
Hari-hari yang dijalani oleh Key sedikit ada perubahan. Namun, yang tidak bisa ia terima adalah permintaan Brian.
Lelaki dengan usia yang sudah matang. Memintanya untuk berhenti bekerja, bagi Key rasanya tidak mungkin untuk meninggalkannya.
Seperti sekarang, keduanya kembali berdebat.
"Key, apa gajih yang saya kasih masih kurang? Katakan jika kurang saya akan menambahkannya lagi. Berapa yang kamu minta asalkan turuti permintaan ini," ucap Brian penuh penekanan.
"Om, bukan masalah gaji, tapi rasanya sangat berat jika aku berhenti. Sedangkan di rumah aku mau ngapain?" ujar Key dengan menengadahkan kedua tangannya.
"Cukup dengan melayani saya, lalu duduk manis di rumah menyambut kepulangan suamimu." Seketika Key tertegun dengan ucapan Brian, bukannya lelaki itu pernah berkata bahwa sudah mempunyai calon. Lantas kenapa justru merayu Key untuk mengikuti perintahnya? Itulah yang sekarang ada dipikiran Key.
"Jangan bengong. Besok kamu sudah menyerahkan surat pengunduran diri dari minimarket itu," tukas Brian.
__ADS_1
"Om, bukannya Om pernah bilang kalau ada wanita lain?" Mungkin saat ini lah Key mulai mempertanyakan akan hubungannya, yang tengah di gantung dan akan meninta kepastian pada Brian.
"Dasar bodoh, apa kamu belum sadar juga akan sikapku padamu. Apa yang saya lakukan semua itu kurang terlihat, makanya kamu bisa berasumsi seperti itu." Anisa yang mendengar hal itu langsung tertunduk, tidak berani menatap laki-laki yang ada di hadapannya.
Memang benar jika selama ini Brian tidak pernah menyakitinya dan membuatnya sengsara. Semua kebutuhan sudah terpenuhi hingga tidak pernah kekurangan sedikitpun.
"Lihat saya Key dan tatap saya, apa kamu tidak bisa melihat kerja kerasku selama ini. Sampai kamu punya pikiran seperti itu, saya pernah gagal dalam pernikahan san kali ini saya tidak mau gagal lagi, kamu mengerti!" suara lantang dari Brian cukup terdengar sangat mengerikan, sampai Key pun tidak berkutik.
"Dasar bodoh!" umpat Brian dengan gemas.
"Sekarang tidurlah dan besok jangan lupa. Kamu sudah lalai dengan kewajibanmu, jangan sampai kamu mendapat predikat istri durhaka!" kata Brian yang memilih untuk menyudahi.
Key tidak berani menjawab, karena selama ini dirinya juga merasa bukanlah istri yang sempurna. Nyatanya selama menikah ia tak sekalipun bisa jadi istri yang di mau oleh Brian.
__ADS_1
Di pagi hari. Key sayup-sayup mendengarkan suara orang yang sedang berbicara. Kedengarannya sangat serius dan Key bisa memastikan hal itu. Merasa penasaran lantas Key pun langsung menempelkan telinganya di tembok, karena rasa penasarannya terlalu besar.
"Sebenarnya apa pekerjaan Om Ian? Kenapa seolah-olah sedang menangani proyek besar?" dalam hati Key bertanya-tanya karena merasa jika ada yang disembunyikan oleh Brian.
Key terus mendengarkan percakapan antar telepon, meski tidak jelas.
Tidak lama kemudian, suara itu hilang dan terdengar suara dari pintu. Ia yakin jika Brian sudah keluar padahal sekarang masih jam lima.
"belum juga denger, tapi sudah main selesai." Key bergumam karena ia terlihat begitu sangat bodoh. Saay Brian menerima telepon dan berbicara inggris.
Key pun akhirnya memilih untuk keluar dari kamat meski sedikit malas. Biarpun begitu nyatanya Key tetap bangun dan mulai rutinitas pagi, padahal matanya masih enggan untuk dibuka.
Dengan cepat Key sudah rapi, tapi anehnya ia sama sekali tidan melihat Brian. "Ke mana orang itu, cepet banget hilangnya.
__ADS_1