
"Kenapa Tante menamparku?" kata Mira sedikit bingung karena tiba-tiba saja, Tante Linda menamparnya dengan sangat keras.
"Karena kamu pantas mendapatkannya!" seru Tante Linda.
"Tapi aku ada salah apa Tante?" Mira yang menahan panasnya akan tamparan tersebut, masih mencoba untuk tetap tenang. Jika tidak, maka sia-sia apa yang sudah direncanakan oleh Mira akan gagal.
"Sepertinya otak kamu perlu di cuci dengan pembersih WC, supaya ingat apa yang sudah kamu lakukan pada menantu saya." Tante Linda menekankan kata 'Menantu' karema memang beliau tidak terima jika Key dituduh yang tidak-tidak.
"Tante, tapi dia beneran ngatain aku seperti itu. Apa tidak keterlaluan sampai harus menyebut aku pela*ur," kata Mira dengan nada dibuat-buat. Seolah dirinyalah yang terzalimi.
"Kalau pun kenyataannya memang begitu kenapa? Apa ada yang salah, jangan pura-pura bodoh karana saya tahu semuanya tentang kamu!" rasa geram yang tak tertahankan lagi, akhirnya Tante Linda mengungkap kebusukan Mira.
"Ma, kenapa Mama juga ikut menuduh Mira, jangan membuat praduga yang salah Ma, karena sama saja dengan memfitnah." Brian lantas menegur Tante Linda supaya tidak lagi menyerang Mira, dengan kata-kata yang tidak seharusnya diucapkan.
"Sayangnya tuduhan Mama itu benar, dan kamu Brian! Jangan harap bisa berhubungan lagi dengan wanita sundel ini, karena sampai kapanpun Mama tidak akan sudi."
Huuuh.
Brian nampak menghela nafas, karena saat ini. Kepalanya merasakan denyutan gara-gara masalah kedatangan Mira.
"Sudah-sudah! Aku lelah mau istirahat," dengus Brian lalu meninggalkan Mira dan Tante Linda.
"Mas tunggu, aku ke sini kan buat kamu kenapa pula kamu ninggalin aku sendirian." Mira mengejar Brian, tapi langsung di cegah oleh Tante Linda.
"Mau ke mana kamu?"
"Mas Brian, aku mau ngejar Mas Brian."
"Pergi! Jangan sampai saya murka," bentak Tante Linda karena sungguh wanita itu tidak punya rasa malu.
"Tapi Tante, aku ...."
"Jika tidak pergi maka saya akan menyeretmu!" seru Tante Linda.
__ADS_1
Seketika raut Mira terlihat lesu, dengan kaki di hentakkan. Ia langsung keluar dari rumah dengan menahan kesal yang amat dalam.
"Awas saja, aku pasti bisa membuat kalian patuh padaku, dan kamu Brian aku pastikan jika setelah ini kamu akan memohon-mohon padaku untuk meminta kembali." Mira yang sudah ada di jalan. Mulutnya tak bisa diam karena terus mengoceh layaknya burung kutilang, rasa kesal dan merasa semuanya telah berpihak pada Key, dan di sinilah Mira merasa tersaingi karena tidak ada lagi yang peduli padanya.
.........
Pukul 9:00, Key sudah berada di indomerit. Rasa jengkel masih ada di hatinya akan Brian yang ikut-ikutan menuduhnya akan ucapannya pada Mira.
Ayu melihat itu pun langsung dibuat bertanya-tanya karena tidak biasanya sahabatnya itu murung. Terkenal ceria dan doyan bicara, tapi kali ini ia merasa jika Key tengah mengalami masalah.
"Key, kamu baik-baik saja kan?" tanya Ayu yang melihat temannya melamun di meja kasir.
"Tidak ada apa-apa kok," jawab Key dengan sebuah senyuman yang dipaksakan.
"Kamu bohong Key, aku yakin kamu sedang ada masalah." Ayu berujar sembari tangannya memberikan minuman isotonik pada Key, agar terlihat segar dan tidak loyo seperti orang yang habis lembur.
