Elliana

Elliana
12. Temani Aku Makan


__ADS_3

Saat sedang asyik menonton serial drama korea kesukaannya bersama lima teman kostnya di ruang TV. Ellie terhenyak merasakan getaran ponsel yang ia kantongi di saku celana jeansnya.


Ellie mengeluarkan benda pipih itu kemudian menatap layar, panggilan masuk dari nomer tak dikenal. "Telpon dari siapa ya?" batinnya.


Ellie berdiri dari duduknya dan beranjak pergi menjauh "Hallo, siapa ya?"


"Keluarlah, aku diluar. Temani aku makan sekarang". suara bariton seorang pria terdengar.


Ellie kaget reflek ia menjauhkan ponsel dari telinganya, menatap layarnya dengan melotot heran. Nomer tak dikenal, tapi ia seperti mengenali suara itu.


"M-mas David?" ucap Ellie ragu.


"Iya aku, keluarlah aku tunggu" telepon terputus. David melipat kedua tangan di dadanya menyenderkan pinggangnya di samping mobil fortuner warna putih miliknya. Ia saat ini berada di depan rumah kost Ellie.


"Apa-apaan ini ganggu aja" ucap Ellie kesal.


Sontak ke empat temannya menoleh heran kearahnya. "Elo ngomong sama siapa?" Kata Ami teman kostnya.


"Eh anu, enggak pa-pa kok. Gue ngomong sendiri" jawab Ellie asal sambil berlalu pergi menuju keluar rumah.


Ellie membuka pintu rumah, lalu detik berikutnya membuka pintu pagar yang menjulang tinggi di depannya.


"Ya ampun, mas David. Kok bisa ada disini, lagi ngapain?" Tanya Ellie polos namun penuh selidik, keningnya mengkerut.


"Kamu ini lupa apa gimana? Barusan tadi aku bilang di telpon temani aku makan. Kamu gak inget?" Ucap David geleng-geleng kepala.


"T-tapi gimana mas eh pak eh kamu bisa tau aku tinggal disini?" Ellie mendadak bingung harus memanggil pria ini bagaimana, ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Bagaimanapun juga David adalah dosennya di kampus.


"Entar aja ngobrolnya, buruan aku laper. Kamu pake baju itu aja gak masalah kok. Ayo masuk!" titah David sambil membuka pintu mobil.


"Tunggu dulu, aku ambil jaket bentar" Ellie sedikit berlari kembali masuk ke rumah untuk mengambil jaket jeansnya dikamar.


Entah kenapa perintah David seperti mengandung aroma hipnotis, Ellie tak sanggup menolak ajakannya. Bak kerbau dicucuk hidungnya ia menurut saja diajak pergi.


Tentu saja ia melewati ruang TV, tak mau menanggapi tatapan penuh pertanyaan dari teman-temannya. Ellie pun pamit pergi sambil berlari. "Pren gue pergi dulu ya bentar buru-buru urgent alias emergency"

__ADS_1


Teman-temannya hanya menoleh sekilas karena Ellie sudah berlalu keluar, mereka pun tak berniat bertanya lebih jauh lagi. Semuanya kembali menonton serial drakor dengan khidmat.


David heran saat Ellie kembali keluar begitu cepatnya. Tak sampai lima menit. Ia kira bakalan menunggu lama secara umumnya jika seorang gadis diajak keluar oleh seorang pria pasti mereka akan berdandan dulu lalu memilih baju yang entah sampai berapa kali pilihan.


Tapi Ellie? Gadis ini memang beda dari yang lain. David memandang sekilas penampilan Ellie saat dia keluar. Baju masih sama dengan saat ia keluar tadi. Kaos polos berwarna putih celana jeans panjang warna abu-abu dipadu jaket jeans warna senada dengan celananya model jaket crop dengan ujungnya rawis mirip rambut tergerai.


Tak lupa sebuah tas kecil atau pouch warna hitam digenggamannya. Rambutnya yang panjang diikat satu mirip ekor kuda. "Aah manis juga lama-lama kalo dilihat" batin David gusar.


"Kenapa ngeliatinnya gitu amat?" Tanya Ellie. "Kan tadi kamu sendiri yang bilang gak masalah aku pake baju ini, bener kan?" sambungnya.


