Duda Somplak VS Bocah Tengil

Duda Somplak VS Bocah Tengil
34. Kemarahan Brian


__ADS_3

"Masuk kamu!" titah Brian pada Key yang mana lelaki tersebut menyuruhnya untuk segera masuk.


"Gak usah ngebentak bisa tidak," ujar Key yang merasa kesal, karena lelah sehabis pulang bekerja, di tambah beban pikiran. Namun, Brian justru membentaknya dan mendorongnya dengan kasar.


"Kamu perlu di kasari, agar punya efek jera." Jawab Brian dengan nada ketus.


"Hye Om, aku pulang dari kerja dan sedang tidak lagi keluyuran. Apa Om sedang kerasukan, makanya hawanya pengen ngamuk?" kata Key dengan wajah kesalnya.


"Apa ini alasan kamu meminta untuk berpisah?" ucap Brian sambil menghadapkan layar ponsel ke arah Key.


"Om, apa maksud semua ini?" Key menatap gambar dengan seksama. Gambar seperti dirinya saat sore tadi, dan kenapa sekarang ada di ponsel milik Brian, itulah yang sekarang ada di pikirannya.


"Harusnya saya yang bertanya kepadamu. Bukannya kamu yang bertanya balik!" seru Brian.


"Itu orang yang sempat menolong aku, Om. Tadi hampir celaka dan tiba-tiba ada orang yang menghampiriku," jelas Key yang berusaha memberitahu dengan kejadian sore tadi.


"Lagian aku tidak kenal dengan orang itu," kata Key lagi.


"Bohong!" bentak Brian dan seketika Key tersentak.


Bagi Key ini kali pertama melihat Brian semarah itu, karena sebelumnya tidak pernah. Apalagi keduanya menikah tanpa didasari oleh rasa cinta. Rasanya sangat tidak adil kalau hanya melihat Key dipeluk oleh seseorang.


"Ingat Om, kita menikah tidak dilandasi akan rasa cinta, lantas kenapa Om bisa semarah itu saat aku dipeluk oleh orang?" kata Key dengan sorot mata yang tajam.


"Itu artinya saya boleh menyentuhmu juga kan, kalau orang lain bisa memelukmu. Maka saya juga bisa lebih dari itu," ujar Brian dengan tatapan bak kucing kelaparan .


Key seketika berangsur mundur, entah kenapa kali ini dirinya merasa ketakutan. Saat Brian terus melangkah mendekatinya. Bak aura iblis yang ingin menerkam mangsanya, senyuman jahat tercetak jelas di wajah lelaki tersebut. Membuat Key tak bisa lagi menahan air matanya.


Lalu, untuk masalah orang yang tengah memeluknya di jalan tadi, kenapa tidak menunggu Key menjelaskan dan mempunyai asumsi sendiri saat kejadian tersebut.


"Om, tolong jangan membuat aku takut." Wajah Key yang sudah pucat, meminta Brian untuk melepaskannya, tapi semua itu tidak dihiraukannya.


"Siapa laki-laki itu? Jawab Key!" lagi-lagi suara bentakan itu membuat Key tersentak.


"Sudah aku bilang bahwa aku tidak mengenalnya." Jawab Key dengan keadaan yang sudah terhimpit.


Kini Key sudah tidak bisa bergerak, dan Brian telah berhasil mengunci tubuh istri kecilnya di tembok.

__ADS_1


"Saya tidak suka jika berhubungan dengan laki-laki lain selain saya, paham!" tegas Brian dengan tatapan bringas nya yang siap memangsa makhluk di depannya.


"Lepaskan aku Om, huhuhuhu. Lepaskan aku," ucap Key dengan air mata yang sudah berlinang.


"Jangan pernah lagi, berhubungan dengan pria lain. Mengerti, atau kamu tidak akan pernah lepas dari cengkeraman saya." Key semakin takut dibuatnya.


"Sudah aku bilang aku gak pernah berhubungan dengan laki-laki lain ...."


Cup.


Tidak membutuhkan waktu lama, Brian telah berhasil mencium bibir Key untuk pertama kali.


"Ingat akan kata-kataku," ujar Brian setelah mendapatkan ciuman dari Key.


