
"Kok aku jadi sedih ya, tapi kan aku gak cinta. Menikah juga karena terpaksa," gumam Key dalam hati.
Langit yang mulai gelap, dan matahari sudah tengelam. Lalu digantikan oleh sang rembulan.
Key yang tengah bergelut dengan pikirannya sendiri. Merasa tidak mampu jika harus menahannya di saat seperti ini. Sekarang, Key sedang berpikir kalau akan membahas hal ini pada Brian karena langkah apa yang nantinya diambil.
"Apa ini keputusan yang tepat, untuk aku mengambilnya, dan bertanya soal pernikahan yang tidak ada dasar cinta?" batin Key lagi karena hatinya terlalu bimbang untuk mengatakan hal ini pada Brian.
Untuk sesaat. Key melihat Brian yang sedang melintas dihadapannya, dan inilah kesempatan untuk membicarakan akan hal tersebut.
"Om!" panggil Key, dan pemilik nama pun langsung menghentikan langkahnya.
"Ada apa?" tanya Brian dengan perasaan aneh, karena sikap Key memang hari ini tidak seperti hari-hari biasanya.
"Ada yang aku ingin bicarakan, dan aku harap Om ada waktu."
Brian menatap lekat ke arah gadis itu, lalu mulai mendekat dan berkata. "Apa yang ingin kamu bicarakan. Memangnya ada hal serius?" ujar Brian.
"Soal kita."
Brian mengerutkan dahinya. Masih belum mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Key. "Soal kita? Saya tidak mengerti yang kamu maksud," timpal Brian bingung.
"Hubungan kita! Om tahu kan jika kita menikah gara-gara musibah. Lalu diantara kita juga belum ada ketertarikan satu sama lain. Lantas bagaimana menurut Om. Kalau kedua belah pihak terikat dengan tidak adanya cinta." Key menatap laki-laki tersebut dengan penuh harap. Harapannya akan segera memberi akhir yang baik untuknya dan tentunya untuk Brian sendiri.
"Kita memang tidak ada rasa cinta, tapi kita juga perlu mencobanya kan? Jika kamu ingin pergi, pergilah saya tidak akan menahan mu!" ujar Brian, dan Key yang mendengar hal itu. Sepertinya tidak terima, entah kenapa ada rasa yang tertinggal saat Brian mengatakan kalimat tersebut kepadanya.
"Akan tetapi, jika kamu masih ingin bertahan. Maka beri kesempatan pada hati kita, agar keduanya bisa saling dekat dan berakhir bersatu. Dengan begitu pernikahan ini akan tetap berlanjut," ucap Brian menatap lekat dan pandan yang tak teralihkan dari wajah Key.
Bagi Brian. Pernikahan bukanlah hal yang bisa dipermainkan. Gagal dalam membina rumah tangga, membuat Brian tidak ingin kejadian enam tahun lalu terulang lagi.
__ADS_1
Meski tidak ada rasa cinta, tapi Brian akan mencoba mempertahankan pernikahannya yang sudah berlangsung sejak dua bulan ini. Tidak mau gagal karena sudah cukup sekali rumah tangganya hancur.
"Pikirkan tentang tawaran saya, jika hati kamu sudah bisa memilih. Maka katakan dan saya akan menerima keputusan yang sudah kamu berikan," ucap Brian pada Key lalu langkahnya lantas pergi meninggalkan gadis tersebut. Untuk memberikan waktu agar bisa mengambil keputusan.
Kepergian Brian diiringi dengan hati yang dilema. Key tak dapat berpikir. Mungkin inilah saatnya ia bercerita pada Ayu, mengenai hubungannya dan Brian dan mengatakan yang sejujurnya.
Meski Key tidak pernah jatuh cinta, tapi memang saat ini tidak ada rasa sedikitpun untuk Berian. Namun, saat lelaki dengan usia yang sudah matang berbicara soal yang ikhlas menerima semua keputusannya. Disitulah Key mersa ada yang tidak beres dan mengganjal di hatinya.
"Baiklah, aku akan meminta bantuan pada Ayu nanti. Berharap anak itu mau memberiku solusi untuk menyelesaikan soal hati, yang sedang dilanda kebingungan.
