
Semua terdiam saat Papa Axsel mengumumkan akan apa yang ingin dibahas sekarang.
"Pa, memangnya ada apa? Apa ada hal serius dan sekarang coba Papa beritahu kita, agar kita tidak penasaran."
Tante Linda mengerutkan dahinya, dengan hati yang bertanya-tanya. Kira-kira apa yang akan disampaikan oleh suaminya itu.
"Iya, memangnya Papa ingin mengatakan apa. Kita sudah menunggu agar Papa segera memberi tahu kita semua," ujar Brian ikut menimpali karena ia juga penasaran.
"Baiklah, dan Papa harap kalian tidak akan kaget dan menerima semua ini." Papa Axsel berbicara dengan nada serius, dan semua saling pandang.
"Kita bangkrut, dan Papa minta kamu untuk membantu melunasi hutang-hutang yang nominalnya lumayan banyak, Brian." Semua orang tercengang menatap Papa Axsel penuh dengan rasa tidak percaya. Bukannya selama ini baik-baik saja? Lantas kenapa pada saat Brian ingin pindah justru sekarang dihadapkan dengan kenyataan pahit.
"Pasti Papa sedang bercanda kan?" Tante Linda tidak percaya dan menganggap jika semua itu adalah lelucon.
"Tidak Ma, Papa serius dan kita memang sedang bangkrut. Makanya Papa mau minta tolong supaya rumahnya Brian dijual, untuk menambah cicilan, sekaligus membayar gaji pada karyawan." Saat Papa Axsel berbicara, Tante Linda mencari kebohongan dari wajah sang suami. Siapa tahu itu semua hanya akal-akalan Papa Axsel saja, tapi sayang nampaknya suaminya sedang tidak berbohong.
"Aku yakin jika ini semua adalah taktik Om mertua, untuk aku sama Om Brian tidak jadi pindah. Akan tetapi aku juga gak boleh suudzon kan dan siapa tahu Om mertua memang sedang butuh bantuan," batin Key menerka-nerka dan tidak mau berpikir negatif pada mertuanya juga.
"Apa ini soal yang kemarin Papa katakan padaku?" batin Brian.
Semuanya diam larut dalam pikirannya masing-masing. Sedangkan Papa Axsel sudah memasang wajah se-melas mungkin. Agar keluarganya percaya dengan apa yang terjadi pada saat ini.
"Pa," panggil Brian.
"Tidak Ian, kali ini Papa memang bangkrut. Tidak ada lagi yang bisa Papa lakukan selain meminta tolong sama kamu, dan rumah ini pun akan disita." Jawaban Papa Axsel membuat mereka berdua sedikit terkejut.
Hidup susah? Rasanya mereka belum bisa menerima, tapi apa mau dikata jika semua ini harus terjadi? Apa bisa menolak!
"Pa, Mama belum siap jika harus pergi dari rumah ini!" kata Tante Linda yang merasa keberatan jika dirinya harus hidup seperti dulu lagi.
"Ma, kita kan ada rumah di kampung Mama. Kita ke sana saja dan Papa akan bekerja di ladang milik peninggalan orang tua Mama? Bagaimana?"
Untuk Tante Linda, tidak ada pilihan untuk mengikuti sang suami, dan beruntungnya juga di desa yang asri di kawasan pegunungan. Masih ada peninggalan rumah dan kebun milik orang tuanya Tante Linda.
"Mama terserah Papa saja, karena untuk saat ini otak Mama lemes gak bisa berkata-kata." Tante Linda pasrah akan ajakan dari Papa Axsel.
Sedangkan Brian terlihat bingung, dan Papa Axsel pun. Bisa melihat akan hal itu karena dari sorot matanya sudah tak bisa berbohong lagi.
__ADS_1
"Untuk kamu Brian, urus istrimu sendiri. Papa tidak mau menanggung beban hidup kalian dan belajarlah untuk mandiri," kata Papa Brian penuh dengan penegasan.
Key yang sedari tadi diam, ingin sekali rasanya berbicara. Akan tetapi, itu sungguh tidak sopan jika dirinya langsung menerobos langsung.
"Baiklah, aku tidak akan meminta bantuan pada kalian. Aku akan berusaha untuk mendapatkan uang agar tetap makan," ucap Brian penuh penekanan.
