
Jam sudah menunjukkan pukul 04.30 WIB, hari ini merupakan hari yang bersejarah bagi Ellie. Bagaimana tak bersejarah karena nanti siang dirinya akan dipersunting oleh lelaki yang baru kurang lebih dua minggu ini ia kenal.
Beberapa kejadian yang rumit membuatnya sedikit yakin David pria yang baik dan bertanggung jawab. Sedikit saja bukan seratus persen keyakinannya, mengapa? Entah hanya Ellie yang tahu.
Semalam ia baru saja sampai di rumahnya tepatnya rumah orang tuanya di kota Sidoarjo. Tidak ada ritual pingit dan semacamnya, ya tentu saja bahkan semalam ia masih bisa bertemu dan pulang bersama sang calon suami.
Ellie menggeliat malas diatas kasur empuknya yang sangat nyaman. Rasa kantuk masih mendominasi, namun suara gedoran di pintu memaksanya untuk segera bangun.
"Iyaa bentar" sahutnya sembari berjalan ke arah pintu kamar.
"Kaak cepetan bangun doong" suara cempreng Karin dari balik pintu kamarnya terdengar.
"Iya iya duuh berisik banget sih" sungut Ellie kesal ia menguap dan mengangkat kedua tangannya keatas meregangkan tubuhnya.
"Buruan mandi trus shalat subuh, abis itu di-make up tuh periasnya udah dateng" ucap Karin lagi.
"Jam segini? Yang bener aja? Kan acaranya masih ntar siang?" jawab Ellie.
"Acara akad nikahnya dimajukan jadi jam delapan El. Soalnya pak penghulu siangnya tidak bisa, ada keperluan mendadak katanya sih istrinya sakit" kata bu Dewi menjelaskan.
Ellie kaget ia membeku ditempat "kok Ellie gak tau Bu? Lalu apa keluarga mas David udah dikasih tau tentang kabar ini?
"Sudah, semalam pas dia mau balik ke hotel, setelah nganter kamu." jawab bu Dewi santai.
"Ooh jadi aku yang terakhir tau nih ceritanya?" sindir Ellie gemas.
"Hehehe ibu lupa ngasih tau kamu semalam, maaf ya" ucap bu Dewi tak merasa bersalah.
Ellie memberenggut kesal sebenarnya yang mau nikah ini siapa sih? Kenapa dia jadi orang terakhir yang tahu hal sepenting ini. Ia melangkah menuju kamar mandi dengan menghentakkan kaki kuat-kuat.
Karin, Rena dan bu Dewi saling pandang dan tertawa geli melihat tingkah Ellie.
Setelah mandi dan shalat subuh, Ellie masuk ke kamarnya dan betapa herannya ia melihat pemandangan kamarnya kini yang telah berubah dalam sekejap.
Bagaimana tak sekejap? Hanya ditinggal mandi dan shalat saja yang mungkin cuma tiga puluh menit lamanya. Kamarnya berubah jadi sangat wangi dan rapi, khas kamar pengantin.
Ranjangnya telah berganti dengan sprei warna emas begitu juga dengan bantal dan gulingnya, tak lupa taburan bunga mawar merah memenuhi ranjang itu. Jangan lupakan gorden pun juga berubah jadi warna emas senada dengan spreinya.
__ADS_1
Ellie sungguh takjub melihatnya, tak hanya itu di depan lemarinya kini tergantung sebuah kebaya pernikahan warna putih yang sangat cantik.
"Taraaaaa" teriak Rena sang adik sambil tangannya mempersilahkan kakaknya untuk masuk kedalam.
Di dalam kamar sudah ada seorang ibu-ibu dengan satu set kotak make up besar. Wanita itu tersenyum ramah ke arahnya.
"Hallo, kamu pasti Ellie ya? Aslinya cantik banget kamu nak" sapa wanita itu sangat ramah.
"Eh-e iya saya Ellie Bu" ucap Ellie terbata karena masih takjub dengan suasana kamarnya yang mendadak berubah.
"Udah kak jangan bengong, ayo sini duduk kamu harus dirias" Rena menarik kakaknya duduk didepan cermin.
Sekitar dua jam Ellie dirias di dalam kamarnya. Ia juga telah berganti baju dengan kebaya pengantin. Karin dan Rena menatap kakaknya tanpa henti "wow sungguh hebat Bu riasannya cantik sekali" kata Karin memuji hasil karya si ibu perias.
"Ini karena kakak kamu aslinya udah sangat cantik, saya cuma poles aja dikit" ucap bu perias dengan tersenyum.
"Tuh dengerin" kata Ellie sambil menjulurkan lidahnya mengejek sang adik.
