Elliana

Elliana
30. Siapa Ragil Sebenarnya?


__ADS_3

Dua orang pria sedang duduk berhadapan di sebuah ruangan khusus pengunjung tahanan di dalam kantor polisi. Mereka tampak sedang serius berbicara, salah satunya adalah Ragil.


Ragil dan pria gendut yang beberapa waktu lalu diamankan oleh petugas kepolisian kini berstatus sebagai tersangka dari kasus penculikan dan penganiayaan. Dan kini tersangka telah bertambah menjadi lima orang. Tiga orang lainnya adalah yang menculik Ellie dari kampus.


"Sungguh keterlaluan perbuatan mu kali ini, kalau sampai tuan besar tahu hal ini. Aku rasa beliau tak akan mau bertemu dengan mu lagi" ucap pria dengan setelan jas rapi itu pada Ragil.


"Itu sudah jadi tugas mu untuk menyelesaikan masalah ini dan juga mengeluarkan ku secepatnya dari sini" balas Ragil sengit.


"Kali ini tidak mudah, saksi dan bukti sangat memberatkan mu"


"Masa bodoh! Pokoknya kamu atur semuanya kalau perlu beri uang sebanyak mungkin pada saksi. Aku tahu gadis itu hanya gadis miskin biasa. Ancam dia dan tutup mulutnya dengan uang. Si korban juga ancam dan beri dia uang yang banyak" kata Ragil panjang lebar.


Pria berjas tampak menghela nafas dengan berat. Perbuatan tuan mudanya kali ini sungguh diluar batas. Dan sekarang sungguh dirinya harus berpikir keras menyelesaikan masalah ini tanpa sepengetahuan tuan besarnya.


"Ya sudah aku pergi dulu" ucapnya seraya bangkit dan berjalan keluar ruangan.


Ragil dengan terpaksa kembali mendekam di tahanan untuk malam ini. Ia sama sekali tidak senang berada di tahanan kantor polisi.


***


Sementara itu di kampus, seorang pria berpakaian setelan jas rapi dengan tubuh tinggi kekar sedang menyusuri lorong mencari seorang gadis bernama Ellie dan Novi. Setelah bertanya pada beberapa orang yang ia temui akhirnya ia menemukan dua gadis yang sedang dicarinya itu.


Ellie, Novi dan pria berjas sedang duduk di bangku taman.


"Maaf, anda siapa ya? Ada perlu apa sama kita?" tanya Ellie pada pria yang duduk di depannya.


"Perkenalkan saya Tomi pengacara tuan Ragil" ucap pria itu.


"Tuan Ragil!" Ellie dan Novi menyahut bersamaan. Keduanya tampak bingung saat pria itu menyebut kata tuan.


"Ya betul, kalian benar mbak Ellie dan mbak Novi kan?"


Ellie dan Novi menjawab dengan mengangguk saja. Kini Ellie tampak sedikit gemetar ketakutan mengingat perbuatan Ragil padanya.


"Langsung saja pada pokok pembicaraan. Kami ingin damai dan saya akan memberikan kompensasi atas ketidaknyamanan kalian dengan perbuatan klien saya" ucap pria itu lagi.


Ellie diam saja ia tampak berpikir.


"Maksudnya kompensasi bagaimana ya Pak?" Novi balik bertanya.


Pria itu mengeluarkan sebuah kertas dari dalam tas kerjanya dan itu sebuah cek kosong. "Tolong anda berdua cabut tuntutan untuk tuan Ragil dan ini cek buat kalian, jumlahnya kalian bisa isi sendiri disitu" menyodorkan selembar cek ke arah Ellie dan Novi.


Dua gadis itu nampak bingung dan saling berpandangan. Ellie merasa sangat marah, pria itu sudah melukai harga dirinya. Tangannya mengepal kuat hingga gemetar menahan amarah.


Ellie berdiri dan menatap tajam ke arah pria itu. "Apa bapak punya adik perempuan? Oh salah, Bapak pasti punya ibu kan? Bagaimana rasanya kalau ibu anda ada di posisi saya? Diculik disiksa dan hampir diperkosa, lalu sekarang tiba-tiba minta berdamai saja. Jawab pak!" ucap Ellie dengan penuh emosi.


