Duda Somplak VS Bocah Tengil

Duda Somplak VS Bocah Tengil
30. Tempat baru


__ADS_3

Hari ini adalah hari dimana Key menempati rumah baru, tepatnya rumah kontrakan yang didapatkan kemarin.


"Baju Om, tolong Om tata sendiri. Jangan memberatkan pekerjaanku!" kata Key dengan wajah setengah ditekuk, mirip kanebo kering.


"Memangnya ada lemari? Itu baju kok mau di tata," ujar Brian dengan menatap heran ke arah Key.


"Ya Tuhan, aku lupa kalau kita kan gak ada lemari." Jawab Key panik karena yang pasti, bajunya akan tetap berada di dalam koper.


"Saya kira kamu sedang amnesia. Makanya lupa jika lemari tidak punya," kata Brian dengan alis yang mengkerut.


"Ya sudah, Om tinggal beli. Apa susahnya sih,"ucap Key yang menyuruh Brian untuk segera membeli lemari, agar baju-baju yang masih tertumpuk di atas kasur bisa segera berpindah tempat.


" Ya sudah nanti, kita akan beli." Setelah itu Brian pergi karena badan yang gerah dan rasanya ingin sekali, bisa segera mandi agar merasa segar.


Sesampainya Brian di kamar mandi. Netranya menatap bingung karena tempat penampungan air kosong, lalu dengan langkah tertatih ia pun memanggil Key.


"Key ... ke sinilah, olong saya!" panggil Brian.

__ADS_1


Key yang merasa terpanggil. Takut jika ada sesuatu di belakang sana. Buru-buru datang untuk melihat apa yang tengah terjadi. "Om, ada apa?"


"Masuklah, nanti kamu bakal tahu." Key yang merasa bingung tidak dapat bicara banyak, karena Key langsung mengikuti ucapan Brian dan masuk ke dalam kamar mandi.


Key mengerutkan keningnya. Tidak ada apapun di dalam kamar mandi. Semua normal layaknya kamar mandi pada umumnya, merasa telah dikerjai Key menatap sinis ke arah Brian. "Apa maksud Om, Om sengaja mengerjai aku ya?" ucap Key dengan wajah yang sudah mulai emosi.


"Itu, kosong." Jemari Brian menunjuk ke arah bak mandi, dan seketika Key menepuk jidatnya. Merasa frustasi dengan apa yang dilihatnya barusan.


"Kan bisa di isi?" kata Key.


"Bagaimana caranya mengisi, di sini gak ada pompa air." Brian lantas mengatakan masalahnya pada Key, padahal dirinya sudah tidak sabar untuk secepatnya mandi.


"Sumur." Brian tercengang dan baru sadar jika si sebelahnya terdapat sumur.


"Iya, apa ada yang salah?" kata Key dengan bola mata naik turun.


"Saya kan mau mandi, tapi kenapa kamu justru ngasih tahu kalau ada sumur." Jawab Brian dengan tampang polosnya.

__ADS_1


"Ya Allah, ampuni dosa-dosanya Om Ian Ya Allah, karena gak tau fungsinya sumur untuk apa." Wajah Key menatap langit, tangan lalu berdoa agar suami bodohnya bisa kembali pintar.


"Kenapa kamu malah mengadu, bukannya kasih solusi! Saya sudah gerah dan secepatnya ingin mandi." Tidak sampai disitu, karena Brian terus mengomel sampai membuat Key berdecak kesal.


"Kalau mau mandi tinggal mandi, kenapa harus terus ngomel sih. Di sumur ada airnya dan tinggal ditimba, bereskan." Sejenak Brian menggaruk rambutnya, karena tidak mengerti bagaimana caranya.


"Om, boleh aku memukul dengan benda ini. Supaya otak Om, bisa lancar dan tidak loading! Sepertinya aku menyerah jadi istrimu." Key berkata dengan langkah yang gontai, entah pemahaman apa lagi yang akan diberikan olehnya, karena Brian sama sekali tidak mengerti cara mengambil air.


"Key tunggu! Saya mau mandi," panggil Brian yang tidak ingin ditinggal sendiri di sumur belakang.


Ckckck.


Key berdecak, merasa sial sudah mempunyai suami berotak minim seperti Brian, yang mana sekarang Key mau tak mau harus kembali dan memberi contoh menimba air, meski dengan rasa malas.


"Nih, gini caranya." Key lantas memberi contoh pada Brian.


"Key, tanggung. Kenapa tidak sekalian kamu saja," ujar Brian dengan kening naik turun.

__ADS_1


"Boleh, tapi mau gak Om aku kempar ke sini?" ucap Key dengan senyuman licik.


"Biar saya saja. Sekarang kamu masuk dan jangan membuat saya berada di bawa sini. Lalu menjadi Sadako," terang Brian.


__ADS_2