
"Jangaaan, jangan mendekat. Toloooong" teriakan kencang Ellie mengagetkan David yang tengah tertidur dengan posisi duduk menelungkupkan kepalanya di ranjang. Ia seketika bangun, mengucek matanya yang terasa berat untuk dibuka.
"Ssht... Ssht... Ellie Ellie, kamu cuma mimpi. Jangan takut ada aku disini" David menggoyangkan lengan Ellie pelan.
Mata gadis itu masih terpejam, namun tangannya bergerak-gerak di udara seolah sedang menghalau apa saja yang akan mendekati. Kakinya menendang-nendang gelisah. Bibirnya komat-kamit meracau tidak jelas.
David menangkap tangan Ellie dan memeganginya erat. "Bangunlah ini cuma mimpi, kamu aman disini. Bangunlah" katanya berusaha membangunkan Ellie yang sepertinya sedang bermimpi buruk.
Ellie seketika membuka mata dan bangun segera duduk namun ia melepas genggaman David dengan kasar. Gadis itu menangis terisak memeluk kakinya sendiri. Membenamkan wajahnya di kedua lutunya.
"El, ini aku David. Kamu tadi cuma mimpi sayang" ucap David pelan.
Ellie mendongak menatap sumber suara, kesadarannya kembali. Tangannya terangkat mengusap sisa air matanya dipipi. "Maaf, aku pikir orang lain".
David mendekat hendak memeluknya, namun Ellie beringsut mundur ia merasa seperti de javu. Seperti kejadian buruk tadi siang akan terulang lagi, ia trauma.
David akhirnya mengerti ia kembali duduk di kursi disamping ranjang. Sunyi, hanya suara detik jarum jam dinding yang terdengar dan suara kruuk kruuk. Seperti bunyi perut yang lapar.
Ellie malu ia menutup mukanya dengan kedua tangan. "Aku laper Mas" lirihnya pelan tak berani menatap David.
David tersenyum geli "gak perlu malu karena laper". Ia beranjak berjalan menuju meja didepan sofa. Seingatnya tadi Roy membelikan beberapa roti dan makanan lain.
Pria itu membuka kantong dan menggeledah isinya. Ia kembali berjalan ke arah ranjang dengan membawa roti sobek rasa cokelat dan keju serta botol air mineral.
"Aku bisa makan sendiri Mas" elak Ellie saat David hendak menyuapinya. Lagi-lagi pria itu mendesah pelan ia mengalah saja. Kemudian duduk lagi di kursi.
Setelah menghabiskan satu bungkus roti dan minum. Ellie berbaring lagi, ia mulai mengantuk setelah kenyang. Namun sebelum ia memejamkan matanya. Gadis itu menoleh was-was ke arah David yang duduk di kursi kayu disamping ranjang.
"Mas, kamu tidur disini juga kan?" tanya Ellie takut-takut. Sejujurnya ia sangat ketakutan jika tiba-tiba ia diculik lagi saat sendirian.
"Aku bisa tidur di sofa nanti, kamu jangan takut aku gak akan ninggalin kamu sendirian" jawabnya tersenyum.
Ellie balas tersenyum kemudian ia mulai terlelap lagi. Setelah bermimpi buruk sepertinya tenaganya habis terkuras.
David mengelus rambut panjang Ellie pelan, menarik selimut sampai leher menutupi gadis itu. ia kemudian beranjak menuju sofa dan melanjutkan tidurnya.
...****************...
Selama dua hari dirawat di rumah sakit, Ellie terpaksa izin tidak masuk kuliah. Dan selama dua hari itu juga David tak pernah sedetik pun meninggalkannya. Pria itu selalu menemaninya di kamar dan juga saat bosan melanda terkadang menemani Ellie jalan-jalan di taman rumah sakit.
David tidak masuk ke kantor dan juga tidak pergi mengajar. Untuk urusan pekerjaan ia serahkan pada Roy orang kepercayaannya. Dan untuk mahasiswanya ia hanya memberikan tugas.
Keadaan fisik Ellie telah membaik, ia sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Meski dari luar ia terlihat ceria dan baik-baik saja, namun sejatinya kejadian diculik dan hampir diperkosa telah membuatnya trauma.
Setiap malam ia selalu bermimpi buruk, kejadian yang sama terus menghantui dan hadir dalam tidurnya. Jika dua malam kemarin saat ia terjaga dari mimpi buruknya selalu ada David yang menemani dan menenangkannya.
__ADS_1
Namun bagaimana jika ia sedang di kostnya? Oh tentu ada Novi sang sahabat yang akan menemaninya, itu pikir Ellie sih.
Kamis pagi ketika hendak berangkat ke kampus, ponselnya berdering.
"Hallo?" sapa Ellie.
"Aku didepan, kamu berangkat ke kampus jam berapa? tanya David. Oh rupanya yang menelepon adalah David. Saking buru-buru Ellie sampai tak melihat siapa yang menelepon.
"Di depan mana maksudnya?"
"Depan kost"
"Apaa? Mau ngapain?"
"Jemput kamu, aku anter ke kampus"
Tut... sambungan terputus mendadak, Ellie dengan sengaja mematikan telepon itu.
