
Rasa jengkel seakan hilang saat Brian mengatakan jika dirinya akan menjadi hantu jepang.
"Sudahlah, jangan banyak drama. Jika tidak! Maka aku akan benar-benar memasukkan Om ke dalam sini," ucap Key seraya jarinya mengarah ke sumur.
Setelah berujar, Key pergi meninggalkan Brian, karena dirinya akan membersihkan kamar yang lumayan berdebu.
Key yang tengah bersih-bersih tidak lupa, kedua telinganya di sumpal oleh alat musik, dan mendengarkan lagu kesayangannya. Yaitu Kangen Band, dengan judul cinta yang sempurna.
Namun, pada saat menyapu tanpa di duga. Tubuhnya menabrak sesuatu, tapi anehnya sesuatu itu tidaklah keras dan Key yakin jika bukan tembok.
"Kok, rasanya seperti tulang lunak terus bikin badan merinding ya?" gumam Key yang tengah berpikir kira-kira apa yang telah ditabraknya.
Dengan rasa penasaran. Key lantas mendongakkan kepalanya ke atas.
Huaaaaaaaaa.
"Om, kamu menodai mataku!" teriak Key yang ternyata itu adalah Brian.
Pletak.
"Apa kamu pikir saya pria mesum?" ujar Brian setelah mendaratkan jemarinya di kening Key.
"Om, itunya kelihatan!" kata Key yang masih menutup matanya dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Hye bocah, meski handuk saya kamu injak nih lihat!" sergah Brian karena sudah tidak kuat lagi melihat kelakuan Key yang berlebihan.
"Kalaupun di bawah pakai kolor, terus itu yang atas apa? Jangan membuat mata suciku semakin berdosa." Key berujar dengan jantung yang berdegup, dan ini kali kedua melihat Brian bertel*njang dada. Meski lelaki tersebut sudah memakai kolor sekalipun.
"Otak mu saja yang berterbangan!" seru Brian.
"Apa jangan-jangan kamu kepengen ya. Sini saya mau kok dan gak nolak," ujar Brian lagi yang terus mendekati Key.
"Huaaa ... lepaskan tanganku! Aku tidak mau," teriak Key pada saat Brian tengah memegang kedua lengan Key.
"Tetapi, saya mau." Jawab Brian dengan wajah layaknya orang kesurupan.
"Bapaaaak!"
Keyla terus meraung meminta dilepaskan, dan Brian pun seakan buta dan tuli. Tidak mendengar teriakan Key yang semakin ketakutan, sampai-sampai terisak.
Hahahaha.
Brian seketika melepaskan kedua tangan Key, dan tidak lupa sebuah tawa menghiasi isi kamar.
"Dasar bocah, belum juga di bobol. Udah main nangis," ujar Brian yang tengah mengejek Key.
Huaaaaa.
__ADS_1
Key semakin mengeraskan tangisnya, dan membuat Brian panik.
"Lha ini anak kenapa jadi keras gini nangisnya?" ucap Brian dengan mengusap wajahnya kasar.
"Key, diam dong. Kamu mau tetangga pada ke sini?" ucap Brian memberitahu agar Key diam.
"Om jahat, Om tega. Aku sudah ketakutan tau!" Key mengusap air matanya dengan sesekali sesenggukan dan itu membuat Bria merasa bersalah karena kejahilan yang ia perbuat.
"Ya sudah kalau begitu saya minta maaf," ucap Brian.
"Gak mau." Jawab Key menolak permintaan maaf dari Brian.
Meski Brian sudah minta maaf, tapi Key tetap tidak mau memaafkan Brian, karena menurut Key jika suami dudanya itu sangat keterlaluan.
Andai saja hal itu terjadi, sedang Key tidak siap. Bisa dipastikan setelah ini dirinya akan mogok makan, mogok beberes, mogok semuanya.
"Lagian kalau terjadi kenapa juga? You know, bahwa kita sudah sah." Brian berbicara dengan dengan sorot mata yang tak teralih kan dari pandangan Key.
"Aku belum siap, jadi Om tidak bisa memaksakan kehendak, kan?" ujar Key yang memang belum siap dengan ini semua.
"Suatu hari semua ini akan terjadi juga kan, dan kamu harus tahu itu.
Mendengar hal itu. Key hanya tertunduk, bahwa benar jika suatu saat apa yang ditakutkan akan terjadi juga.
__ADS_1