
Larut malam David baru sampai rumah, ia segera naik ke atas menuju kamarnya. Ia duduk di tepi ranjang, mengeluarkan ponselnya dari saku celana.
Yang pertama ia lihat setelah memasukkan pasword ialah aplikasi chat. Nampak di deretan paling atas chat yang belum dibuka adalah tertera nama kontak Gadisku ❤️
Wah rupanya ia menyimpan nomer Ellie dengan nama gadisku. Sepertinya aroma bucin sudah tercium.
Sudut bibirnya tertarik keatas membentuk sebuah senyuman, Ellie mengiriminya pesan.
Gadisku ❤️
memang besok kita jadi pergi menemui orang tua ku mas?
kamu yakin kita beneran akan menikah?
David nampak berpikir sejenak sebelum membalas pesan itu. Wajahnya yang tadi tersenyum berubah datar netra menerawang jauh.
Pikirannya melayang, ia teringat Bianca. Rasa rindu pada mantannya itu tiba-tiba saja muncul, namun menit berikutnya rasa sakit hati pun muncul. Wanita itu pergi meninggalkannya tanpa alasan yang jelas.
Flashback on...
London tiga tahun yang lalu..
David memarkiran mobilnya didepan sebuah kafe, ia bergegas turun setelah mobil dirasa terparkir dengan sempurna.
Matanya sibuk mencari keberadaan Bianca saat memasuki kafe yang lumayan ramai pengunjung saat itu.
Seorang gadis cantik berambut pirang mengangkat tangannya ke udara "David, aku disini" teriaknya.
David segera menghampiri Bianca yang duduk di pojok kafe. Ia menarik kursi dan duduk didepan gadis tersebut.
__ADS_1
"Maaf sayang aku telat tadi jalanan macet. Kamu udah lama ya nungguin?" ucap David.
"Enggak kok gak pa-pa, ehm Vid aku mau ngomong sesuatu sama kamu" balas Bianca.
"Ngomong apa?" sahut David.
Bianca nampak sedang berpikir, ia meremas ujung kemejanya. Rasa bersalah menyelimuti.
"Maafkan aku, aku mau kita sudahi semua ini. Kita putus saja" ucap Bianca pelan sambil menunduk ia tak sanggup menatap David.
David diam saja tak merespon, ia menatap Bianca dengan tatapan tajam bak elang yang siap menerkam mangsanya. "Lihat aku" titahnya kemudian.
Bianca dengan enggan mengangkat mukanya, manik matanya langsung bersitatap dengan netra David. Tanpa aba-aba air matanya meleleh sendiri membasahi pipi.
"Kamu ulangi lagi tadi kata-kata itu" ucap David sangat datar namun tegas. Bisa dipastikan siapa pun yang mendengarnya pasti akan takut.
"Maafkan aku David, aku harus pergi sekarang. Maaf!" Bianca berdiri dari duduknya dan berlari keluar meninggalkan kafe.
Bianca tak membawa mobil, ia naik taksi yang telah menunggunya di pinggir jalan tak jauh dari kafe. Setelah gadis itu masuk mobil, taksi dengan cepat berlalu pergi. David terlambat beberapa menit, saat ia sampai ditempat itu taksi sudah berlalu pergi dengan kecepatan tinggi.
David kembali dengan langkah lebarnya ia menuju mobilnya yang berada tak jauh dari situ. Ia mengikuti taksi tersebut, ia sengaja tidak terlalu dekat karena khawatir akan ketahuan.
Anehnya di dalam taksi itu selain supir taksi dan Bianca ada pria lain yang duduk di kursi penumpang bagian belakang. Tentu saja pria itu duduk disebelah Bianca.
"Sial, apa kau selingkuh dariku huh?" geram David tersulut emosi, ia mencengkeram kuat setiran mobil. "Oke kita lihat aja apa aku salah?" lanjutnya.
Namun sialnya mobil David tiba-tiba terjebak lampu merah disebuah pertigaan jalan. Taksi yang ia ikuti sudah lebih dulu lolos dari rambu itu. Dan berbelok ke arah kanan dengan sangat cepat.
"B*****, awas aja kalian nanti!" David memukul setir didepannya. Ia mengumpat dalam hati.
__ADS_1
Semenjak hari itu, ia tak pernah lagi bertemu Bianca. Wanita itu bak ditelan bumi menghilang tanpa jejak. David sudah berusaha mencarinya ke seluruh penjuru kota London, namun nihil Bianca tak ada.
Flashback off..
David mengusap wajahnya dengan kasar, ia menghembuskan nafas dengan kuat. Serasa melepaskan seluruh beban dihatinya.
Ponsel masih berada di genggaman tangannya, ia mengangkatnya lalu mengetik sesuatu membalas pesan Ellie.
Sangat yakin. Istirahatlah sudah malam.
Setelah menekan tombol enter, ia meletakkan ponsel di nakas. David melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelahnya ia berbaring diatas kasur yang empuk tak lama ia terpejam suara nafasnya teratur. David terlelap dalam tidurnya.
...****************...
Ellie mengucek matanya berkali-kali, ia tak percaya dengan apa yang baru saja ia baca. Pesan dari David yang menyatakan dirinya yakin akan menikahi Ellie.
Ellie tak bisa tidur, ia memikirkan banyak hal. Bagaimana mungkin hidupnya akan berubah dalam waktu dekat. Menikah dengan pria yang baru saja dikenalnya.
Apakah orang tuanya mengizinkan? Namun anehnya kenapa sang ibu tak menelponnya sama sekali setelah tadi pagi berbicara di telpon dengan pak Wahyudi.
Lalu dengan beasiswanya? Bagaimana kelanjutan beasiswanya, pihak kampus bisa saja menghentikan beasiswa itu jika Ellie ketahuan telah menikah.
Lalu apa yang akan teman-temanya pikirkan tentang dirinya? Menikah dengan dosennya sendiri.
Pikiran Ellie penuh dengan berbagai kemungkinan yang akan terjadi dimasa depan. Sungguh ia jadi pusing dibuatnya. Jika saja ia memiliki kekuatan teleportasi ingin sekali rasanya berpindah ke dunia lain saja tak ingin memikirkan beban hidupnya.
Karena tak juga bisa tidur, ia memilih menyiapkan keperluan yang akan dibawa besok saja. Hanya sedikit barang yang ia bawa, karena dirumahnya sana masih ada beberapa baju yang bisa dipakai untuk ganti.
Sekitar jam dua dini hari Ellie baru bisa memejamkan mata setelah sebelumnya ia melakukan shalat istikharah memohon petunjuk dari Yang Maha Kuasa atas kegalauan hatinya saat ini.
__ADS_1
...****************...
bersambung