"Tentu, ayo masuk?" titahnya, cacing diperutnya sudah tak sabar diberi sesuap nasi.


Mobil melaju pelan melewati gang yang hanya cukup dilewati satu mobil saja. Jika ada mobil dari arah berlawanan yang hendak lewat maka harus mundur dulu dan harap sabar antri. Karena jalanan itu gak akan cukup untuk dua mobil berpapasan.


Rumah kost yang Ellie tempati memang berada di ujung sebuah gang. Tentunya gadis itu memilih tempat kost yang agak murah harganya. Dan biasanya yang masuk gang kecil begini harganya memang terjangkau tidak sama dengan yang berada di jalan besar depan pasti lebih mahal.


Tapi jangan salah meski murah namun tetap bersih dan bagus sederhana gitu lah. Bukan tempat yang sempit kumuh dan kotor.


Di dalam mobil Ellie merasa canggung dia bingung harus apa. Akhirnya ia memilih memainkan ponselnya saja.


"Hm" jawab Ellie singkat. Ia sedang sibuk membalas chat dari Novi yang mempertanyakan kepergiannya mendadak tadi.


"Mau makan apa?" tanya David lagi. Ia menoleh ke samping kiri sekilas. Ellie masih fokus dengan ponselnya.


"Aku udah makan kok, terserah kamu aja mas kan kamu yang laper"


"Baiklah"


Tak lama mobil berhenti di pinggir jalan, Ellie melepas seat bealtnya dan ikut turun. Tak ia sangka David memilih warung pinggir jalan untuk makan. Ellie pikir mereka akan ke kafe atau resto mahal. Ia pun tersenyum "David gak bisa ditebak" batinnya.


"Kamu yakin gak mau dipesenin makanan" tanya David setelah mereka duduk lesehan saling berhadapan.


"Yakin, aku udah makan kok tadi di kosan rame-rame" jawab Ellie "teh hangat aja deh mas" pintanya kemudian. Ellie mengedarkan pandangan kesekitar tempat itu, warung yang tak begitu luas, bersih ada beberapa pengunjung juga yang sedang menikmati makanan.


Seorang pria paruh baya mendekati mereka, ia si pemilik warung nasi bebek ini. Pria itu tersenyum sangat ramah.

__ADS_1


"Pak Udin, mesen nasi bebeknya satu sama teh anget dua ya" ucap David pada pria tersebut dan tersenyum ramah.


"Siap mas, wah mas David lama banget nih gak kesini, pas sekarang kesini sama cewek, cantik lagi. Pacarnya ya mas?" tanya pak Udin ingin tahu.


"Bukan pacar lagi pak tapi ini calon istri saya" jawab David sambil menampilkan senyum lebar.


Ellie kaget bukan main mendengarnya matanya membulat sempurna mulutnya menganga lebar. Jika saja ada lalat lewat bisa dipastikan akan masuk dengan mudahnya.


"Luar biasa mas David memang hebat cari calon" pria itu mengacungkan dua jempolnya ke arah David. "Tunggu bentar ya mas pesanan akan segara datang" lanjut pak Udin berlalu.


"Mas, kamu ngomong apa sih? Kenapa juga ngasih tau semua orang" Ellie menatap David cemberut. Yang ditanyai hanya tersenyum genit sambil mengedipkan sebelah matanya saja.


Tak butuh waktu lama, pesanan David datang. Ia tersenyum puas menatap hidangan di meja. Nasi putih, bebek goreng dengan taburan kriuk diatasnya tak lupa lalapan dan sambel yang nampak menggoda sekali.


David mencelupkan jari tangan kanannya ke dalam mangkuk plastik berisi air yang fungsinya untuk cuci tangan itu. Dengan lahap ia makan menikmati makan malamnya yang sedikit terlambat itu.


Ellie hanya bisa menelan ludah melihatnya. "Duh kok gue jadi laper liatin dia makan begitu, apa menu itu beneran enak? Wuih sambelnya juga kayaknya maknyus. Nasib gue deh ngeces" rutuk Ellie dalam hati. Sepertinya ia menyesali telah menolak dipesankan tadi.


...****************...


.


.


.


.


.


.


Bersambung


Terima kasih banyak yang sudah mampir, jangan lupa like komen dan vote yaa 😘

__ADS_1


__ADS_2