
Memakai gaun selutut polos warna toska dipadu dengan blazer warna putih tulang, rambutnya yang panjang dibiarkannya tergerai rapi. Ellie tampak cantik dan tengah duduk diteras menanti jemputan.
Tak berselang lama sebuah mobil minibus warna hitam berhenti didepan rumahnya. Sosok pria tampan memakai kacamata hitam turun dari mobil dan menghampirinya. Pria itu adalah David.
"Hai, sudah siap?" sapanya lembut pada Ellie yang berdiri menyambutnya.
Ellie mengangguk dan tersenyum "aku pamitan sama ibu dan ayah dulu ya". Ia berbalik masuk kerumah.
"Betapa indahnya ciptaan mu ya Tuhan" batin David netranya tak henti memandangi gadis itu.
Ellie kembali kedepan dengan kedua orang tau dan adiknya.
"Om tante saya permisi dulu" sapa David ramah.
"Hati-hati dijalan, saya titipkan Ellie sama kamu" ucap pak Ahmad.
David mengangguk patuh "iya om" sahutnya.
Setelah berpamitan keduanya naik mobil dan menuju bandara.
Ellie dan David tengah berada di dalam pesawat yang akan membawa mereka kembali ke Ibukota. Kedua orang tua David memutuskan untuk ke Semarang mengunjungi Dinda yang tinggal dengan neneknya disana. Sekaligus menyampaikan kabar pernikahan David.
"Ell" panggil David pelan.
"Ya" jawab Ellie tak kalah pelan.
"Setelah menikah nanti, untuk sementara waktu kita akan tinggal serumah dengan orang tuaku. Apa kamu keberatan?" David menoleh menatap gadis yang duduk disebelahnya ini.
"Enggak lah mas, aku malah senang.
Tante dan om orangnya baik sama aku" Ellie tersenyum.
"Syukurlah, aku lega". David menarik nafas dalam-dalam ia seperti sedang ingin mengatakan sesuatu hal yang penting.
"El, perlu kamu tahu aku bukanlah anak sultan yang bergelimang harta, atau seorang CEO yang kaya raya dengan banyak perusahaan. Aku hanya pria biasa, selain menjadi dosen dikampus ada perusahaan kecil ini baru aku rintis dalam hitungan bulan dengan beberapa rekan kenalanku. Saat ini harta yang aku punya cuma mobil saja, ruko yang aku jadikan kantor itu pun masih sewa. Aku harap kamu gak mempermasalahkan hal ini" panjang lebar David menjelaskan keadaan dirinya pada Ellie.
Kalau dipikir-pikir memang mereka belum saling mengenal lebih jauh. Ellie bahkan tidak tahu pekerjaan calon suaminya, yang ia tahu baru sedikit saja seorang dosen tidak tetap.
Ellie menggeleng pelan sebuah senyuman yang tulus masih ia tunjukan. "Inshaa Allah aku terima kamu apa adanya mas".
Mendengar itu David merasa menjadi pria yang paling beruntung saat ini, tangan kanannya bergerak hendak menyentuh tangan kiri Ellie. Namun sebelum tangan keduanya bersentuhan, ia berkata "ini boleh pegang gak?" David menunjuk tangan Ellie. Ia meminta izin dulu.
Ellie tersipu ia menggigit bibir bawahnya lalu mengangguk pelan. Tak berani menatap netra David, ia memalingkan muka ke arah jendela. Pipinya merona merah mirip buah tomat.
Selama perjalanan David masih tak ingin melepaskan genggaman tangannya, tangan Ellie sampai mati rasa karena tak berani bergerak sedikit pun.
"Oh ya ampun ini kenapa lengket sekali sih? Apa dia tadi pake lem dulu?" rutuk Ellie dalam hati. Ia menyesali telah mengizinkan David memegang tangannya.
Selama ini Ellie memang tak pernah dekat atau berpacaran dengan cowok manapun. Hari-harinya sudah sangat disibukkan dengan kegiatan sekolah, acara extra kurikuler, menjadi duta provinsi dan tentu juga membantu bisnis sang ibu di bidang kuliner.
__ADS_1
Meski banyak cowok yang berusaha mendekatinya ia tetap menganggap hanya sebatas teman saja tak lebih. Tentu saja karena sampai detik kemarin belum ada yang mampu menggetarkan hatinya.
Baru David yang berhasil membuat jantungnya tak sehat karena tak hentinya berdegup kencang, pria yang saat ini berada tepat disampingnya. Pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.
Baru saat sampai di bandara Jakarta, David melepaskan genggaman tangannya. Karena ia sibuk melepas seat belt dan juga mengambil bawaan yang ada di atasnya.
Ellie menggerak-gerakan tangan kirinya sebentar karena merasa kebas, namun saat mereka akan turun kembali tangan itu digenggam erat oleh David.
"Astaga pria ini bener-bener ya, gue gak akan kabur beneran deh huhuhu" rengek Ellie dalam hati.
Mereka berjalan menuju tempat parkir setelah mengambil koper. Dan tentu saja tangan David masih mengenggamnya erat.
"Mas, ini udahan dong tolong lepasin dulu tangannya. Aku gak akan kabur" ucap Ellie saat mereka telah sampai di dekat mobil David yang terpakir.
"Kenapa?"
"Tanganku mati rasa" jawab Ellie cemberut.
David tergelak "oh maaf, aku pikir kamu menikmatinya".
Ellie memutar bola matanya malas. Sambil membuka pintu mobil dan duduk manis di sebelah kursi kemudi.