Pria itu mengangkat wajahnya menatap lurus ke manik mata Ellie yang memerah dan melotot. Sesungguhnya ia juga tak tega melakukan ini, namun apa dayanya ia hanya melakukan tugasnya.


"Saya tidak mau berdamai, saya mau Ragil mendapat balasan yang setimpal dengan perbuatannya secara hukum" ucap Ellie dan berlalu pergi dari tempat itu. Ia tak menghiraukan Novi dan pria itu lagi.


Air matanya tak dapat ditahan lagi, ia menangis dan berlari pergi.


Tiba-tiba bruk...

__ADS_1


"Aw" jerit Ellie saat menyadari dirinya menabrak seseorang. Ia beranjak mundur dari orang itu namun tubuhnya tidak bisa bergerak. Ia terperangkap dalam pelukan seseorang.


Menyadari hal ini, Ellie segera berontak namun setelah beberapa detik ia merasa kenal dengan aroma parfum dan baju orang ini. Gadis itu mendongak menatap orang yang tak sengaja ia tabrak.


"Mas..."


"Sstt..."


David menggeser tubuhnya dan tubuh Ellie yang masih berpelukan ke arah dalam toilet pria. Saat itu toilet dalam keadaan sepi. Mereka masuk ke salah satu bilik dan David mengunci pintu bilik itu.


Ellie melotot "Mas mau apa?" Ia panik dan berusaha melepaskan diri.


"Kamu kenapa nangis dan lari-larian begitu? Dikejar buaya!"


Bukannya menjawab pertanyaan suaminya, Ellie malah melanjutkan tangisnya. Ia sesenggukan dan membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya.


David bingung tapi dia diam saja tangannya membelai rambut panjang yang diikat satu itu dengan lembut. Membiarkan sang istri menumpahkan air matanya melepas emosinya.


Beberapa saat berlalu keduanya masih berpelukan, kini tangis Ellie mulai reda, bahunya tak lagi gemetar.


"Mas, lama-lama didalam sini bau juga ya." Ellie melepas pelukan dan tangannya reflek terangkat menutup hidungnya.


"Sudah selesai nangisnya?"


"Sudah, ayo keluar!"


"Tunggu disini, aku periksa keadaan diluar dulu."


Ellie menepuk jidatnya sendiri, ia baru menyadari saat ini keduanya sedang berada di dalam toilet pria. Bisa gawat kalau ada orang lain yang melihatnya masuk kesini apalagi berduaan dengan dosennya.


Ellie mengangguk dan buru-buru keluar dari toilet pria ia berjalan sambil celingukan seperti seorang maling. Setelah dirasa aman dan agak jauh dari toilet ia pun berjalan biasa saja dan merapikan penampilannya.


...****************...


Sementara itu Novi yang tadi ditinggalkan Ellie begitu saja kini tampak sedang mencari keberadaan sahabatnya itu. Ia sebenarnya tadi juga pergi mengejar Ellie namun kehilangan jejak. Pria dengan setelan jas ia tinggalkan begitu saja di taman sendirian.


Karena jam sudah menunjukkan pukul satu kurang sepuluh menit, gadis itu akhirnya memilih untuk masuk kelas saja sebelum terlambat.


Novi mengedarkan pandangannya menyapu ruangan namun ia tak melihat keberadaan Ellie disana. Tentu saja Ellie tak ada dikelas ia kini berada di ruangan dosen sedang bicara dengan David.


"Kamu kenapa tadi nangis?" tanya David pada Ellie. Keduanya telah berada di ruangan dosen dan duduk di sofa panjang. Ruangan dosen itu tampak sepi hanya ada beberapa orang dosen dan karyawan yang sedang sibuk di mejanya masing-masing.


"M-mas eh Ba-bapak duluan aja, tadi mau bicara apa?" Ellie sadar ini di kampus ia harus bicara formal pada suaminya itu.


