
"Mas, kita mau ngapain di hotel?" Ellie terus bertanya dengan penasaran.
Sementara itu David hanya senyum-senyum tetap konsentrasi mengemudi tanpa menjawab pertanyaan dari istrinya.
Perjalanan menuju hotel A tak membutuhkan waktu lama, setelah tiga puluh menit mereka telah sampai ditujuan.
David segera turun saat sampai di depan hotel.
"Sayang, kamu gak turun?" tanya David pada Ellie yang masih duduk manis di kursi depan. Ia melempar kunci mobil ke petugas hotel.
"Jawab dulu Mas. Kita kesini mau apa?" Ellie bersikukuh dengan pertanyaannya. Bibirnya mengerucut lucu.
"Hehe... Iya-iya aku jawab. Aku ada meeting disini. Kamu ikut masuk dan tunggu aku di kamar hotel sebentar."
"Oh gitu. Oke aku turun."
Keduanya berjalan beriringan memasuki hotel bintang lima itu. David menuju meja resepsionis dan memesan satu kamar. Setelah selesai mereka bergegas menuju kamar yang dipesan.
Jam menunjukkan pukul empat kurang tiga puluh menit, masih ada waktu sebelum meeting dengan pemilik ABC Grup dimulai.
"Kamu tunggu disini, mandi dan istirahatlah dulu. Aku mau meeting sebentar." ucap David sesaat setelah mereka masuk ke dalam kamar hotel.
"Iya Mas, tapi kenapa pake acara sewa kamar segala sih? Aku kan bisa nunggu di lobi atau di taman gitu!"
"Gak ada, nanti kamu bisa diculik orang lagi. Udah jangan membantah kamu disini saja."
Ellie diam dan hanya menunduk patuh. "Huh... Buang-buang duit aja sih. Kamar beginian semalam berapa coba biayanya!" batin Ellie kesal dengan suaminya.
Setelah kepergian David, Ellie memastikan pintu kamar sudah terkunci rapat. Ia melihat-lihat ke sekeliling kamar hotel itu. Nuansa klasik dan hangat terlihat dari interiornya.
Ranjang yang besar dan empuk kini menjadi tujuannya. Ellie merebahkan tubuhnya di atas sana "Hem nyaman sekali tiduran disini."
Setelah puas rebahan di kasur, ia beranjak masuk ke kamar mandi. Ellie membersihkan tubuhnya dan memakai handuk kimono yang telah tersedia di gantungan.
Kali ini ia berjalan ke arah balkon, membuka pintu dan berdiri di sana melihat pemandangan gedung-gedung tinggi menjulang dan indahnya matahari yang hampir tiba di peraduan nya.
Saat asyik menikmati pemandangan sore hari kota Jakarta, gadis itu dikejutkan oleh suara ketukan pintu kamar.
Tok tok tok...
"Siapa ya? Apa ada tamu? Atau itu Mas David?" Ellie bermonolog. Ia ragu saat akan membuka pintu.
Ellie berdiri mematung di depan pintu. Ia tak segera membukanya. Sekali lagi ketukan pintu terdengar.
Tok tok tok...
"Room servis" suara seorang pria terdengar.
Ellie semakin ragu dan takut. Namun akhirnya ia memberanikan diri membuka pintu hanya sedikit.
"Ada perlu apa Mas?" tanya Ellie dengan posisi mengintip pada pintu yang hanya ia buka sedikit.
"Saya mengantarkan pesanan makanan Nona."
"Tapi saya tidak merasa pesan sesuatu kok, mungkin anda salah kamar."
"Pesanan atas nama tuan David kamar 708. Apa ada yang namanya tuan David disini Nona?"
"Ouh iya benar, sini!" Ellie menerima sebuah nampan dari pelayan itu.
"Terima kasih ya." lanjut Ellie lagi dan dengan cepat menutup pintu dan menguncinya lagi.