Sedangkan Key yang baru saja kehilangan keperawanan akan bibirnya. Matanya melotot tidak percaya dengan ulah Brian.


Sedetik kemudian. Key langsung meraba bibirnya. Ada perasaan aneh saat bibir Brian menempel di bibirnya.


"Om!"


Cup.


Kali ini Key tidak bisa berkutik, dan hanya diam bak sebuah manekin.


Sebuah aliran listrik membuatnya langsung tersengat, dan rasa aneh kian menjalar ke seluruh tubuh.


Beberapa detik kemudian. Brian melepaskan pagutannya, dan tersenyum manis.


"Seperti lolipop, tapi kamu juga harus sering belajar supaya bisa caranya membalas." Ucapan Brian membuat Key menahan malu sekaligus kesal.


"Ingat Key, jika kamu berani maka akan ada yang lebih gila dari ini." Brian berkata lagi, dan dengan sebuah ancaman. Ia yakin jika istri kecilnya itu tidak akan berani macam-macam.


"Om, Om sudah mencuri apa selama ini aku jaga?" ujar Key dengan keadaan lemah karena perlakuan Brian, sehingga membuat tenaganya berkurang.


"Saya tidak mencuri, karena itu sebagian dari hak saya." Jawab Brian tanpa rasa salah sedikitpun.


"Ingat pesanku. Kalau kamu berani melanggar maka siap-siap menjadi janda!" tegas Brian, lalu meninggalkan Key yang masih berdiri.

__ADS_1


"Perasaan apa ini, harusnya aku marah karena lelaki itu sudah mengambil bibirku, tapi kenapa aku justru menikmati." Key mengutuk dirinya sendiri yang tak bisa menolak gejolak di hatinya.


Dengan langkah sempoyongan Key lekas tidur, dan rasa ingin mandi sudah dikalahkan dengan rasa lelah.


...........


Keesokan paginya.


"Auh, ini kaki rasanya kok semakin ngilu ya?" Key yang sudah bangun. Tiba-tiba merasakan kakinya sakit luar biasa.


"Eh Om Ian, kenapa tidur di bawah kakiku?" Key bertanya-tanya pada dirinya sendiri saat melihat suami bule nya itu tengah tertidur pulan di samping kaki Key.


"Kamu begitu baik Om, hanya saja saat marah seakan tertutup oleh aura gelap dan itu membuatku takut." Key yang bergumam dengan tatapan yang tidak teralihkan dari wajah Brian, yang kini masih terlelap di dunia mimpi.


Masih dengan tatapan sama. Tubuh Brian sedikit bergerak, dan hal itu membuat Key buru-buru membuang muka, karena tidak mau sampai terlihat oleh Brian.


Eummmmm.


Brian merenggangkan kedua tangannya, sebelum benar-benar sadar.


"Key, apa kaki kamu sudah membaik?" dengan mata yang belum sempurna terbuka, Brian masih sempat bertanya akan kaki Key yang sakit akibat cedera.


"Apa Om yang membulatkan perban di kaki ku, dan mengompres yang bengkak?" tanya Key berhati-hati.


"Saya hanya tidak tega melihat kaki kamu yang bengkak," ucap Brian dengan melirik kaki Key.


"Bukannya aku sudah bilang sama Om, kalau kemarin sore aku hampir tertabrak, dan tiba-tiba ada orang—."


Sssttt.


Brian langsung menutup bibir Key dengan satu jemarinya. Agar Key tak lagi berbicara.


"Maaf Key, saya sudah tahu semuanya. Saya benar-benar minta maaf," kata Brian yang tengah menatap wajah gadis yang berada di depannya kini.


"Kamu tahu Om, Om sudah menyakiti tubuh dan hatiku, saat kalimat Om yang menyinggungku?" ujar Key yang masih teringat dengan kejadian semalam.


"Saya mengaku salah, sebagai bentuk permintaan maaf, kamu mau ke pantai?" saat itu juga wajah Key terlihat gembira, karena akan diajak jalan-jalan ke pantai. Hal yang belum ia lakukan karena sibuk bekerja.

__ADS_1


Dengan rasa yang tak menentu. Key langsung memeluk Brian.


__ADS_2