"Bagus, dan nanti rumah ini harus kosong. Lalu untuk kamu Brian, Papa menunggu uang penjualannya!" kata Papa Axsel, dimana Brian harus menjual rumah tersebut untuk membayar hutang pada bank.
"Memangnya berapa hutang yang akan Papa bayar?" tanya Tante Linda karena suaminya tidak membicarakan soal hutang tersebut. Jadilah beliau bertanya? Jika hanya satu atau dua milyar, bukannya masih sanggup untuk membayar.
Empat milyar, utang yang harus Papa bayar." Jawab Papa Axsel tetap tenang, sedangkan Tante Linda merasakan sesuatu tengah menimpa di kepalanya. Hingga rasa denyutan tiba-tiba datang, sampai tak bisa berkata-kata.
"Papa serius? Papa tidak bohong kan?" seketika Tante Linda lemas dan kini nafsu makannya sudah berkurang banyak. Akibat ikut merasakan hutang sang suami, yang tak pernah ia sangka. Jika sebanyak itu dan parahnya lagi semua aset disita oleh bank.
Huuuuh.
"Apa menurut Mama, Papa sedang berbohong? Papa tidak seburuk itu Ma, yang tega atau pun macam-macam dengan ini semua."
"Ma, Are you ok?" imbuh Papa Axsel.
"I'm fine, Pa." Jawab Tante Linda meski tak bisa dipungkiri jika ini adalah ujian terberat yang ia hadapi.
Ekhem.
"Iya Key, tapi Mama sudah tidak berselera." Jawab Tante Linda dengan sebuah senyuman yang dipaksakan.
"Ma, apa Mama mau dimasakin makanan yang biasanya Key makan jika di rumah Ibu?" Key mencoba menawarkan menu keseharian Key makan, jika berada di rumah Bu Endang.
"Memangnya menu apa?" tanya Tante Linda yang mulai terpancing dengan ucapan Key.
"Yang pasti akan membuat Tante nambah," ucap Key penuh keyakinan.
"Boleh, kalau tidak merepotkan." Tante Linda tidak enak jika harus menolak. Meski menu apa yang nantinya Key masak, tapi Tante Linda juga penasaran dengan masakan Key.
"Nanti setelah Key pulang kerja. Key akan masak dan disamping itu sekalian beli bahannya," ujar Key menyanggupi mertuanya.
Ekhem.
__ADS_1
Ekhem.
Brian sengaja berdehem, dan menantikan Key menanyainya.
Ekhem.
Untuk yang ketiga kalinya Brian berdehem.
"Jika haus, tinggal minum. Tidak usah daraka deh!" sungut Key merasa jengkel.
"Dasar istri laknat, kamu tidak bertanya akan aku yang ingin apa kek gitu?" rupanya Brian iri dengan sang Mama, dan protes pada Key. Bukan sebuah ucapan baik yang diterima oleh Brian, melainkan sebuah ejekan.
"Aku tidak berniat memasakkan Om, karena apa? Karena Om tidak memberikan aku uang belanja! Sampai di sini paham."
Cih, enak saja pikir Key.
"Ya Tuhan."
Brian menepuk jidatnya karena bukan hanya tengil, tapi Key juga perhitungan rupanya.
"Kenapa? Mau protes, silahkan." Key tidak takut akan tatapan Brian justru wanita itu akan melawannya.
"Sudah-sudah, lanjut makan dan jangan ada yang berdebat lagi."
Belum juga nasi yang ada di atas sendok masuk ke dalam mulut. Suara bel membuat mereka saling pandang.
"Siapa pagi-pagi yang bertamu?" ucap Tante Linda.
Ting-tong.
Suara bel terus saja bunyi, hingga membuat Papa Axsel tidak nyaman dan menyuruh salah satu untuk membuka.
"Apa kalian tidak bisa membukanya sebentar. Ini sangat berisik," dengus Papa Axsel.
"Ya sudah kalau begitu. Biar Key saja yang membukanya," ucap Key sembari berjalan ke depan untuk membukakan tamu tersebut.
Sedangkan di luar, seseorang sesekali memijat kakinya yang dirasa kram. Akibat kelamaan berdiri karena sandal hak yang dipakai terlalu tinggi.
__ADS_1
Ceklek.
"Kamu, lelet banget buka pintunya!"