Elliana

Elliana
11. Memantapkan Pilihan


__ADS_3

"Nov, gue mohon banget ke elo ini rahasia kita berdua ya, jangan cerita ke siapa pun juga, lo janji?" ucap Ellie serius.


"Iya gue janji gak akan ember" jawab Novi tak kalah serius.


Dari dulu sejak mereka bersahabat memang kesetian Novi tak perlu diragukan lagi. Susah senang sudah banyak mereka lalui bersama. Begitu pun sebaliknya Ellie juga selalu ada disaat Novi membutuhkan.


Novi tampak serius mendengarkan penjelasan sahabatnya itu. Ia meraih botol air mineral didepannya lalu meneguknya "uhuk uhuk uhuuk..." ia tersedak "apaaah?" teriaknya.


"Elo yakin dia gak sampai sejauh itu nyentuh lo El?" tanya Novi penuh selidik.


"Yakinlah, orang gue lagi dateng bulan kok dan saat gue bangun gue masih pake celana *****. Masih utuh gue Nov" bisiknya, suaranya sengaja ia pelankan tak mau ada orang lain yang mendengar bisa runyam nanti urusannya.


"Astaga bener-bener ya pak dosen ganteng error" Novi merutuki dosen barunya. "Tapi dia ganteng begitu masak iya gak punya pacar sih? Trus bilang mau gitu aja disuruh nikahin elo"


"Iya gitu deh, tadi bilangnya sih gak punya pacar"


"Lalu orang tua lo gimana? Elo gak takut sama ayah lo?"


"Kagak, kagak salah, ya jelas gue takut lah. Bisa-bisa gue bakal di remet habis jadi remah-remah rempeyek. Tau ah pusing gue Nov"


Novi tampak berpikir, kemudian menjentikkan jarinya ke udara. "Aha gue ada ide"


"Apaan?" desak Ellie.

__ADS_1


"Sini deket-deket" Novi membisikkan sesuatu ke telinga sahabatnya. Agak lama ia bicara tepat di telinga Ellie sampai rasanya seperti sakit encok punggung Ellie dalam posisi membungkuk setengah duduk.


"Enggak ah, gue gak mau gila aja lu nyuruh jadian sama Ragil. Gue gak ada perasaan apapun ke dia." Ellie menolak ide sahabatnya.


"Dah ayo pulang aja gerah pengin mandi" Ellie berdiri mengajak Novi pulang karena memang mereka sudah tidak ada jadwal kelas lagi.


...****************...


Sementara itu, di sebuah ruangan David nampak sedang membaca sesuatu di laptopnya. Ia menggerak-gerakkan mouse dan matanya serius menatap laptop. Ia manggut-manggut tersenyum sendiri.


Website resmi kampus nampak terpampang nyata di layar laptopnya. Tentu saja ia dengan mudah bisa mengakses data mahasiswa di website tersebut. Kemampuan komputernya tak bisa dipandang sebelah mata.


David memang kuliah jurusan hukum, namun saat ia mendapat beasiswa kuliah di London ia juga mengambil jurusan teknik komputer.


Seperti saat ini, kepulangannya ke Indonesia selain karena masa kuliah yang sudah selesai. Ia bersama beberapa rekannya sedang merintis bisnis seputar platform security untuk pabrik-pabrik besar. Dan tentu saja juga untuk menepati janjinya dengan pihak kampus untuk menjadi tenaga pengajar.


David mencari data tentang Elliana Kusuma Wardhani, hanya dengan sekali klik data yang ia mau sudah bisa diakses. Mulai dari nama, alamat, tanggal lahir, nilai semuanya muncul.


David nampak takjub dengan yang ia baca, Ellie adalah mantan runner up kontes bakat dan kecantikan di Jawa Timur waktu gadis itu masih berstatus siswi SMA.


Prestasi semasa SMA nya juga sangat bagus selalu juara umum setiap semester selama tiga tahun berturut-turut. Hal itulah yang memberikan kesempatan pada Ellie untuk bisa kuliah di salah satu universitas terkemuka di ibukota dengan cara gratis.


"Sepertinya mama gue gak salah pilih calon mantunya" David bicara sendiri dalam hati, ia tersenyum mantap. Seandainya ini film animasi pasti ia sudah dikerubuti kupu-kupu yang ingin hinggap karena dirinya sedang berbunga-bunga.

__ADS_1


David meraih ponsel yang tergeletak di sebelah laptop. Ia membuka daftar kontak disana kemudian dengan mantap menghapus nama Bianca di daftar kontak ponselnya.


Menit berikutnya ia membuka riwayat panggilan keluar. Dalam daftar tersebut terdapat dua nomer baru yang belum ia simpan, panggilan telah dilakukan tadi pagi.


Ia mengingat tadi pagi meminjamkan ponselnya untuk Ellie, David yakin seribu persen nomer itu adalah nomer ponsel Ellie sendiri.


Gadisku ❤️


David tersenyum lebar saat dengan sengaja ia memberi nama itu ketika proses menyimpan nomer baru milik Ellie barusan.


"Semoga gadis ini adalah jodoh terbaik yang diberikan Tuhan untukku, aku berjanji akan melupakan Bianca mengubur semua tentangnya dan membuka hatiku untuk Ellie" David meyakinkan dirinya sendiri.


Masih dengan menatap layar ponselnya, manik mata cokelatnya melihat ke arah jam digital yang terpampang besar di layar. Dengan bergegas ia mematikan laptop melipatnya dan memasukkan benda tersebut ke dalam tas ranselnya.


David keluar ruangan dosen, menuju tempat parkir. Ia tancap gas meninggalkan kampus menuju ke suatu tempat.


Bersambung..


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan vote 😘


__ADS_2