
Ellie perlahan membuka matanya, kepalanya terasa sangat berat seperti ada batu besar yang menindih. Merasakan sakit di bagian kepalanya ia hendak mengangkat tangannya namun tidak bisa. Tangannya diikat ke belakang punggungnya sendiri dengan kuat oleh tali.
"Aku dimana?" lirihnya sambil menoleh mengamati ruangan. Sebuah kamar yang kotor, tidak ada apa pun disitu temboknya tampak usang atapnya bolong di beberapa bagian dan lantainya berdebu.
Ia mencoba berdiri dengan susah payah, kakinya terasa lemas. Gadis itu berjalan terseok menuju pintu, namun sebelum ia sampai di pintu, pintu itu terbuka.
Ellie reflek mundur beberapa langkah ke belakang karena kondisinya yang masih lemas dan ketakutan gadis itu ambruk terjatuh ke lantai.
Seorang pria bertubuh pendek dan gendut masuk lebih dulu, disusul pria lain masuk setelahnya.
Ellie makin ketakutan ia beringsut mundur dan terus menunduk tak berani melihat dua pria yang masuk ke kamar.
Sial sekali punggungnya menabrak tembok, ia sudah mentok dipojokan ruangan. Seperti anak kucing yang mati langkah terjebak mangsanya.
Mau tak mau ia mengangkat wajahnya, memberanikan diri melihat dua pria didepannya. Matanya membelalak ketika ia melihat sosok yang dikenalnya, pria yang berdiri dibelakang pria gendut itu adalah Ragil.
Pria yang beberapa minggu yang lalu menyatakan cinta padanya. Pria yang selama ini ia kenal baik dan sopan. Pria yang ah Ellie tak mau lagi mengenang pria macam itu.
"Ragil, apa mau mu? Kau yang menculikku?" tanya Ellie dengan tatapan tajam mengarah ke Ragil.
Ragil tersenyum miring "suruh siapa kau selalu menolakku? Kau pikir kau gadis paling cantik dikampus, hah!" jawabnya.
"Dasar gila, kau pria sialan. Berani kau macam-macam padaku, aku laporkan kalian ke polisi" suara Ellie bergetar menahan amarah.
Plakk... Plakk...
Tak terima disebut pria gila, Ragil maju dua langkah kedepan dan menampar pipi Ellie dua kali. Ia seperti pria yang berbeda saat ini. Matanya merah dan sesekali mendengus seperti kena flu.
"Ah" Ellie merintih merasakan sakit dikedua pipinya, air matanya menetes tanpa bisa dibendung. "Ya Tuhan tolong kirimkan seseorang untuk menolongku" batinnya.
Tangan Ragil menjambak rambut panjang Ellie dengan kasar "katakan kau mau jadi pacarku sekarang, aku akan membebaskanmu" ia tersenyum licik.
"Mimpi saja kau bangsat" jawab Ellie dengan sinis.
Keberaniannya muncul dengan sendirinya disaat ia terpojok tak berdaya.
Ragil merasa sangat marah, ia mencoba mencium gadis itu dengan kasar. Ellie tak tinggal diam, meski rambutnya dijambak dan tangannya diikat. Ia berusaha sekuat tenaga mengelak. Ciuman itu hanya mengenai pipinya saja.
"Gadis nakal, kau akan tau rasa setelah ini" Ragil makin frustasi. Tangannya beralih mencengkeram lengan Ellie dengan kuat.
Ellie meringis menahan sakit "sampai mati pun kau tak kan bisa menyentuhku" katanya pada Ragil.
"Sudah sudah, Kau keluarlah dulu, aku akan memberi pelajaran padanya" pria gendut yang sedari tadi diam saja kini membuka suara.
Ragil menuruti perintah, ia balik badan dan keluar ruangan. Tak lupa mengunci pintu dari depan.