"Nganter ke kampus?" Yang bener aja? Apa dia mau semua orang tau hubungan ini?" Ellie bermonolog dalam hati. Ia geleng-geleng kepala tanpa angguk-angguk.
Ellie membuka pintu pagar kosnya, dan benar saja sebuah mobil warna putih telah terparkir di depan. Didalamnya duduk di kursi kemudi tak lain adalah David.
Pria itu sedikit menunduk agar bisa melihat Ellie dari dalam mobil. "Ayo naik" titahnya sembari tersenyum sangat manis.
Ellie yang tadinya kesal seketika wajahnya cerah ceria kekesalannya menguap entah kemana. "Bisa diabetes nih gue lama-lama ketemu dia tiap hari" batinya.
"Mas, gak usah repot-repot jemput aku. Aku tau kamu pasti juga sibuk. Kemarin dua hari gak masuk kantor kan? Pasti kerjaannya numpuk" ucap Ellie saat sudah berada di dalam mobil.
"Gak pa-pa, toh pagi ini aku juga ada jadwal ngajar. Jadi kita sekalian aja. Semalam masih mimpi buruk lagi? kata David yang kini wajah tampannya berubah jadi khawatir.
"Iya" jawab Ellie lesu.
"Kamu mau kan kalau kita ke psikolog? Kamu harus sembuh".
"Entahlah Mas, biaya rumah sakit yang kemarin aja aku masih ngutang sama kamu. Lalu kalau buat biaya ke psikolog lagi, kayaknya butuh uang yang tak sedikit juga kan?"
"Itu semua sih gampang jangan kamu pikirin, asal kamu sembuh aku gak masalah. Cukup do'a istri sholehah yang aku butuhin" jawab David dengan nada sedikit menggoda.
"Apa? Istri?" ucap Ellie terkejut. Ia terkejut karena sejujurnya gadis itu agak lupa dengan rencana pernikahan mereka yang tinggal dua hari lagi.
David mengernyit heran "kamu lupa?"
Ellie mengatupkan kedua bibirnya rapat dan memejamkan matanya, tak berani menjawab apalagi menatap mata hazel pria disampingnya itu.
Situasi sangat mendukung Ellie pada saat itu mobil yang meraka naiki sudah tiba di area parkir kampus. Dengan cepat Ellie melepas seat belt dan turun.
__ADS_1
"Aku duluan ya mas, udah mau kelas. Makasih tumpangannya" ucap Ellie dan tersenyum manis. Ia melambai pada David yang bengong ditinggal pergi saat pertanyaanya belum dijawab. Langkahnya makin cepat dan ia sedikit berlari tak mau orang-orang melihatnya datang bersama David yang tak lain adalah dosennya.
...****************...
Dua jam kelas berlangsung, saat sang dosen mengakhiri pelajaran Ellie mengedarkan pandangannya kesegala penjuru ia mencari sosok Winda. "Ah itu dia" ia melambaikan tangannya ke arah Winda.
Namun tak disangka Winda melengos dan buru-buru bangkit dari duduknya dan bergegas keluar kelas. Ellie segera mengejarnya sampai di depan kelas lain.
"Winda tungguin, gue mau bicara" teriak Ellie, ia terus berlari mengejar Winda yang tak menghiraukannya dan terus berlari menjauh.
Gubrak...
"Aaw sakit" rintih Winda. Gadis itu jatuh tersandung sesuatu tapi apa?
Rupanya kaki Novi yang terjulur sengaja menghentikannya.
Winda jatuh tersungkur mencium lantai. Ellie bergegas menolongnya, ia membantu Winda bangun.
"Elo baik-baik aja?" tanya Ellie pada Winda yang berusaha melepas pegangannya.
"Pergi sana! Mau lo apa ngejar-ngejar gue? Gue ga ada hubungannya sama apa yang nimpa elo kemarin" ucap Winda sengit.
"Winda plis, jangan kayak gini kita berteman. kamu kenapa tega menjebak gue dan sekongkol dengan Ragil? Apa elo tau apa yang dia lakuin ke aku?" kata-kata Ellie seakan menohok jantung Winda.
Winda sejujurnya tidak tahu apa rencana Ragil saat membawa kabur Ellie dari kampus saat itu. Yang ia tahu hanya Ragil akan mengajak pergi Ellie itu saja dan gadis itu membantu rencana Ragil.
Ellie, Novi dan Winda sudah berada di taman kampus mereka duduk disebuah bangku kayu panjang menghadap ke kolam tak jauh dari kelas.
Winda terisak mendengar penjelasan Ellie tentang kejadian buruk yang menimpanya kemarin. Ia sama sekali tidak menyangka Ragil nekat berbuat itu.
"Maafin gue El, sungguh gue gak tau akan begitu kejadiannya. Maafin gue huhuhuu" ucap Winda terisak pilu. Ia memegangi tangan Ellie erat seakan memohon ampunan atas perbuatannya.
"Gue udah maafin elo Win" ucap Ellie tulus tangannya mengusap tangan Winda.
"Gue nih ya saksinya, awas aja elo berani macam-macam sama Ellie lagi, gue botakin pala lo entar!" kata Novi masih sedikit emosi.
Winda memberenggut kesal namun tak urung mereka bertiga berpelukan dan tertawa bersama.
...****************...
.
.
.
__ADS_1
.
bersambung,,