Duda Somplak VS Bocah Tengil

Duda Somplak VS Bocah Tengil
37. Pergilah dari kehidupanku.


__ADS_3

"Bagaimana?" ucap Key dengan wajah masamnya karena menurutnya lelaki yang ada di sampingnya terlalu cerewet. Hingga terpaksa Key menyuapkan baksonya.


"Enak, saya akan menghabiskannya." Brian berujar dengan mulut penuh oleh potongan bakso.


"Ini sangat enak sekali, dan sepertinya aku akan tambah." Brian berkata dalam hati jika setelah habis seporsi. Maka dirinya berniat untuk tambah, dan benar saja kalau secepat kilat mangkuknya sudah kosong.


"Pak saya tambah lagi, ya!" pinta Brian pada penjual tersebut.


"Lho Mister bisa bahasa indonesia?" tanya pedagang tersebut.


Uhuk.


Uhuk.


Seketika Key tersedak kuah bakso karena ucapan dari pemilik warung tersebut.


Sedangkan Brian mengangkat kedua alisnya. Mengapa banyak sekali pertanyaan bodoh macam sekarang, pikirnya.


"Tentu bisa, saya juga gak bisu, Pak." Jawab Brian, dan Key pun tertawa terpingkal-pingkal karena antara pertanyaan dan jawaban tidak sambung.


Pemilik warung bakso menepuk jidatnya, sedangkan Key masih tertawa hingga perutnya terasa kram.


"Key, memangnya ada yang salah dari ucapan saya?" ucap Brian sambil menatap Key.


"Ya jelas salah Om, dia kan bertanya kenapa Om bisa berbahasa indo, sedangkan wajah Om itu bule." Key sedikit memberi penjelasan pada Brian, arti dari pertanyaan tersebut.


"Oh, begitu."


"Iya, sekarang mau tambah atau kita pulang!" kata Key lagi.


"Tunggu, aku mau tambah. Rasanya perutku kurang kenyang kalau cuma makan satu porsi," ujar Brian dengan memegangi perutnya.

__ADS_1


"Itu lapar apa doyan?" tanya Key.


"Dua-duanya, sekarang diam lah. Aku mau makan," sahut Brian.


"Bule, dan tampan. Sayangnya makannya banyak," gumam Key dalam hati.


Selepas itu, keduanya sudah berada di rumah setelah menghabiskan seharian bermain di pantai.


Hal yang tak pernah dilakukan oleh Key, kini ia rasakan lagi. Pulang dengan membawa kebahagian karena begitu menikmati jalan-jalannya bersama Brian.


Lelah, akhirnya Key menghempaskan tubuhnya di sofa. Sedangkan Brian entah, pra itu pergi ke mana karena itu bukan urusan Key, yang hanya Key tahu untuk sekarang dirinya ingin memejamkan mata. Berselancar di dunia mimpi untuk beberapa jam saja.


Di gudang.


"Apa perempuan itu sudah kamu beri efek jera?" tanya Brian pada dua anak buahnya.


"Sepertinya dia sudah kapok, Bos." Jawab serentak keduanya.


Setelah sampai di sebuah ruangan. Terlihat jika Mira tengah memejamkan mata, dengan suara dengkuran yang begitu keras, hingga membuat ketiga pria yang tengah berdiri menatap penuh rasa jijik.


"Cantik-cantik ko dengkur," ujar anak buah Brian yang satunya.


"Iya, mana keras pula." Jawab teman satunya lagi.


"Kenapa bisa betah ya si Bos, punya istri modal dia?" batin Bondan karena melihat mantan istri dari bos nya itu, sedikit jorok.


"Bangunkan dia!" titah Brian pada kedua anak buahnya.


"Baik, Bos." Lantas Bondan dan Erik pun, langsung melepaskan ikatan dari tangan Mira.


"Mas!" rupanya Mira terbangun saat kedua tangannya merasa ada yang memegang.

__ADS_1


"Mas, tolong lepaskan aku. Aku janji tidak akan berbuat jahat lagi," ujar Mira yang meninta dilepaskan dan berjanji bahwa tidak akan melakukan kesalahan lagi.


"Apa ucapan kamu bisa dipegang? Setelah beberapa kali kamu minta maaf. Namun, tidak ada rasa kapok sedikitpun yang kamu rasakan!" sergah Brian dengan sorot tatapan tajam.


"Tidak Mas, ini yang terakhir dan aku akan pergi dari kehidupan kalian."


Brian diam, dan menelisik tiap inci wajahnya. Untuk mencari kebohongan dari mantan istrinya. "Yang saya tahu kamu adalah wanita pembohong. Nyatanya berulang kali meminta maaf dan berjanji, tapi lagi-lagi kamu melakukan kesalahan. Lebih parahnya istriku hampir celaka karena ulah kamu!" kata Brian dengan mata yang berapi-api.


"Aku minta Mas, ini terakhir kalinya melakukan kesalahan. Tolong maafkan aku," ucap Mira dengan sesenggukan.


"Setelah ini, pergilah jau dan jangan pernah memperlihatkan wajahmu di depanku." Setelah berkata, Brian pergi dan meninggalkan gudang karena dirasa urusannya sudah selesai.


"Bos, untuk dua orang itu bagaimana?" tahan Bondan saat Brian hendak keluar.


"Lepaskan, jika masih berbuat seperti itu maka ... aku sendiri yang akan bertindak," ujar Brian.


Dua orang anak buahnya patuh, dan langsung melepaskan orang suruhan dari Mira.


Brian yang sudah cukup lama meminggalkan rumah, karena saat ini sudah pukul delapan malam dan teringat jika Key belum makan. Jadi, lelaki itu pun berniat untuk membeli makanan sebelum memutuskan untuk pulang.


Sesampainya Brian di rumah. Ia lantas langsung masuk dan melihat Key, yang tengah berada di ruang tamu. Sambil menikmati manganan ringan.


"Key, asik betul nontonnya?" ujar Brian secara tiba-tiba dan Key pun langsung menoleh.


"Om, Om darimana?" tanya Key.


Namun, Brian tidak langsung menjawab. Melainkan sedang menatap ke arah meja yang begitu banyak bungkus cemilan, tapi dengan keadaan kosong.


"Key, itu semua kamu yang menghabiskan?" Brian bertanya dengan sedikit keheranan.


"Lapar Om, mau beli gak pegang uang."

__ADS_1


Brian yang mendengar akan hal itu, seketika merasa telah tertampar oleh sebuah kalimat dari Key.


__ADS_2