Pria gendut mendekati Ellie ia melepas kaosnya dan melempar ke sembarang arah. Senyuman iblis menghiasi wajahnya yang brewokan.
Ellie panik, ia berteriak minta tolong dengan keras sambil berusaha melepaskan tali yang mengikat kedua tangannya.
"Jangan mendekat, mau apa kau gendut?" maki Ellie dengan kasar.
"Apa kau bilang hah?" sahut pria itu. Ia semakin merangsek maju.
__ADS_1
Plak...
Sebuah tamparan keras Ellie dapatkan lagi, kali ini sudut bibirnya mengeluarkan darah. Pipinya berubah warna menjadi kebiruan.
Pria itu menarik tangan Ellie dengan kasar ke dalam pelukannya, gadis malang ini memberontak. Ia menendang apa pun yang bisa ditendang.
Merasa usahanya sia-sia pria itu makin menggila, ia menarik kemeja Ellie hingga robek dibagian tangannya menampilkan lengannya yang putih nan mulus itu.
Melihat bening-bening di depan matanya pria gendut itu menyeringai "kau mau main kasar rupanya cantik!" dengan satu tarikan lagi ia berhasil membuka kemeja bagian depan yang dikenakan Ellie.
Beruntungnya Ellie memakai kaos dalam sehingga bagian tubuhnya masih aman tertutupi. Namun kedua lengannya yang mulus sudah terekspose sejak tadi.
Pria gendut gencar melakukan aksinya yang hendak memperkosa Ellie, tak segan ia memukul, menampar dan menjambak rambut Ellie. Karena gadis itu terus memberontak berusaha lepas.
Ellie terus berdoa dalam hatinya berharap ada pahlawan kesiangan yang datang menolongnya. Entah mengapa ia sangat berharap David datang saat ini juga. "Mas, tolong aku" batinnya menangis pilu.
Pria gendut berhasil melepas celana jeans Ellie dengan susah payah. Kini gadis itu hanya memakai celana d**** dan kaos dalam tipis yang menerawang.
Ellie makin keras berteriak hingga suaranya serak nyaris hilang karena menangis dan berteriak bersamaan. Tenaganya sudah terkuras habis ia semakin lemah, kakinya bergetar. Wajahnya babak belur, lengannya memar kebiruan.
Tak lama kemudian terdengar suara ribut diluar. Dengan sisa tenaga dan suaranya Ellie berteriak keras "tolong saya, toloooong".
Bruak...
Pintu terbuka dengan keras, ada seseorang yang mendobraknya.
Pria gendut kaget dan menoleh ke arah pintu. Belum sempurna ia menoleh sebuah tendangan keras menghujam tubuhnya. Ia ambruk tepat disamping Ellie.
David terkejut melihat kondisi Ellie yang babak belur dan nyaris tanpa busana. Ia menatap tajam ke arah pria gendut.
Tak tinggal diam, pria gendut itu mengambil sesuatu dari balik kaos kakinya. Itu sebuah pisau kecil dan ia arahkan dengan cepat ke leher Ellie. Tangan satunya ia gunakan untuk memegang leher gadis itu.
Meskipun bertubuh gendut namun gerakan pria itu sungguh cepat dan lincah. David yang hendak maju menarik Ellie kalah cepat.
"Kalian siapa berani menggangguku hah?" katanya dengan marah.
Ellie panik ia takut melihat pisau itu berada di lehernya sebelah kanan. Itu tepatnya menempel di kulitnya dan hampir menusuk ke dalam.
David tampak ragu saat akan menyerang kembali, ia takut Ellie terluka. Ia masih tampak berpikir.
Roy dan Novi menyeruak masuk kedalam. Dibelakangnya ada beberapa petugas polisi yang juga masuk ke dalam.
Ellie sangat malu karena kondisinya yang hampir telanjang. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa ada sebuah pisau tajam yang siap menusuk jika ia bergerak sedikit saja. Detik itu juga ia ingin sekali berteleportasi ke dunia lain jika bisa.
