Duda Somplak VS Bocah Tengil

Duda Somplak VS Bocah Tengil
Menikahi suami buta.


__ADS_3

"Ay, apa yang dikatakan oleh Ibu kamu adalah benar. Dengan kamu menikah dengan pria itu, maka rumah ini tidak akan di sita." Sosok lelaki yang sudah lapuk di makan usia yang kini tengah menatap sang anak dengan begitu lekat dan pada saat lelaki itupun berbicara, seakan tidak punya rasa berdosa sama sekali.


"Pak, bukan Ay menolak permintaan Bapak. Rumah ini di gadaikan karena untuk biaya kuliah Raya, lalu kenapa aku yang harus menanggung semua ini." Keluh Ayana gadis berusia 20 tahun, di mana harus dipaksa menikah dengan lelaki yang tidak ia kenal. Bahkan wajahnya pun Ay juga tidak tahu seperti apa? Hanya karena biaya kuliah Bapaknya Ay rela menggadaikan sertifikat rumah atas permintaan istrinya yang tidak lain adalah Ibu tiri Ay.


"Kalau bukan kamu siapa lagi! Raya kan kuliah dan dia harus jadi sarjana. Mana mungkin ibu membiarkannya menikah muda," cetus wanita yang sekarang tengah berdiri. Menatap tidak suka dengan ucapan dari Ayana yang berusaha untuk membela diri dengan menolak secara halus.


"Bu, bukankah Raya yang menghabiskan uangnya itu? Kenapa Ibu harus menuntut padaku, aku pun punya kehidupan sendiri dan lagian jika Ibu bilang Raya masih muda, lalu aku ini apa!" jawab Ay tak kalah ketus.


"Pak, ibu tidak mau ya pokoknya. Bapak harus membujuk anak Bapak untuk mau menikahi pria buta itu. Raya seorang wanita berkelas dan sebentar lagi akan menjadi wanita karir, sedang Ayana hanya penjaga toko. Ibu harap Bapak paham dengan maksudku," ucap bu Lia pada sang suami dan setelah mengatakan istrinya itu meninggal suami bersama anak tirinya di ruang tamu.


"Apa menurut Bapak ini adil bagiku, aku tidak sekalipun meminta apa yang seharusnya menjadi hakku, aku tidak pernah menuntut Bapak yang selalu tidak adil padaku, tapi untuk masalah ini tolong Pak, aku anak kandung Bapak." Ay pun tak mampu menahan tangis karena semua ini tidak adil baginya.


"Apa yang dikatakan Ibu ada benarnya, karir Raya sebentar lagi akan cemerlang dan kamu ... kamu hanyalah penjaga toko kecil dengan gaji tidak seberapa," kata pak Rizal tanpa punya belas kasih pada Ay yang notabenya adalah putri kandungnya.


"Apa itu mauku Pak, Raya hanya anak tiri sayangnya dia beruntung karena berbeda denganku yang dianggap berbeda." Seketika Pak Rizal menatap sayu ke arah Ay, sosok anak yang memang sedikit tidak dipedulikan.


"Ay, bapak menyayangi kalian. Bapak tidak mau kamu membicarakan hal ini dan tolonglah jangan egois, nanti malam Juragan Darso akan datang bersama istrinya. Bapak harap kamu tidak membuat kecewa keluarga," ucapnya, lalu meninggalkan Ay seorang diri.


Belum sempat Ay mengeluarkan akan isi hatinya yang selama ini yang sudah sejak dulu ia pendam, namun, seakan Bapaknya buta dan tidak pernah menganggap Ay ada.


Bagaimana bisa Ayah kandungnya tega berbuat seperti ini, sedangkan anak tiri dianggap anak sendiri! Sungguh Ay tidak bisa berkata-kata saat ketidakadilan yang tak pernah ia dapatkan.

__ADS_1


Sedangkan di dalam kamar.


"Ingat Bu, aku tidak mau menikah dengan pria cacat itu. Apa jadinya aku yang hampir sarjana tiba-tiba dinikahkan oleh pria buta, itu sangat menjijikkan." Raya, dengan terang-terangan menolak karena tidak mau mempunyai suami cacat, nyatanya semua itu telah mendapat dukungan dari Ibunya. Yang tidak mau anaknya mendapat cemoohan dari orang-orang.


