
Hujan yang sempat membasahi bumi, kini sudah reda. Terlihat awan mulai memutih dan cerah.
Tepat saat Key menatap ke arah langit. Sebuah pemandangan membuatnya sangat bahagia. Pelangi yang tengah menampakkan diri. Membuat Key tersenyum dan ingatannya kembali dimasa kecilnya kala itu.
Saat Key tengah menikmati keindahan tersebut. Sebuah panggilan membuatnya tersadar dari memorinya yang kini masih ia simpan dengan apik.
"Key, yuk." Brian mengajak Key untuk segera pergi dan melanjutkan pencarian.
"Maaf Om, aku terlalu mendalami akan ingatanku saat kecil dengan Ibuku." Key tersenyum, dan mengatakan pada Brian akan masa lalunya dengan sang Ibu.
"Bukannya mertua di rumah sedang baik-baik saja?" tanya Brian dengan wajah bingung.
"Tidak, ibu kandungku sudah tiada. Sedangkan di rumah adalah ibu tiriku, tapi kasih sayangnya sama dengan yang diberikan oleh Almarhumah." Jawab Key yang mulai sedih karena teringat.
"Ingatlah beliau dalam solatmu, dan kenanglah bersama doa. Dengan begitu Almarhumah akan bahagia di atas sana," ucap Brian memberi nasehat pada Key.
"Tumben bijak, biasanya juga agak nyeleneh." Brian yang mendengar perkataan Key, seketika membuat lelaki tersebut berdecak sebal.
"Namun, ada benarnya apa yang Om katakan barusan." Key menambahkan lagi.
Setelah mengatakan hal itu. Key langsung berlari menuju motor yang di bawa oleh Brian
"Dasar bocah nakal, kamu ya!" teriak Brian pada Key.
........
"Akhirnya nemu juga setelah bertahun-tahun blusukan," ucap Key lalu menghempaskan bokongnya di kursi m, yang terdapat di teras depan rumah.
"Belum juga setahun, pakai ngeluh." Brian menyahut, saat Key tengah berbicara sendiri.
"Itu kan hanya perumpamaan, kenapa serius amat sih menanggapinya!" cetus Key dengan hidung yang sudah kembang kempis.
__ADS_1
"Gitu saja mau nangis," kata Brian.
"Bodoh."
Akhirnya rumah yang dikontrak Brian sudah deal, dan tinggal menempatinya. Rumah yang tak sebegitu besar, membuat Brian sedikit berlikir.
Apa nantinya bisa menjalaninya?
Apa kedepannya dia kuat?
Apa bisa Brian hidup dengan rumah yang kecil, tanpa AC, tanpa Shower, dan tanpa king size?
Semua sudah berada di dalam isi kepala Brian, dan belum terbiasa hidup tanpa fasilitas. Membuat Brian harus menguatkan mental dan fisiknya.
"Kehidupan baru sudah dimulai," gumam Brian di dalam hati. Dengan wajah yang tak biasa, seolah tidak menerima akan takdir ini, tapi semua sudah terlanjur dan itu artinya Brian harus mulai berdiri mulai dari nol lagi.
"Om, kenapa itu wajah?" tegur Key dengan wajah polosnya.
"Ini bocah ngeledek amat ya, sok tidak tahu apa yang terjadi." Brian mengumpat dalam hati karena merasa ucapan Key memang disengaja dan mengarah ke arah ledekan.
"Idih, jutek amat." Balas Key dengan seulas senyuman seakan dirinya senang, karena Brian akan merasakan hidup seperti yang sudah dijalani oleh Key.
"Daripada kami ngeledek mulu. Mending sekarang kita pulang," ajak Brian pada Key yang masih asik. Menikmati suasana di depan rumah, karena di hadapannya tersuguh semua taman mini, dan itu cukup membuat hati tenang.
"Masih pengen liatin bunga, hawanya syahdu bange, Om." Key berujar dengan menatap wajah Brian, seolah memberi tahu jika ingin sedikit lagi waktu.
"Baik 20 menit, itu sudah dari lebih cukup."
Key menangguk dan tidak protes untuk waktu yang sudah diberikan oleh Brian.
.......
__ADS_1
Sedangkan di tempat lain.
Bu Endang dan suaminya tengah menunggu kepulangan anak menantunya, karena hari sudah cukup sore. Namun, mereka berdua belum juga pulang.
"Pak, mereka ke mana ya. Kok sampe ini hari belum pulang?" kata bu Endang pada Pak Rudi.
"Iya ya, memangnya mereka ke mana sih. Kok dari tadi pagi udah main minggat," balas pak Rudi.
"Kalau Ibu tahu, mungkin tidak akan tanya, Pak." Bu Endang mendengus kesal karena jawaban Pak Rudi membuatnya emosi.
"Nah ... tuh mereka," tunjuk pak Rudi saat netranya tengah menangkap anak menantunya, baru saja sampai di depan rumah.
"Nantilah kita tanya. Ibu penasaran sebetulnya mereka pergi ke mana," ujar bu Endang.
"Terserah Ibu saja." Hanya itu yang dikatakan oleh pak Rudi, karena juga tak perlu ambil pusing dengan ke mana anak menantunya pergi, toh mereka sudah dewasa.
Sesaat kemudian.
"Kalian darimana saja suh, sampai ini hari baru palang?" tanya bu Endang saat Key dan Brian sudah memasuki rumah.
"Yang pasti dari jalan-jalan dong," timpal Key dengan nada sombongnya, tapi itu hanyalah candaan untuk membuat Ibunya marah.
"Sudah pulang sore, kaga bawa makanan pula. Dasar kalian emang pelit!" sungut bu Endang karena Key pulang dengan tangan hampa.
"Salah sendiri, kenapa tadi gak pesan." Jawab Key yang tak mau kalah.
"Iya kali nitip, harusnya kan peka!" kata bu Endang dengan wajah cemberut.
"Jadi, menurut Ibu, kalau aku pulang dari suatu tempat harus pulang bawa makanan gitu?" tukas Key dengan kedua tangan menadah ke atas.
"Tuhannn ... ampun ini anak ya," ucap bu Endang dengan wajah frustasi.
__ADS_1
"Sudahlah jangan memasang wajah melas Bu, karena tetap saja akan bertambah keriput. Tuh di tangan om bule," ucap Key pada Ibunya.
"Isssh, dasar nakal kamu."