Duda Somplak VS Bocah Tengil

Duda Somplak VS Bocah Tengil
51. Pagi yang indah


__ADS_3

Brian sengaja mengerjai Key, karena sedari tadi gadis itu membuatnya jengkel.


"Sekarang bangun, dan pijat punggungku!" titah Brian dengan suara beratnya.


"Iya, iya." Jawaban dari Key membuat Brian tersenyum puas.


Akhirnya acara pijat memijat pun sudah dilaksanakan, tapi ada satu hal yang membuat Key merasa dongkol.


"Aku kira Om Ian akan meninta jatah malam pertama, gak taunya minta pijat dan sangat terlalu." Anisa membatin dengan kedua tangan terus menari-nari di punggung Brian.


Entah sudah berapa jam yang dihabiskan oleh Key, dengan tangan terus setia berada di punggung Brian.


"Kenapa tiba-tiba ngantuk, ya?" ucap Key dalam hati karena sedari tadi ia terus menguap.


Sedangkan Brian sudah terkapar tidak berdaya karena akhir dari kenikmatan saat sensasi pijatan dari Key, membuatnya tertidur begitu nyenyak.


Ckckck.


"Udah main tidur juga, sepertinya aku akan ikut tidur juga." Key bergumam seraya memposisikan tubuhnya di tempat yang pas, hingga terlelap lah ia di samping Brian.

__ADS_1


Pagi hari.


Hujan rintik-rintik di pagi hari, membuat semua orang pasti enggan untuk turun dari ranjang. Saat ini, hawa dingin kian menusuk tulang belulang dari tubuh Key, sehingga gadis itu mencoba mencari kehangatan dari selah-sela nafas Brian yang masih terlelap begitu nyenyak.


Tanpa tahu akibatnya, Key terus mencari sebuah kehangatan hingga tubuh Brian tiba-tiba saja merasakan keanehan. Yah, Key yang tengah memeluk lelaki yang ada di sampingnya membuatnya sama sekali tidak nyaman, karena kaki Key berada di atas perut Brian, itu mengapa sang pemilik tubuh sedikit tidak nyaman saat bernapas.


Brian, dengan mata terpejam menggerayangi benda yang terletak di perutnya, hingga membuatnya langsung membuka mata. Memastikan bahwa dugaannya salah karena yang ia pegang seperti jari-jari kaki.


Saat tangan Brian menyentuh kaki Key, tiba-tiba saja suara lenguhan terdengar syahdu di telinga Brian.


Eummmm.


"Lihat saja, apa yang terjadi setelah ini." Dengan senyuman bak mak lampir, Brian bergumam menantikan akan keajaiban yang sebentar lagi akan turun kepadanya.


Lagi-lagi suara penuh keindahan lolos dari bibirnya dan hal itu membuatnya semakin semangat, untuk membuat Key terpancing.


Bukankah olah raga pagi akan memuatnya sehat dan awet muda? Itulah sekarang yang ingi dilakukan oleh Brian.


Sedangkan di bawa sana, pilar yang sudah berdiri tegak dan begitu kokoh, membuatnya sudah tidak sanggup lagi untuk menahannya dan ingin melepaskan, dari rasa yang amat begitu berat.

__ADS_1


Sekarang Key sudah semakin berani hingga wajahnya menghadap ke arah wajah Brian, tatapan mereka saling beradu dan sayangnya Key dengan keadaan mata terpejam.


Brian yang tak lagi mampu menahan gejolak di tubuhnya, memaksanya untuk mencuri bibir dengan warna pink tersebut untuk dicicipinya.


Satu detik.


Dua detik.


Tiga detik.


Hingga detik berganti dengan menit, rupanya Key masih menikmati bibirnya yang tengah menyatu dengan milik Brian.


Hingga tanpa sengaja Brian terus bermain-main di atas gunung tersebut dan Key pun begitu sangat menikmati permainan yang diciptakan oleh sang suami.


"Key, apa saya boleh?" Brian berbisik pada Key, meminta persetujuan untuk melakukan lebih dari ini.


Sejujurnya Key sudah bangun sedari tadi, hanya saja ia begitu larut dengan permian yang Biran beri dan hal itu membuatnya enggan untuk membuka matanya.


"Lakukan dan usahakan pelan-pelan, Om. Agar aku tidak kesakitan," pinta Key dengan suara parau.

__ADS_1


Setelah mendapat izin dari sang pemilik tubuh. Brian pun mulai melakukan pemanasan, di pagi hari yang begitu dingin dan hujan semakin deras, menambah suasana yang begitu damai. Lalu, keduanya pun sekarang pada puncak acara kedua setelah pemanasan hanya Key dan Brian model apa yang cocok bagi mereka.


__ADS_2