
Hanya mengandalkan sebuah senter di ponsel. Brian berjalan ke arah dapur, tapi ... sebuah pergerakan dari arah kamar Key, membuat lelaki blasteran belanda itu. Menatap dalam ke arah tempat tidur.
"Itu apa ya, kok gerak-gerak?" Brian bertanya-tanya dalam hati. Meski dengan keadaan keringat yang bercucuran.
"Key, kamu di mana?" suara gemetar dari Brian, karena sudah 20 menit Key tak kunjung terlihat.
Perlahan kaki Brian mulai memasuki pintu kamar. Yang mana jika keduanya memang tidur dengan cara terpisah.
"Semoga itu bukan dedemit," batin Brian yang sudah tak sanggup lagi untuk menapakkan kakinya. Meski begitu ia tetap harus menghampiri.
Sesampai di kamar, pandangan itu semakin nyata hingga membuat Brian terus mengusap pelipisnya. Namun, tanpa di duga kejadian tak terduga dan.
Aaaaaa.
"Setannnn!"
"Buto ijoooo!"
Lappp.
Lampu tiba-tiba menyala pada saat keduanya tengah berteriak.
__ADS_1
"Jadi, kamu ngerjain saya ya, Key!" kata Brian dengan wajah merah padam. Akibat Key tengah membohonginya, yang semula ijin ke kamar mandi, tapi ternyata malah berada di kamar.
"Dasar gadis licik," umpatnya lagi, karena Key benar-benar membuat jantung Brian hampir copot.
"Ini kan uda nyala, jadi jangan drama. Sana! Aku mau makan." Key langsung menggeser tubuh Brian karena dirinya berniat untuk bangun dan makan, sedari Key menahan lapar dengan cara dibuat tidur. Ternyata rasa lapar itu pun tetap tak hilang juga.
Keesokan harinya.
Pagi ini lumayan terik, mungkin sudah musimnya kemarau hingga membuat Key kepanasan.
"Duh, kok panas banget, ya?" batin Key dengan sesekali mengusap keningnya yang sudah dipenuhi oleh keringat.
"Kenapa itu mata, jangan sampai lompat kek kodok ya, dan berjalan seperti hantu mata!" kata Brian lagi, karena Key tidak langsung merespon. Melainkan memberikan tatapan tidak suka pada Brian.
"Apa menurut Om mukaku ini tempat serbet?" Key melirik dengan penuh kekesalan, karena sepertinya Brian sengaja melakukan hal itu.
"Tissue nya gak ada, saya hanya kasihan melihat kamu berkeringat. Terlebih lagi pasti rasanya akan tidak enak jika keringat kamu masuk ke dalam tumis kangkung ini," ujar Brian dengan senyuman tipis, ia berkata pada Key dan seakan tidak punya rasa bersalah sama sekali.
"Nih, ambil saja buat Om, aku tidak butuh karena bajuku masih bisa di pakai!" Key yang terlanjur marah langsung melempar serbet ke wajah Brian.
"Apa yang salah, ini serbet bersih?" ucap Brian bertanya-tanya. Seharusnya Key berterimakasih saat Brian memberikan lap untuk mengusap dahinya, bukannya marah-marah tidak jelas seperti sekarang.
__ADS_1
Sedangkan Key, pergi dengan hati yang dongkol. Ia mengumpat karena bukan sapu tangan atau tissue yang diberikan, ini adalah serbet yang tiap hari digunakan oleh Key.
Pantaslah gadis itu marah, karena suaminya itu sangat menjengkelkan, dan makhluk Tuhan yang luar biasa.
Sore hari.
Key yang sudah berangkat kerja dari jam empat tadi, memilih fokus pada pekerjaannya yang mana. Harus mengecek barang-barang yang kosong di rak.
"Yu, tolong gantiin aku sebentar ya, takut lupa. Soalnya perutku gak bisa dajak kerja mau setor bentar ke belakang!" ucap Key tengah mengajak Ayu berbicara. Namun, nampaknya seseorang itu tidak menjawab hingga membuat Key langsung merai tangannya, karena kebetulan Key sedang fokus pada satu produk.
Hem.
Terdengar sebuah deheman. Membuat Key sontak saja menoleh, dan.
"Eh, Mas. Maaf saya salah target," ucap Key dengan menutup wajahnya karena malu.
"Iya, tidak apa-apa. Sebaiknya pastikan dulu temen kamu ada atau tidak," ujar lelaki yang berkisar umurnya di atas usia Key.
"Saya kira tadi masih ada temen saya, tapi ternyata dia sudah pergi." Key berujar dengan tubuh membungkuk, meminta maaf karena sudah salah tarik.
Raut wajah lelaki tersebut, sangatlah datar dan hal itu membuat Key sedikit memujinya, karena terpampang nyata. Wajah yang begitu berwibawa.
__ADS_1