David yang menyadarinya hanya tersenyum saja. Sungguh istrinya itu sangat menggemaskan jika sedang gugup, rasanya ingin sekali ia duduk berdekatan dengannya. Namun hal ini sangatlah tidak mungkin, mereka berdua masih merahasiakan pernikahan ini dari pihak kampus.


"Kamu duluan" titah David.


"Oh itu tadi aku bertemu dengan pengacara Ragil, mereka minta aku cabut tuntutan dan berdamai saja sambil ngasih cek..." Ellie tak sanggup melanjutkan ucapannya. Hatinya kembali sesak dan sedih.


"Lalu?" David sesaat menahan nafas, ia penasaran kelanjutan cerita Ellie.


"Ya aku gak mau lah Mas, enak aja damai. Aku mau dia dihukum mempertanggung jawabkan perbuatannya" suara Ellie sedikit meninggi ia sampai lupa keceplosan memanggil mas.

__ADS_1


David reflek memberi kode dengan meletakkan jari telunjuk di atas bibirnya "sstt..."


Ellie sontak mengatupkan kedua bibirnya, ia menoleh ke kanan dan kiri melihat jika ada orang yang mendengarkan pembicaraan ini. Untungnya keadaan masih sama seperti tadi sepi. Ia bisa bernafas lega sekarang.


"Lalu tadi Bapak mau bicara apa?" tanya Ellie.


David melihat ke arah jam tangannya, "Maaf nanti saja kita bicarakan dirumah. Aku harus ke kantor sekarang ada janji. Kamu pulangnya naik taksi saja ya, gak pa-pa kan El?"


"Oh iya gak pa-pa kok, Mas hati-hati ya" Ellie sedikit berbisik.


David mengangguk lalu beranjak pergi dengan tergesa-gesa.


...****************...


David sampai di kantornya empat puluh lima menit kemudian, ia bergegas turun dari mobil dan berjalan masuk ke kantornya.


Sampai di dalam ia melihat Roy dan seseorang telah menunggunya di ruangan meeting. Ia segera masuk kesana.


"Maaf saya terlambat." kata David pada seorang wanita cantik di hadapannya.


"Tidak masalah Pak, saya juga baru sampai." ucap wanita dengan pakaian kerja formal itu.


Wanita cantik itu adalah pengacara perusahaan David namanya Siska. Mereka bertiga dulu adalah teman satu angkatan saat kuliah. Jika tidak sedang bicara tentang urusan kantor, mereka biasanya memanggil dengan elo gue.


"Kita langsung saja, jadi bocah tengik itu adalah putra dari pemilik ABC Grup. Perusahaan yang kerja sama dengan kita." kata David menjelaskan.


"Apa katamu?" Roy tampak kaget.


"Maaf, siapa itu bocah tengik?" tanya Siska penasaran.


"Ragil pria yang menculik istriku" ucap David.


"Apa? istri? elo udah nikah? kok gue gak tahu" sahut Siska kali ini ia sungguh sangat penasaran dengan apa yang terjadi.


Arah pembicaraan yang berubah jadi serius, membuatnya jadi berubah bicara tak formal.


David dan Roy saling pandang kemudian tersenyum.


"Jangankan elo, gue aja juga gak diundang kok." sahut Roy jutek.


"Hehehe... Maaf maaf, bukan bermaksud gak mengundang kalian tapi memang acaranya tidak di Jakarta. Lain kali kalau sudah waktunya akan aku publikasikan pernikahanku." kata David menjelaskan.


"Iya aku sudah menikah dengan seorang gadis bernama Elliana" lanjutnya, ia tersenyum bahagia.


"Ehem selamat ya Vid semoga kalian bahagia, kapan-kapan kenalin sama gue ya" ucap Siska.


"Pasti, makasih ya Sis" jawab David.


"Lalu sekarang bagaimana?" Roy bertanya. "Ellie menuntut Ragil sedangkan bocah itu anak dari pimpinan klien kita" lanjutnya.


David tampak berpikir ia memijit keningnya tiba-tiba saja kini kepalanya sakit memikirkan hal ini.


...****************...

__ADS_1


bersambung ...


__ADS_2