Pintu kamar terbuka, bu Dewi masuk ke dalam dan tersenyum melihat putrinya telah siap dengan kebaya dan riasannya. "Akhirnya, hari mu tiba juga nak" kata bu Dewi tiba-tiba saja ia jadi sedih saat ini.
Ellie berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah bu Dewi, "Ibu maafin Ellie" ia memeluk sang ibu.
Karin dan Rena ikutan sedih melihat ibu dan kakaknya hampir saja keduanya menitikkan air mata.
"Sudah sudah, ini hari bahagia gak boleh nangis nanti riasan mu rusak" kata bu Dewi lagi.
"Aku lihat dulu ke depan ya, siapa tau penghulu dan mas David juga udah datang" kata Karin. Ia berjalan keluar dari kamar.
"Bu, sejujurnya aku belum siap jadi istri. Apa yang harus kulakukan nanti?" tanya Ellie pada ibunya. Keduanya tengah duduk di kursi yang ada di dalam kamar Ellie.
"Kak, kaka tenang aja deh. Kan kak Ellie pinter masak aku rasa pasti mas David bakalan suka sama masakan kaka" kata Rena dengan antusias.
Ellie memutar bola matanya malas, "hadeeh ini bocah bukan itu yang gue maksud. Maksud gue tuh urusan ehem ituuh ranjang. Eh!" batin Ellie gemas.
Tapi memang Rena tak salah juga sih, dia belum cukup umur untuk bisa berpikir sejauh itu. Sedangkan Ellie kenapa dia tiba-tiba punya pikiran mesum begitu?
"Intinya semua hal harus kalian bicarakan berdua nantinya, biar tidak ada kesalahpahaman dan ibu rasa David pasti memahami mu" ucap bu Dewi dengan lugas dan tersenyum. Ia mengelus punggung tangan Ellie sesaat berharap bisa memberikan sedikit ketenangan pada putrinya.
__ADS_1
"Semua sudah siap, ayo kak waktunya kaka keluar" ucap Karin. Ia menyelonong masuk kamar tanpa permisi.
"Aduh Karin, kamu ini yang sopan dikit dong sayang. Permisi dulu kek atau ketuk pintu dulu gitu!" omel bu Dewi pada putri bungsunya.
"Hehee, maaf Bu. Abisnya aku terlalu bersemangat sih. Eh kak, tau gak sih itu tuh pengantin pria kak Ellie udah ganteng dari sononya trus pake jas hitam dan dasi kupu-kupu waah makin guuanteeeng jadinya" ucap Karin bersemangat matanya berbinar-binar.
"Sudah-sudah, ayo kita keluar jangan malah rumpi disini" Ucap bu Dewi. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik diusianya yang hampir masuk angka lima puluh lima itu menggandeng Ellie melangkah keluar kamar.
Di ruang tamu yang telah di dekorasi minimalis itu tampak sudah banyak tamu undangan yang hadir. Dan tentu saja keluarga mempelai pria beserta pengantin pria dan penghulu juga sudah datang.
Ellie berjalan perlahan menuju ruang tamu, ia digandeng oleh bu Dewi sang ibu. Jantungnya berdegup kencang, ia tak berani memandang lurus ke depan. Ellie hanya menunduk menatap kakinya yang sedang melangkah. Gugup bercampur malu menjadi satu.
Bu Dewi membimbingnya untuk duduk bersanding dengan David di hadapannya sudah ada sang ayah dan juga penghulu.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu, baiklah bapak ibu hadirin sekalian mari kita mulai saja akad nikahnya. Mas dan mbak calon apakah sudah siap? ucap pak penghulu.
"Saya siap pak" jawab David tegas dan mantap. Sedangkan Ellie hanya mengangguk saja, lidahnya serasa kelu. Ia sedikit melirik David dengan ekor matanya, meyakinkan dirinya sendiri kalau pria disampingnya adalah David.
"Baiklah tolong pak dan mas saling berjabat tangan dan tirukan ucapan saya" titah penghulu.
"Saya nikahkan engkau David Erlangga bin Wahyudi dengan saudari Elliana binti Ahmad dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan uang tunai senilai sepuluh juta rupiah dibayar tunai"
"Saya terima nikah dan kawinnya saudari Elliana binti Ahmad dengan mas kawin tersebut dibayar tunai" ucap David dengan lantang dan dalam satu tarikan nafas.
Sah.. Sah.. Alhamdulillah..
...****************...
.
.
.
.
bersambung...
__ADS_1
semoga betul ya kalimat ijab qobulnya ðŸ¤