
Bu Endang yang melihat ekspresi Brian, sesaat mengerutkan dahi karena rasa penasaran yang besar. Akhirnya ibu dari Key yang kini telah menjadi mertuanya, memilih bertanya akan mimik muka Brian layaknya mirip dengan kepiting rebus.
"Mantu bule, kamu kenapa?" bu Endang bertanya pada Brian agar mengurangi rasa penasarannya.
"Bu, kenapa Bapak bisa sesadis itu. Soalnya kalau saya tidak mau bantuin memanen pisang, maka anu saya akan dipotong." Brian dengan tampang polosnya berucap. Seakan lupa dengan siapa dirinya sekarang berbicara.
Bu Endang seketika membulatkan bola matanya. Tidak mengerti dengan ucapan menantu bulenya, dan apa yang dibahasnya membuatnya bingung.
"Apa sih kamu itu, Ibu tidak mengerti yang kamu maksud!" kata bu Endang dengan nada bingung.
"Tuh, samperin saja mereka, dan coba Ibu tanya kenapa tega terhadap yang ingin menggolok anuku." Jawab Brian dengan menjelaskan agar mertuanya bertanya langsung pada anak dan suaminya.
"Dasar mantu kaga jelas!" gerutu Bu Endang sembari berjalan ke arah suaminya.
............
Setelah drama di pagi hari. Akhirnya Brian ikut juga ke kebun, dimana di sana ada beberapa tanaman yang bisa dimakan, atau pun bisa ditukar dengan uang.
"Eh bule, ini tolong pegang. Bapak mau menebasnya," titah mertuanya Brian.
"Pak, tapi saya tidak bisa." Brian dengan wajah memelas, mencoba memberitahu Pak Rudi karena tidak bisa.
"Dasar wajah bule tapi otak sangklek," umpat Pak Rudi karena merasa sia-sia telah mengajak Brian nyatanya sama sekali tidak berguna.
"Baiklah, saya akan coba."
Lantas Brian mencoba memegangi yang sudah diberitahu dimana yang seharusnya dipegang.
Sedetik kemudian.
Aaaaa.
Jlep.
Brian tersungkur dengan pisang yang ia pegang sewaktu tadi, karena tidak kuat menahannya.
"Aish, dasar badan lemah. Otot digedein tapi sama sekali tidak berguna," ejek Pak Rudi karena pisang satu tandan telah menimpah di atas tubuh Brian.
"Habisnya berat, Pak." Jawab Brian berkilah karena memang tidak sanggup untuk menyangga dan terjadilah saling timpa.
"Ya sudah, ini kain taruh di pundak kamu. Setelah itu lekas panggul karena Bapak mau bawa yang satunya," ujar pak Rudi yang juga membawa pisang yang mana berjumlah dua tandan.
Brian tidak akan protes lagi untuk kali ini, meski dalam hatinya. Ku menangis karena berat, tapi Brian mencoba untuk melatih dengan pekerjaan kasar.
__ADS_1
"Mimpi apa aku semalam, bisa-bisanya jadi tunggal panggul pisang." Dalam hati Brian me menggerutu karena tidak menyangka bahwa, dirinya harus bernasib seperti ini saat sudah menikah dengan Key.
"Jangan ngeluh, mungkin saja kaku tidak pernah merasakan hidup seperti ini kan, maka inilah rasanya orang desa jika ingin makan." Pak Rudi tidak ada keniatan untuk mengeluh, hanya saja memberitahu jika hidupnya dan hidup menantunya sangat berbeda jauh.
"Jadi, apa kamu masih bisa bertahan jika hidup seperti ini, tapi tidak punya tekanan batin? Atau hal lainnya yang membuat kita terjatuh."
Nyuttt.
Dada Brian seakan terkena hantaman batu bata, akan sebuah ucapan yang baru saja didengar.
"Benar apa yang dikatakan oleh mertuaku ini, buat apa hidup kaya jika hutang sana sini. Lalu pada akhirnya keluargaku terjatuh dan tidak ada yang menolong," dalam hati, Brian membenarkan sebuah kalimat yang tidak akan dilupakan olehnya. Sebuah pelajaran tentang hidup, jika jarum jam akan terus berputar, dan inilah akhir dari segalanya.