"Jatuhkan senjata, anda sudah kami kepung" kata salah satu polisi.
Pria gendut tak gentar, ia makin menusukkan pisau itu kedalam. Ellie meringis kesakitan tampak darah segar mengalir kebawah melewati kulit mulusnya.
"Hei gendut, hentikan! Kau melukainya" ucap David terkejut saat melihat darah Ellie mengalir.
Ellie memejamkan matanya yang basah karena air matanya terus memaksa keluar sendiri. Ia ingat pernah melihat Novi sahabatnya latihan karate dan ada gerakan yang ia perhatikan.
Detik berikutnya gadis itu mengumpulkan semua sisa tenaga dan keberaniannya mengabaikan rasa malu, ia bergerak cepat dan lincah kakinya menginjak kaki pria gendut yang berada tepat dibelakangnya.
__ADS_1
Pria gendut kesakitan dan pisau terlepas dari tangannya. Dengan kedua tangannya yang masih terikat tali ia mendorong pria gendut hingga ambruk tersungkur ke belakang. Kemudian berlari terseok menuju David.
David terkejut dengan tindakan Ellie yang sangat berani, ia hanya melongo dan berdiri mematung. Sesaat ia mundur beberapa langkah, Ellie menubrukkan badannya. Setelah selesai dengan keterkejutannya ia segera memeluk Ellie dalam dekapannya.
Melihat itu para polisi dengan cepat meringkus pria gendut dan memborgol tangannya. "Tersangka kami bawa ke kantor sekarang, mohon segera menyusul untuk memberikan keterangan di kantor polisi" ucap salah satu polisi pada David.
David tak menjawab, ia sibuk memeluk Ellie. "Kamu gak pa-pa El?" tanyanya.
Masih dalam pelukan David gadis itu mengangguk pelan.
Beberapa saat berpelukan, ia akhirnya sadar kalau Ellie masih tak memakai baju lengkap. David mengurai pelukannya, kedua tangannya menangkup pipi Ellie "pakai baju dulu" ucapnya.
"Novi, kau bantu Ellie berpakaian" saya tunggu diluar" titahnya pada Novi.
David mengajak Roy keluar ruangan dan menunggu didepan.
"Astaga El, kamu gak pa-pa kan?" Novi iba sekali melihat kondisi sahabatnya itu mengenaskan. Keduanya berpelukan sesaat.
Ellie tersenyum dan menggeleng pelan "aku malu banget Nov, hiks hiks hiks" tangisnya pecah.
Novi mengambil celana Ellie yang tergeletak di lantai, saat akan mengambil kemeja namun kemeja itu sudah tak berbentuk robek disana-sini.
"Kau pakai kemejaku saja" David masuk lagi ke ruangan. Ia telah melepas kemejanya dan menyerahkannya pada Ellie. Kini hanya kaos ketat warna putih yang membungkus tubuh bagian atasnya.
...****************...
Para polisi dan pak Kirman keluar dari rumah tempat kejadian perkara, mereka menggelandang dua pria yang merupakan pria gendut dan Ragil.
Pria gendut dan Ragil dibawa masuk ke dalam mobil yang akan mengantarkan mereka ke kantor polisi.
"Saya tidak bersalah Pak, saya hanya disuruh sama dia" Ragil berusaha mengelak.
"Apa kau bilang? dasar bocah tengik" ucap pria gendut tak terima.
"Sudah diam semuanya! kalian berisik saja" omel pak polisi.
Setelah semua orang masuk kedalam mobil patroli. Dengan cepat mobil tersebut putar haluan dan pergi meninggalkan rumah itu menuju kantor polisi.
...****************...
.
.
.
.
bersambung...
hayoo ngaku siapa yang bacanya antara deg deg an sama pengin ketawa?
seru gak sih gaes? masukannya dong π
__ADS_1