Setelah memasukkan tas dan koper ke bagasi mobil, David membuka pintu dan duduk di balik kemudi. "Masih sore, kamu mau langsung pulang atau jalan-jalan dulu?" tanya David. Sebenarnya ia berharap Ellie menjawab jalan-jalan dulu karena sejujurnya ia masih ingin bersama gadis cantik ini.
"Langsung ke kost aja ya, setriakaan ku numpuk" jawab Ellie asal sambil memasang seat beltnya. Ia hanya beralasan saja, Ellie takut kalau-kalau ada teman kampusnya yang melihatnya jalan bersama dosennya, apa kata dunia nanti?
"Oke" balas David singkat, ia kecewa.
"Ya ada apa Roy?" ucapnya sesaat setelah menggeser tombol hijau di layar.
Suara diseberang tampak menjelaskan sesuatu.
"Aku kesana sekarang" jawabnya singkat kemudian dengan tergesa ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Ellie merasa ada yang tak beres, tangannya berpegangan pada handel pintu mobil yang ada diatas. Jantungnya berpacu cepat secepat mobil yang melaju kencang membelah jalanan dan sesekali menyalip.
"Mas, disini masih ada aku kalau kamu mau mati, mati sendirian aja jangan ajak aku. Kenapa ngebut kayak gini? Apa yang terjadi? Kamu mau kemana?" Suara Ellie bergetar menahan takut.
"Ke kantor, sesuatu yang buruk terjadi" jawab David masih dengan wajah seriusnya.
Namun ia sedikit mengurangi kecepatannya.
"Maaf aku membawa mu kesini dulu, hanya sebentar. Gak pa-pa kan?" Ucap David saat mereka sampai di depan sebuah ruko dua lantai.
Di depan ruko tersebut terdapat papan nama bertuliskan D Tech, yang tak lain adalah nama perusahaan David.
Ellie hanya mengangguk dan tersenyum, ia tak keberatan sama sekali.
"Ayo masuk" ajak David pada Ellie yang telah turun dari mobil.
__ADS_1
"Ini kantorku, ruanganku dilantai atas. Aku keatas dulu. Kamu bisa istirahat disitu" kata David pada Ellie saat mereka sudah berada di dalam ruko sederhana tersebut. Ia menunjuk sebuah ruangan yang didalamnya terdapat satu set sofa.
"Iya" Ellie mengangguk.
David bergegas naik ke atas menuju ruangannya. Langkahnya sangat lebar ia bisa menggapai tiga anak tangga sekaligus dalam satu langkah. Roy sang asisten telah menunggunya diatas.
"Gimana, udah bisa dilacak?" tanya David pada Roy yang nampak sibuk di depan komputer. David melepas jaket dan melemparkannya ke sofa yang berada di pojok ruangan.
"Hampir bos" jawab Roy.
David mendekati Roy, ia duduk di kursi kebesarannya sesaat setelah pria itu bangkit dan mundur. Kini David nampak serius menatap layar komputer, sedangkan Roy berdiri patuh di sampingnya.
Sementara David bergelut dengan file-file program melacak alamat ip yang menyusup masuk ke programnya. Ellie di lantai bawah berkeliling mengamati ruangan. Karena ini hari minggu kantor itu sepi tak ada karyawan yang bekerja.
Di lantai bawah terdapat satu meja yang agak panjang dari yang lain. Dan disekitarnya ada enam meja yang disekat-sekat sepertinya itu meja karyawan.
Ada satu ruangan yang berisi sofa dan beberapa rak besi di dalamnya. Dan ada satu lagi ruangan sepertinya itu adalah pantry, terdapat lemari es, meja makan, kursi serta kompor dan beberapa piring dan gelas.
Ellie masuk ke pantry, ia berniat membuat kopi. Setelah melihat-lihat keadaan isi lemari es, ia menemukan roti tawar dan berbagai macam selai.
Otak pintarnya berpikir sejenak. Ia memutuskan untuk membuat kue bakar saja sebagai teman minum kopi. Itu sepertinya cocok juga untuk mengganjal perut sebelum jam makan malam tiba.
Mungkin diatas ada teman David yang tadi menelpon, jadi Ellie memutuskan membuat tiga cangkir kopi dan tiga buah roti bakar.
Tak butuh waktu lama, lima belas menit kemudian Ellie sudah selesai dengan roti bakar dan kopinya. Ia melangkah menaiki tangga dengan membawa nampan.
Setelah berada diatas, Ellie nampak kebingungan ia harus masuk ke ruangan yang mana? Terdapat tiga ruangan dengan pintu kaca. Salah satu diantaranya lebih luas, ia memutuskan masuk ke ruangan yang terlihat lebih luas itu.
Tok tok tok
David dan Roy nampak terkejut dengan siapa yang datang membuka pintu. Tentu saja yang paling terkejut adalah Roy, ia melongo menatap gadis cantik yang tersenyum kearahnya. Oh Roy kau salah lebih tepatnya gadis ini tersenyum ke arah David yang ada disebelah.
Meski kaget namun David tetap tersenyum "sebentar lagi selesai, letakkan di situ dulu" ucapnya pada Ellie. Dagunya menunjuk pada sebuah meja yang ada di antara sofa.
Ia menyadari Roy yang masih terkejut, "dia calon istri gue, jangan macam-macam" kata David sambil melotot ke arah asistennya itu.
Ia tahu betul siapa Roy, playboy kelas teri yang suka bermain-main dengan gadis cantik. Selama keduanya berteman hampir lima belas tahun bersama belum ada satu pun gadis yang dianggapnya serius.
.
.
.
Bersambung
.
.
__ADS_1
.
Dukungannya dong readers, like komen dan vote π