Tanpa terasa dua orang lelaki tapi beda generasi itu, sudah berada di depan rumah.
"Bule, itu pisang taruh situ saja. Nanti mau dijual," kata pak Rudi sambil menunjukkan tempat dimana Brian harus meletakkan.
"Oh, baiklah." Setelah meletakkan pisang tersebut. Brian meregangkan otot-ototnya karena cukup pegal.
.............
Pukul 10 siang, teriknya matahari membuat Brian menepikan motornya di salah satu minimarket.
"Om, kenapa berhenti? Bukannya kita harus secepatnya cari kontrakan?" tanya Key karena tadi sempat ada drama sedikit.
Ckckck.
"Dasar manja!" gerutu Key.
"Apa kamu katamu!" ujar Brian yang mendengar umpatan Key.
"Jangan pura-pura tuli. Mau telinganya gak berfungsi lagi," kata Key yang sengaja menakuti Brian.
Ckckck.
"Dasar bocah tengil," balas Brian.
"Kenapa kamu masih berdiri di sini, saya tadi kan sudah bilang." Brian berdecak, bukannya masuk malah Key tetap berdiri di sampingnya.
"Om gak panas, kan?" Key langsung mengecek kening Brian.
"Tidak panas kok, tapi kok blo'on ya." Key yang tengah berbicara sendiri, mendapat tatapan dari Brian.
"Apaan sih kamu!" sergah Brian yang langsung menyingkirkan tangannya di kening.
__ADS_1
"Om yang apa-apaan!" seru Key yang mulai kesal.
"Tampan-tampan tapi kok lupa ingatan," kata Key lagi dengan mata melirik menatap tidak suka.
"Apa maksud kamu dengan mengatai saya," ucap Brian menatap sinis.
"Bener-bener nih orang, jangan membuat keributan denganku ya Om, kalau tidak mau mendapat bogeman ini!" ucap Key yang sudah tak mampu lagi menahan sebuah asap yang sudah mengepul di kedua telinganya.
"Kamu lagi palang merah? Makanya jadi bocah tengil banget," ujar Brian yang belum sadar dengan apa yang sedang terjadi.
"Om, haus kan?" Key bertanya dengan wajah yang dibuat-buat untuk mengurangi rasa emosi yang sudah siap meledak, bak elpiji bocor.
"Iya saya haus, harus berapa kali saya mengatakannya." Jawab Brian dengan penekanan.
"Terus apa Om ingin aku masuk dengan tangan kosong, alias kaga pegang duit!" ujar Key sebuah senyuman dibuat sebagus mungkin.
****
Brian yang memang lupa tengah mengumpat merutuki kebodohannya.
"Nih," ucap Brian tanpa banyak kata langsung memberikan selembar uang 50 ribu, pada Key.
"Gitu kek dari tadi, kaga perlu ngajak orang berantem. Udah salah ngeyel pula," kata Key dengan langkah menjauh dari Brian.
"Lagian itu bocah kan bawa uang, kenapa minta!" gerutu Brian karena Key yang perhitungan padanya.
Key yang sudah ada di dalam minimarket, dan tidak lupa memilih minuman dingin, tapi tanpa diduga tiba-tiba saja.
"Eh, ada pelakor kecil. Kebetulan ya kita ketemu di sini, baru juga kemarin kita ketemu eh sekarang ketemu lagi."
Ups.
"Maaf ya, tadi kebablasan, tapi emang bener kan kalau kamu itu." Dengan senyuman penuh keyakinan jika Key akan malu dibuat oleh perempuan tersebut.
"Kamu ngomong sama saya?" kata Key dengan menunjuk? dirinya sendiri.
"Tapi aku gak ngerasa lho, barang kali Tante salah orang? Atau sedang halusinasi makanya bicara ngawur."
"Siapa yang ngawur, dasar pelakor kecil bisa-bisa ambil suami orang!" Key tidak menanggapi ucapan perempuan gila itu, dan melanjutkan ke kasir untuk membayar dua minuman. Akan tetapi, sesampainya di luar sebuah kejadian membuat Key harus bermain-main sedikit.
"Hye pelakor kecil."
Plakkkk.
__ADS_1