"Kamu tenang saja, kan masih ada Ayana dan dia pasti mau karena dipaksa sama Bapak." Jawaban yang membuat Raya berbunga-bunga karena semuanya telah berada di pihaknya.


"Ibu yakin jika gadis bodoh itu mau?" tanya Raya penuh selidik.


"Tentu dong Sayang, kalaupun menolak. Mau tinggal di mana itu anak," sahut bu Lia dengan seulas senyuman yang diterbitkan.


"Benar juga ya, dengan begitu Bapak tidak perlu pilih kasih kepadamu kan, karena di rumah ini yang akan menjadi putrinya cuma kamu." Bu Lia berujar dan dengan menyakinkan Raya bahwa semua ini juga demi dirinya.


"Jika anak itu pergi maka semua pekerjaan siapa yang mengerjakan?" kata bu Lia yang seketika ingat bahwa semua pekerjaan rumah, Ayana lah yang yang mengerjakan sebelum berangkat bekerja.


Dengan seulas senyuman Raya lantas berbisik di telinga Bu Lia, hingga keduanya pun kembali tertawa. "Bagaimana dengan ide yang aku berikan, Bu?" tanya Raya.


"Bagus dan ibu setuju." Jawabnya.


Detik kemudian saat Ay menyapu halaman, sebuah olokan kembali ia dengar. Hal itu pun membuatnya hanya dian dan tidak lagi melawan, karena pernah hal itu terjadi tetapi sayangnya Pak Rizal justru menamparnya dengan sangat keras.


"Cie ... cie, yang mau menikah. Selamat atas pernikahan kamu sebentar lagi dengan pria buta dan jelek itu," ejek Raya dan seakan bahagia jika Ay bernasib sial.

__ADS_1


Sedangkan Ay masih berusaha mengontrol emosinya agar tidak termakan ucapan dari saudara tirinya. Wajahnya yang sudah merah padam, tangannya menggenggam erat sapu yang dipegang. Ay pun langsung melengos pergi untuk menghindar.


"Auh ... lepaskan, ini sakit." Suara rengekan dari Ay, nampaknya membuat Raya bahagia hingga tidak peduli dengan Ay.


"Suruh siapa pergi? Makanya jangan pernah mengabaikanku," dengus Raya yang terus menarik rambut Ay.


"Ra, tolong lepaskan ini sakit!" ucap Ay memohon.


Brakk.


"Makan tuh, meja!" ujar Raya dengan sebuah tawa ia pun melepaskan Ay hinga tubuhnya terpental di meja makan.


"Auh, sakit sikutku, apa salahku sampai Raya dan Ibu tidak pernah menyukaiku?" Ay terus saja bertanya di dalam hatinya, soal kenapa Ibu dan Kakak tirinya tidak pernah menyukainya.


"Pak, kenapa Bapak juga tidak pernah membelaku saat mereka terus saja membuatku seperti pembantu? Apa aku harus menerima tawaran tersebut, dengan begitu aku akan terbebas dari keluarga ini?" Ay yang setengah melamun berpikir jika tawaran itu tidaklah sulit, meski harus menikahi pria cacat dan jelek.


Di saat Ay yang masih memikirkan soal tawaran tersebut. Tiba-tiba sebuah tepukan melunturkan lamunannya karena Ay pun sedikit terkejut dengan hal itu.


"Ay, jangan lupa nanti malam persiapkan dirimu. Kita tidak ada pilihan lain, kalau kamu masih menolak maka dengan terpaksa, bapak akan mengusirmu!" sebuah kalimat yang membuat Ay tak mampu untuk bernapas, dalam benaknya tidak menyangka bahwa Bapaknya sendiri tega berbuat seperti itu kepadanya.


Dulu ketika Pak Rizal izin untuk menikah dan berjanji bahwa akan bersikap adil, tapi sayangnya saat kedua keluarga bersatu. Justru Ay harus menelan pil pahit karena posisi sebagai anak kandung telah tergantikan oleh Raya, yang hanya seorang anak tiri.

__ADS_1


__ADS_2