"Beneran Yu, gak ada apa-apa kok. Cuma sedikit pusing saja," kata Key yang sengaja menutupi masalah yang sebenarnya. Key tidak mau mengatakan akan masalahnya sekarang, dan belum siap untuk bercerita.
"Aku tidak mungkin cerita sama kamu Yu, lagipula aku belum siapa sama apa yang terjadi padaku." Key hanya bisa membatin akan dirinya yang tiba-tiba menikah dengan Brian.
"Yu, aku nanti pulang minta tolong anterin pulang ya?" Key mencoba mencairkan suasana dan melupakan kejadian tadi pagi untuk sejenak.
Ayu yang mendengar akan hal itu, mengeritkan keningnya, dan ada rasa aneh tengah menyelimuti pikirannya.
"Key, tumben. Biasanya juga kamu bawa motor?" tanya Ayu balik, karena Key tidak pernah meminta tebangan selama setahun bekerja di indomerit.
"Motor lagi masuk angin, tadi juga sempet ngojek." Jawab Key dengan santai, dan tidak mungkin juga dirinya mengatakan jika tadi pagi ia berangkat dari rumah mertuanya.
"Oh, ya sudah nanti aku antar, kirain ada apa." Ayu akhirnya bisa bernafas lega karena ternyata Key sedang tidak menyembunyikan sesuatu kepadanya.
Setelah percakapan dan tidak lama kemudian pengunjung nampaknya berdatangan, dan Ayu atau pun Key menyudahi percakapan tersebut.
Hari ini ini cukup melelahkan, meski Key bekerja di dalam ruang yang ber-AC, tidak memungkinkan jika ketiaknya sedikit gerah.
__ADS_1
"Yu, ini hari lumayan pelanggan rame, ya?" ujar Key yang sudah bersiap-siap dengan tasnya, karena sif dua akan segera tiba, jadi Key dan Ayu akan pulang.
"Ini kan tanggal dua, pastilah orang-orang akan belanja bulanan untuk memenuhi satu bulan ke depan."
Ah iya, dasar bodoh, pikir Key.
"Aku lupa Yu, makanya tumbenan pengunjung pada rame." Jawab Key dengan tampang polosnya, karena ia lupa bahwa sekarang sudah tanggal dua, dan Key juga lupa kalau kemarin adalah haria dimana dirinya menerima gaji.
"Mungkin kamu tidak punya hutang, makanya otak kamu jadinya tulalit." Ayu mengejek Key dengan melempar sebuah candaan.
"Kamu bisa saja," timpal Key tersenyum. Mungkin karena hal itu juga makanya Key lupa kalau dirinya sudah gajian.
"Sudahlah, yuk pulang." Lantas Ayu pun mengajak Key untuk segera pulang.
Sebetulnya Key tidak ingin meninggalkan rumah mertuanya. Hanya saja Key terlanjur marah akan sikap Brian yang tak bisa membedakan mana bualan, dan mana yang benar-benar tidak berbuat.
............
Setengah jam telah berlalu dan Key sampai di rumah Ibunya.
Tidak lupa mengucap salam, saat hendak masuk. Akan tetapi, belum sempat Key mengetuk pintu terlihat sosok wanita dengan tubuh sedikit bongsor. Langsung memeluknya dengan sangat erat.
"Buuuu! Sakit, nanti yang ada Key di sholatin ya kalau begini terus-terusan." Bu Endang yang rindu pada Key hingga lupa jika jika Key tengah merintih.
Pletak.
"Auh, sakit!" ucap Key dengan mengelus keningnya.
"Makanya, kalau ngomong jangan asal japlak." Bu Endang menatap sini ke arah Key, karena kata-kata Key tidak enak didengar.
"Mana suami kamu, atau jangan-jangan kamu sendirian, ya?" mata Bu Endang celingukan siapa tahu Key datang dengan menantu bulenya itu, tapi di luar sama sekali tidak ada sosok yang dicari.
"Key cuma kangen Bu, jadinya mampir sebentar." Jawab Key sedikit gagap.
__ADS_1
"Oh."
"Assalamualaikum."