Duda Somplak VS Bocah Tengil

Duda Somplak VS Bocah Tengil
Key Brian hidup bahagia


__ADS_3

Hubungan keduanya semakin dekat dan sudah bisa menerima satu satu sama lain.


Pada akhirnya pertahanan Key runtuh dan Brian pun menjadi seorang juara, karena sudah berhasil membobol gawang yang selama ini di jaga oleh Key.


Seminggu setelah masa indah saat keduanya telah memadu kasih dan merengkuh nikmatnya madu. Brian berencana untuk mengajak Key pergi karena ada sesuatu yang akan diberikan olehnya.


"Key, nanti siang ikut saya!" ajak Brian.


Key yang sedang memakan cemilan pun dibuat bertanya-tanya. Tidak biasanya lelaki itu mengajaknya pergi dan hari ini dengan tumben mengajaknya.


"Memang aku mau diajak ke mana?" tanya Key penuh selidik.


"Nanti kamu juga bakal tahu, ke mana saya mengajak kamu yang jelas sekarang mulai lah mandi. Kalau tidak, saya akan memandikanmu!" kata Brian karena terlihat Key hanya bermalas-malasan dan terus saja menyumpal mulutnya dengan makanan.


"Sayangnya tidak bisa, aku bukan bayi atau lansia yang harus dimandikan. Kedua tanganku juga masih berfungsi," kata Key menolak dengan terang-terangan.


"Kalau saya yang memandikan di jamin kamu akan ketagihan," ujar Brian dan disitulah Key yang sudah tahu arah pembicaraannya lari ke mana, segera beranjak dari duduknya dan segera pergi ke dapur.


Siang hari.


Key yang sudah rapi kini tinggal menunggu Brian, karena lelaki itu pun masih saja heboh dengan gawainya. Hingga membuat Key merasa jengkel dan merasa jika Brian sudah mengerjainya.


Saat Key hendak ingin masuk, tiba-tiba Brian keluar dan keduanya saling bertabrakan.


"Key, mau ke mana?" Key yang mendengar pertanyaan dari Brian, seketika melipat kedua tangannya.

__ADS_1


"Om, Om sengaja ngerjain aku ya. Udah hampir ubanan ini bulu ketiak, tapi Om baru nongol sekarang!" marah Key pada Brian.


"Maaf, tadi ada kerjaan sedikit. Ya sudah ayo!" ajak Brian dan keduanya pun mengendarai motor yang selalu menemaninya ke mana Brian berada. Motor yang menjadi saksi bisu untuk mencari sebuah cinta sejati, hingga Brian menemukan tempat untuk berlabuh di hati Key.


Keduanya nampak begitu romantis. Seakan tidak ingin jauh dari Brian, Key pun melingkarkan tangannya di perut Brian dengan sarat erat.


Selang 30 menit, sampailah Key dan Brian di perumahan dan nampak jejeran rumah mewah terlihat. Hingga membuat Key begitu memuja tiap halaman rumah para penghuni perumahan.


Tepat di depan rumah yang baru saja selesai tahap pembangunan dan itu bisa terlihat dari atas hingga bawah, bahwa rumah baru saja jadi.


"Om, kita mau ke rumah siapa?" Key pun bertanya karena merasa asing saat masuk ke dalam perumahan tersebut.


"Jangan bertanya dan kita masuk saja, nanti juga kamu tahu ini rumah siapa pemiliknya." Key yang mendengar hanya bisa menghela napas karena bukan itu yang ingin didengarnya.


Keduanya pun masuk dan terlihat jejeran mobil mewah dengan berbagai warna. Saat gerbang mulai terbuka begitu sangat memanjakan mata bagi siapa saja yang melihatnya.


"Key, apa kamu ingin mempunyai rumah sendiri?" tanya Brian dan Key pun seketika menghadap Brian.


"Bukankah memiliki rumah sendiri adalah impian semua orang, aku juga sama. Ingin memiliki rumah sendiri meski sederhana tanpa harus mengontrak," ucap Key dengan tatapan sendu dan Brian hanya membalas dengan sebuah senyuman.


"Baiklah, saya akan mewujudkan semua itu."


Sejenak Key mengerutkan keningnya, bagaimana bisa membeli rumah sedangkan Brian sudah bangkrut.


"Maksud Om, aku tidak mengerti." Dengan nada bingung Key menjawab.

__ADS_1


"Rumah ini saya persembahkan buat kamu, saya harap kamu menyukainya." Brian memegang tangan Key dan mengatakan jika rumah untuknya dan saat itu Juga, Key tertegun dengan pengakuan Brian.


"Om, apa ada yang aku tidak tahu?" pertanyaan Key sontak saja membuat Brian langsung mencubit hidung mancungnya.


Bukan sebuah jawaban malah kalimat yang mengharukan, saat Key mendengarkannya dengan seksama.


"Key, terima kasih telah menjadi istri saya. Berharap secepatnya di dalam sini akan segera tumbuh kecebongnya, lalu saya akan menjadi seorang ayah." Bukannya Key bahagia justru Key kesal.


"Ada kodok dipinggir kali tek kotek ... tek kotek, dasar menyebalkan awas saja kalau ngomong kata kecebong nanti malam puasa." Seketika Brian lemas paska mendengarkan ancaman Key.


"Oh ... tidakkk!" teriak Brian seolah-olah merasakan bahwa tubuhnya tidak ada lagi tenaganya dan Key pun tertawa terpingkal-pingkal melihat kelakuan suaminya.


Beberapa detik kemudian.


"Key, saya harap kamu tidak akan pernah meninggalkan aku, apapun yang terjadi dan sekarang kita masuk karena di dalam sudah ada keluarga kita yang sudah menunggu."


Seketika wajah bahagia tercetak jelas dan Key pun langsung melompat-lompat, karena saking terharunya.


"Terima kasih, Sayang. Aku mencintaimu," ucap Key lalu mencium pipi Brian.


Brian seperti menemukan harta karun saat Key memanggil namanya dengan sebutan 'Sayang'.


Yuhuuuu.


Teriak Brian dan kisah pun bersambung.

__ADS_1


__ADS_2