Pelayan merasa heran dengan tingkah Ellie, namun ia tak mau ambil pusing dan segera berlalu pergi.
Ellie semakin terheran-heran dengan kelakuan suaminya ini. Tiba-tiba memesan sebuah kamar hotel yang mewah dan mengirimkan makanan enak.
__ADS_1
...****************...
Sementara itu di sebuah ruangan khusus meeting David sedang berbincang santai dengan tuan Lukman Nugraha. Keduanya tampak sesekali tertawa dan terlihat akrab.
Sesuatu yang dikhawatirkan David ternyata tidak terjadi, bahkan tuan Lukman tak berniat menghalangi proses hukum yang dijalani Ragil. Sehingga proyek kerja sama mereka tetap berjalan sebagaimana mestinya.
Kini David bisa bernafas lega dan tidak perlu mengkhawatirkan perusahaannya. Kasus Ragil juga tetap akan diproses sesuai hukum yang berlaku.
Bahkan ternyata putra sulung tuan Lukman adalah salah satu teman David saat berada di London.
"Saya betul-betul mohon maaf pada anda nak David atas perbuatan Ragil terhadap istri anda. Tolong sampaikan pada istri anda saya sangat menyesal hal itu harus terjadi." ucap tuan Lukman dengan penuh penyesalan.
"Sudahlah Tuan, semua yang telah berlalu jangan diungkit lagi. Saya juga merasa senang dan lega proyek kerja sama kita tidak terpengaruh dengan kasus ini. Terima kasih anda sudah mempercayai kami." balas David dengan tenang.
"Saya pastikan Ragil akan mempertanggung jawabkan perbuatannya dan saya harap dia bisa berubah lebih baik setelah bebas nanti." ucap tuan Lukman.
"Maaf Tuan, apa boleh saya meminta tolong sesuatu pada anda?" ucap David ragu-ragu.
"Katakan saja, saya akan membantu!" seru tuan Lukman.
"Tolong tuan Lukman jaga rahasia bahwa Ellie adalah istri saya. Kami baru menikah dan istri saya masih kuliah. Dia belum siap dengan statusnya sekarang. Apa anda bisa Tuan?" David menjelaskan.
"Ooh itu. Tentu nak David. Saya pastikan tidak akan ada yang tahu tentang hal ini."
"Terima kasih Tuan."
"Oiya ini ada oleh-oleh untuk istrimu, semoga dia menyukainya." tuan Lukman memberikan sebuah paper bag berukuran besar kepada David.
"Astaga Tuan tidak perlu repot-repot begini."
"Sama sekali tidak merepotkan, tolong diterima ya!" tuan Lukman tersenyum tulus.
"Baiklah kalau tuan memaksa, terima kasih banyak"
Setelah berbincang cukup lama, kini David berpamitan.
Ia bergegas masuk lift menuju lantai tujuh tempat kamar yang disewanya.
Saat hendak membuka pintu dengan kartu hotel, David tampak kesulitan karena pintu terkunci dari dalam. Akhirnya ia terpaksa mengetuk pintu itu.
Tiga kali ketukan tak ada jawaban dari dalam. David segera mengambil ponsel dari saku celananya dan hendak menelepon Ellie. Baru satu kali nada dering pintu akhirnya terbuka.
Ellie melongok melihat siapa yang datang.
"Oh kamu toh Mas!" seru Ellie dan membuka lebar pintu supaya suaminya bisa masuk ke dalam.
"Maaf Mas, aku tadi ketiduran hehe..." ucap Ellie dan duduk di sofa.
"Gak masalah, nih buat kamu" David menyodorkan sebuah paper bag ke arah Ellie.
"Apa ini?"
"Kado dari rekan kerjaku tadi yang barusan meeting."
"Kado? Aku gak lagi ulang tahun kok, tapi gak pa-pa deh" Ellie tersenyum senang dan meraih paper bag dari tangan David.