............
Sedangkan di tempat lain. Seorang wanita tengah merencanakan sesuatu. Untuk membuat rumah tangga dari mantannya hancur, dengan begitu akan memudahkan wanita itu kembali merajut hubungan dengan lelaki yang kini sedang incar.
"Ini foto gadis yang akan masuk dalam jebakanku. Aku harap kamu tidak akan gagal," pekik wanita tersebut pada orang suruhannya.
"Bagus, tapi aku butuh bukti dan bukan hanya janji!" kata wanita itu. Dengan berjalan angkuh mengambil amplop berwarna coklat untuk diberikan pada orang suruhannya.
"Saya bisa pastikan jika hal itu akan berhasil." Jawab orang suruhan itu lagi.
"Ini DP, sisanya akan aku berikan jika tugasmu berhasil." Lantas wanita itu memberikan amplop dan meminta untuk segera melaksanakan tugasnya.
"Baik Nona, kami akan menjalankan sesuai perintah." Kedua orang itu pun langsung melenggang keluar dan meninggalkan, kediaman rumah milik wanita yang berhati busuk.
Dengan diiringi sebuah tawa. Wanita itu kembali melanjutkan aktifitasnya yang akan berenang.
"Mas, aku pastikan jika kamu akan meninggalkan bocah ingusan itu. Lalu memilih kembali kepadaku," ucapnya penuh dengan rasa yakin. Bahwa jika berhasil menyingkirkan saingannya, maka lelaki yang ia inginkan akan jatuh di pelukannya.
"Lalu untuk kamu bocah, rasakan akibatnya karena sudah bermain-main denganku. Tidak semudah itu aku dikalahkan oleh anak bau kencur sepertimu," gumam wanita yang kini nampak begitu bahagia, karena sebentar lagi. Lelaki itu akan ia dapatkan.
__ADS_1
Rencana yang sudah ia susun. Berharap akan membuahkan hasil, karena sudah banyak dana yang di keluarkan demi menyuruh orang untuk menjebak, orang yang dianggapnya penghalang.
Sedangkan Key yang sudah bersiap untuk bekerja, karena hari ini dirinya mendapat jam sore. Brian yang belum menampakkan batang kakinya. Memilih Key untuk naik angkot, karena tidak mau telat pada saat absen.
Menunggu kedatangan angkot. Membuatnya sedikit khawatir karena tak kunjung terlihat juga, dan berakhir.
Aaaaaaaaa.
Sleppp.
Key sengaja berjalan menyusuri jalanan karena lelah menunggu angkot yang tidak terlihat sama sekali. Pada saat ingin menyebrang Key hampir saja celaka karena sebuah motor yang cukup kencang. Namun, bersyukurnya ada orang baik. Meski sedikit tidak sopan.
"Ma-maf, karena saya terlalu panik." Lelaki tersebut langsung melepaskan pelukannya, pada Key.
"Iya, tidak apa-apa. Terimakasih untuk pertolongannya," ucap Key. Meski sedikit tidak nyaman karena lelaki tersebut memeluknya dengan sangat intim.
"Apa ada yang terluka?" tanya pria tersebut.
"Tidak." Jawab Key.
"Baiklah, dan terus berhati-hati. Saya izin pergi." Lelaki yang tidak dikenal Key, langsung beranjak dan meninggalkan Key yang masih syok karena hampir saja nyawanya melayang.
Tidak berapa lama kemudian. Dari arah sedikit jauh, terlihat angkot berwarna merah dan Key lantas langsung berdiri.
"Eh, kenapa kakiku sakit ya? Rasanya perih banget." Key meringis kesakitan saat merasakan perih di kaki sebelah kiri.
Dengan keadaan kaki yang sakit. Key berusaha berdiri karena angkot semakin dekat, dan saat dibuat jalan kaki Key semakin sakit.
"Sepertinya kakiku terkilir. Makanya sakit saat dibuat jalan," gumamnya yang mana Key harus tetap berangkat kerja, karena tidak ada izin. Maka wajib masuk, meski kakinya benar-benar sakit.
__ADS_1