dengan lelaki lain, selain saya." Brian yang sudah lelah, memilih menyudahi pertengkaran tersebut. Namun, nampaknya Key masih tidak terima.


"Om egois, Om bilang ada wanita lain dan sebentar lagi kalian akan menikah, tapi aku tidak boleh—."


Key melotot, belum sempat melanjutkan kekesalannya. Lagi-lagi Key dibuat ternganga dengan kelakuan Brian, yang mencuri ciuman di bibir.


"Jika kamu terus mengomel. Maka bibir itu akan habis saya lahap," ujar Brian dengan senyuman licik.


Seketika Key menutupi mulutnya dengan kedua tangannya. "Om, resek."


Key menghentakkan kakinya dan meninggalkan Brian, antara rasa kesal, dan lapar. Kini sudah menyerangnya hingga membuat Key sepanjang waktu hanya manyun.


Pertengkaran sudah berakhir, tapi Key tetap manyun. Seperti orang gila karena sedari tadi terus keluar masuk kamar, dan sesekali meninggalkan suara sendal yang dikenakannya.


Brian yang melihat Key pun merasa pusing. Sampai tidak fokus pada layar laptopnya. "Jika lapar, segera makan. Jangan seperti anak kucing yang sedang menganggu majikannya," ucap Brian tiba-tiba dan membuat Key langsung berhenti, dan menatap ke arah lelaki yang sudah siap dengan baju tidurnya.


"Apa Om buta, di meja sama sekali tidak ada makanan!" seru Key merasa kesal karena di meja. Tidak ada sepiring makanan yang bisa dimakan.


Hufff.

__ADS_1


Dengan helaan nafas panjang. Akhirnya Brian bangun dan segera pergi ke dapur.


"Ikut aku," ajak Brian.


"Mau ke mana?" tanya Key.


"Mau nongkrong di atas pohon randu." Jawab Brian dengan asal, dan Key pun semakin bertambah kesal.


"Dasar somplak," gerutu Key.


"Meski somplak saya suami kamu," sahut Brian.


Ckckck.


"Salah lagi," batin Key.


Setelah sampai di dapur. Brian pun melihat nasi masih ada, dan sekarang ia akan mengubahnya menjadi nasi goreng. Di kulkas masih ada bahan yang bisa ia masak dan segerah mengolahnya.


Tidak lupa Brian memasang celemek sebelum memulai perang dengan perkakas, dan dengan cekatan ia mulai membuat bumbu nasi goreng, dan mengeluarkan telur juga.


"Mau aku bantu, Om?" tawar Key.


"Kamu duduklah, dan kunci mulutmu rapat-rapat agar tidak seperti bebek yang sedang berenang." Sebuah kalimat menjengkelkan untuk Key, tapi kali ini ia memilih diam karena perutnya sudah cukup lapar untuk mengoceh.


Setelah berucap, Brian pun melanjutkan acara memasaknya, dan tidak ingin jika istri kecilnya kelaparan di tengah malam.


Sesaat, bau harum masakan kian menyeruak ke dalam indra penciumannya Key, hingga tanpa sadar gadis itu mengendus-endus bagaikan kucing, karena aromanya begitu sangat menggiurkan.


"Awas itu iler jatuh," goda Brian tiba-tiba.


"Enak saja, aku bukan perempuan ileran, ya!" sungut Key tidak terima.


"Terus kenapa itu mulut sudah mirip goa?" kata Brian yang semakin senang untuk menggoda Key.


"Dasar Om duda nyebelin," umpat Key karena sedari tadi. Brian terus saja mencari gara-gara kepadanya.


"Nih, coba." Brian lantas menyodorkan sendok yang berisikan nasi goreng buatannya pada Key.

__ADS_1


Satu suapan, saat mulut Key mulai mengunyah. Mata Key melotot layaknya sedang merasakan sesuatu, dan mulutnya terus mengunyah meresapi masakan dari suaminya.


__ADS_2