Ellie membukanya dan terkejut saat melihat isinya sebuah tas branded yang mewah dan elegan.
"Wah bagus banget ini Mas, harganya pasti mahal ini. Sampaikan terima kasih ku pada rekan mu itu ya Mas." Ellie berbinar mendapat hadiah mewah.
David mengangguk dan duduk tepat di samping Ellie.
"Oiya, kamu sudah makan belum Mas? Tadi aku sisain makanan buat kamu tuh di meja. Mau aku ambilkan?"
"Gak usah, aku udah makan tadi."
__ADS_1
"Oh oke. Kalau gitu ayo kita pulang, meeting kamu udah selesai kan?"
Ellie hendak berdiri namun ditarik oleh David hingga jatuh tepat di pangkuan David.
"Aw... Mas ngagetin aja ih. Lepasin, ayo kita pulang. Nanti dicariin mama sama papa loh!"
"Malam ini kita tidur disini aja" David melingkarkan kedua tangannya di tubuh Ellie. Ia menyandarkan kepalanya di punggung istrinya itu. Hingga gadis itu tak bisa berkutik.
David menghirup dalam aroma tubuh Ellie dan menciumi rambut Ellie yang bebas tergerai di punggungnya.
"Tidur disini Mas? Tapi--" Ellie tak bisa melanjutkan ucapannya.
Dengan gerakan cepat David memutar tubuh istrinya yang masih berada di pangkuannya dan kini keduanya saling berhadapan.
Ellie merasa gugup meski bukan pertama kalinya ia berada sedekat ini dengan suaminya.
"Kamu mau sembuh dari trauma itu kan Sayang?" David menatap lekat netra Ellie.
Ellie hanya mengangguk dan balas menatap suaminya dengan lekat. Drama saling tatap berlangsung beberapa saat.
"Ayo kita coba terapinya sekarang" ucap David berbisik ditelinga Ellie.
David mendekatkan wajahnya ke wajah Ellie perlahan mengikis jarak, tangannya membelai rambut Ellie dengan lembut.
David mencium kening Ellie dan membaca sebuah do'a. Ellie meremang dengan perlakuan lembut suaminya.
"Bantu aku sembuh ya Mas, tolong pelan-pelan dan mengertilah keadaanku!" ucap Ellie lembut.
"Iya Sayang, apa kamu siap?"
"A-aku siap" Ellie mengangguk pelan suaranya bergetar.
CUP
Tak butuh waktu lama lagi, David segera menyambar bibir Ellie menci*minya dengan lembut dan berusaha menerobos lebih masuk kedalam.
Tangan David perlahan menyelinap masuk kedalam kemeja yang dikenakan Ellie. Meraba bukit kembar istrinya dan mer*masnya dengan pelan.
"Akh..." Ellie mendesah pelan mendapat sentuhan nikmat dari suaminya. Perlahan ia memejamkan matanya.
"Kamu gak pa-pa?" tanya David setelah melepas pagutan bibirnya.
"It's okay aku gak pa-pa." Ellie tersenyum.
David kembali beraksi dengan mel*mat bibir istrinya lagi, kali ini lebih menuntut membelit lidah dan sedikit menggigit bibir bawah istrinya.
Tangannya aktif membuka kancing kemeja Ellie dan melemparnya ke lantai setelah sukses membukanya. Tubuh bagian atas istrinya kini hanya tertutupi oleh kain berbentuk kacamata saja.
Puas dengan bibir ci*man itu turun ke leher jenjang Ellie. David meny*sap dan menj*lat di sana. Ellie bergerak gelisah dan menjambak pelan rambut hitam David.
Tangan David melepas kaitan b*ra di punggung Ellie dengan sangat lihai. Tak ingin berlama-lama lagi ia segera melahap bukit kembar istrinya bergantian kanan dan kiri.
Namun tiba-tiba sesuatu yang tak terduga terjadi...
...****************...
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
bersambung....