
Cukup lama Ellie berada didalam kamar mandi, ia mulai mengingat samar-samar kejadian semalam. Ia sadar pria itu tak sepenuhnya salah, jika saja dirinya berontak maka bekas-bekas ditubuhnya ini tak akan ada. Namun ia seakan menikmati hal itu, entah mungkin saja ia kira sedang bermimpi.
Untung saja pakaian yang diberikan oleh bu Ratna berupa sweater lengan panjang dan celana panjang jadi kissmark ditubuhnya bisa tertutupi dengan aman.
Dikamar lain, David nampak segar setelah mandi. Ia melihat kebawah, pakiannya dan pakaian gadis itu tercecer dilantai dengan bau yang menyengat. 'Aah aku memang sudah tak waras' batinnya.
David bercermin merapikan penampilannya, kemeja warna navy dipadu celana panjang jeans hitam nampak melekat sempurna ditubuh atletisnya. Ia menyisir rambutnya rapi, sesaat teringat betapa beringasnya ia saat mencumbui gadis itu.
Ia menggeleng pelan merutuki perbuatannya, namun ia yakin tak berbuat yang lain. Ia tak sampai menodai gadis itu.
Seperti janjian saja mereka bersamaan keluar dari kamar. Ellie kaget dan berjalan cepat mendahului David untuk turun ke bawah. Ekor matanya sempat melirik ke arah David "waah tampan sekali pria itu" batinnya.
"Ayo kita sarapan dulu, setelah itu mama dan papa mau bahas soal kalian" pak Wahyu, papa David bersuara.
Mereka sarapan dengan sunyi dan tenang, hanya suara sendok beradu piring yang terdengar.
Ellie duduk bersebelahan dengan David, ia hanyak menunduk sambil sesekali melirik David dengan ekor matanya. Karena jarak mereka tak terlalu jauh, Ellie bisa mencium aroma parfum David yang harum.
Sarapan telah selesai, bu Ratna mengajak mereka ke ruang tengah. Dan mulai berbicara dengan tenang.
"Ellie, ini pak Wahyu suami saya papanya David" bu Ratna memperkenalkan suaminya pada Ellie.
"Iya, nama saya Elliana om tante" ucap Ellie sopan memperkenalkan diri.
"Kamu pacarnya David? pak wahyu bertanya.
"Bukan" Ellie dan David menjawab bersamaan.
"Lalu? Bagaimana ceritanya kalian bisa tidur bersama tadi malam disini dirumah saya" lanjutnya.
David nampak berpikir sejenak.
__ADS_1
"Saya tadi malam ke bar ada teman yang ulang tahun, karena terus-terusan mereka meminta saya untuk minum alkohol saya jadi tak enak. Cuma minum sedikit saja saya sudah mabuk dan saat di depan toilet saya pingsan, dan sepertinya mas David nolong saya om tan" Ellie menjelaskan panjang lebar.
"Benar begitu Vid?" sahut pak Wahyudi.
"Ya, seperti yang papa dengar sendiri dari dia"
"Kamu ngapain ke bar hem? Mabuk-mabukan gak jelas? Kamu gak sayang badan kamu ya? Bener-bener ya mantan kamu itu udah bikin kamu berubah" geram bu Ratna.
David diam saja ia menunduk meresapi kata-kata sang mama. Ellie melirik David sekilas, tak sengaja pandangan mereka bertemu cukup lama mereka bersitatap.
"Sudah sudah, jangan bahas dia mah. Ellie umur mu berapa? Kamu kuliah kerja atau apa? Rumahmu dimana?" pak Wahyudi fokus menatap Ellie.
"Saya masih kuliah om, umur saya 20 tahun dan saya dari Surabaya disini saya ngekos dekat kampus"
"Kamu punya pacar?" tanya bu Ratna to the point.
"Enggak tan" jujur Ellie.
"Oke baiklah, kalian menikah saja" kata Bu Ratna santai sambil menyeruput teh nya.
"Tapi mah, gak bisa gitu dong. Aku kan gak ngapa-ngapain dia mah" seru David protes.
"Apa kamu bilang? Gak ngapa-ngapain dia? Yang bener aja, lalu merah-merah itu apa?" tanya bu Ratna sambil mengangkat dagunya ke arah leher Ellie.
Spontan Ellie menarik sweaternya untuk menutupi lehernya yang sedikit terbuka. Ia beringsut malu.
"Vid, mama mu ini bukan anak kecil yang gak tau apa itu bekas merah yang ada di sekujur tubuh dia. Okelah mama lega kamu gak memperkosa Ellie, tapi tetap saja kamu udah melecehkannya dan juga melihat tubuhnya polos. Apa mama salah hem?" Tantang Bu Ratna dengan sorot mata tajam menatap putranya.
"Aku cuma bantuin dia lepasin baju, baju dia kotor semalam mah" David ngeles lagi.
"Kamu punya adik perempuan yang juga posisinya sama seperti Ellie, sekolah diluar kota jauh dari orang tua. Coba kamu bayangkan kalau kejadian seperti ini juga menimpa adik kandungmu Dinda?" Lanjutnya.
__ADS_1
Suasana hening sejenak, Ellie melirik ke arah jam dinding. 'Waduh bisa telat kelas nih' batinnya kesal. Kenapa masalah jadi runyam gini. Menikah? Oh no! Bukan cita-citaku menikah diumur dua puluh tahun dan bahkan aku masih semester tiga. Apa kata orangtua ku? Apa kata dunia? Dan gimana nasib beasiswaku.
Pikiran Ellie mendadak travelling jauh kedepan, ia merasa kepalanya mau pecah saja. Diliriknya David yang nampak tengah berpikir.
"Maaf tante dan om, saya tidak bisa menikah dengan mas David atau siapapun juga saat ini. Saya bisa memaafkan kejadian ini dan akan mencoba melupakannya. Saya masih ingin kuliah sampai selesai, maaf" ucap Ellie dengan mantap namun pelan bersuara.
"Tidak bisa nak, David harus bertanggung jawab. Biar saya yang menelpon orang tau kamu dan menjelaskannya" suara tegas pak Wahyudi menyudahi perbincangan ini.
"Kamu telpon orang tau mu sekarang, saya yang akan bicara" lanjutnya.
Ellie menepuk jidatnya, ia baru ingat kalau ponsel dan tasnya tertinggal di bar. "Ponsel saya tertinggal di bar om" kata Ellie pelan.
"Saya juga harus menelpon teman saya mengabari keberadaan saya sekarang, mungkin saja mereka khawatir karena saya menghilang" pungkasnya.
"Nih, pake hp ku" David menyodorkan ponsel ke tangan Ellie.
Ellie menatap David "iya makasih" balasnya seraya mengambil ponsel dari tangan David.
.
.
.
Bersambung
.
.
.
__ADS_1
.
Hallo jangan lupa like komen dan vote 🥰