Elliana

Elliana
16. Direstui


__ADS_3

"Jadi kita ini dulu satu angkatan di Akademi Militer, ya bisa dibilang sahabat karib. Kemana-mana selalu bersama bahkan kabur untuk kencan pun juga bareng-bareng. Hahahaa" ucap pak Ahmad sembari tertawa lebar.


"Ya betul, dan itu sekitar tiga puluh lima tahun yang lalu. Sudah sangat lama sekali" pak Wahyudi menerawang jauh mengingat masa mudanya dulu.


Pak Ahmad dan pak Wahyudi adalah seorang pensiunan TNI angkatan darat. Mereka pernah bersahabat selagi menempuh pendidikan militer bersama.


Setelah sama-sama lulus, keduanya hilang kontak karena perbedaan penempatan tugas. Pak Wahyudi ditugaskan di Ibukota Jakarta sedangkan pak Ahmad kembali ke kota asalnya Sidoarjo.


Pak Ahmad pernah mengalami kecelakaan ketika sedang bertugas di wilayah konflik waktu itu. Ia tak sengaja menginjak ranjau yang mengakibatkan kakinya terluka parah sehingga harus diamputasi dua-duanya. Hal itulah yang menyebabkan ia harus duduk dikursi roda sampai saat ini. Beruntungnya nyawanya masih selamat.


Pak Wahyudi nampak sedih mendengar cerita sahabatnya, ia menepuk bahu pak Ahmad untuk memberikan kekuatan.


Hari sudah semakin siang, bu Dewi mengajak para tamunya untuk makan siang. Di ruang tengah sudah siap tersaji beraneka ragam lauk pauk, buah-buahan dan minuman.


Dengan beralaskan karpet warna cokelat motif bunga, mereka duduk lesehan bersama-sama menyantap hidangan makan yang telah dipersiapkan oleh bu Dewi.


"Makan yang banyak mas, maaf kondisinya cuma begini seadanya" Ellie berkata lirih pada David yang duduk disebelahnya. Ia menyerahkan piring yang telah ia isi dengan nasi untuk David.


"Gak masalah" jawab David santai sambil tersenyum lebar. Hatinya bergetar mendapat perlakuan manis dari gadis cantik ini. Ia meraih piring dari tangan Ellie. Tak sengaja tangan mereka bersentuhan. Pipi Ellie merona merah bak buah tomat. Buru-buru ia memalingkan muka, khawatir David melihatnya.


Setelah acara makan siang bersama selesai, Ellie nampak membantu kedua adiknya membereskan piring dan gelas yang kotor dan membawanya kebelakang.


"Mbak El, calon suami mu guanteng banget sih. Ketemu dimana mbak? Mau juga dong yang bening begitu" bisik Rena adik kedua Ellie sambil terkikik geli.


"Iya nih, mbak Ellie punya cowok ganteng gitu kok gak pernah cerita ke kita-kita sih?" Karin adik pertama Ellie ikutan bicara.


"Hush, kalian tuh ya masih kecil jangan mikirin cowok dulu. Sekolah aja dulu yang pinter" jawab Ellie sengit namun dengan senyuman.


"Iya mbak iya, beres kok. Kita kan adikmu tanpa belajar pun kita udah terlahir genius" sahut Rena tersenyum bangga.


"Nah betul itu" Karin pun ikut menyahut sambil membawa gelas kotor ke belakang.


Ellie geleng-geleng kepala, dua adiknya itu memang selalu kompak. Beda usia mereka hanya dua tahun. Karin kelas sebelas SMA sedangkan Rena kelas sembilan SMP.


Pak Ahmad mengajak tamunya untuk menunaikan shalat duhur berjamaah di mushola tepatnya di sebelah kiri ruang tengah. Ia meminta David supaya menjadi imam. David pun menerima permintaan sang calon mertuanya itu.

__ADS_1


Setelah selesai shalat, mereka berkumpul lagi diruang tamu. Mereka akan membahas tentang tujuan awal pertemuan dua keluarga ini. Tak lain tak bukan adalah rencana pernikahan Ellie dan David.


"Jadi gini Ahmad, kedatanganku kesini adalah untuk melamar Ellie anak gadismu untuk menjadi menantuku, menjadi istrinya David" ucap pak Wahyudi tegas dan tenang.


Suasana hening sesaat, bu Ratna dan bu Dewi saling menatap dan tersenyum. Ellie menunduk, ia meremas jemarinya sendiri yang saling bertautan.


David nampak sangat tenang, raut wajahnya serius. Netra cokelatnya menatap lurus ke arah pak Ahmad. Ia sedang berusaha meyakinkan calon mertuanya dengan sikapnya ini.


David sangat berharap mendapat restu dari ayahnya Ellie. Ia sudah mantap akan menikahi gadis ini, mungkin terlalu cepat namun sejujurnya ia sudah jatuh hati pada gadis itu.


"Awalnya saya kurang setuju, saat istri saya memberitahu bahwa telah terjadi sesuatu hal pada kalian berdua" pak Ahmad bersuara ia menatap Ellie dan David bergantian.


"Ellie, Karin dan Rena adalah anak gadis saya, sebisa mungkin saya harus menjaganya dari pria yang berniat buruk terhadapnya. Ellie saat ini ia masih kuliah dan tinggal jauh dari keluarga, saya hanya berharap dia bisa jaga diri namun kenyataannya ..." pak Ahmad diam tak melanjutkan ucapannya.


Ellie mengangkat wajahnya, ia menatap sang ayah dengan penuh rasa penyesalan. Jika saja malam itu ia tak pergi ke bar, semua ini tak akan pernah terjadi. Namun sisi hatinya yang lain, ia bersyukur bisa bertemu dengan David pria yang menolongnya saat mabuk.


Ya memang benar secara tak sengaja dan tanpa mereka ketahui, David telah menyelamatkan Ellie dari Ragil yang berniat jahat padanya.


"Maaf om, saya minta maaf atas apa yang telah terjadi dan saya ingin bertanggung jawab atas perbuatan saya pada Ellie". nada suara David sangat tenang dan tegas.


"Iya om, meski baru mengenalnya tapi saya akan menyayanginya dengan tulus, saya akan selalu berusaha menjaganya dan membuatnya bahagia bersama saya". jawab David dengan tegas dan tenang hanya dalam satu tarikan nafas.


"Sungguh luar biasa pria ini" batin Ellie meronta tak karuan. Sangat beruntung wanita yang akan jadi istrinya kelak.


Hati Ellie menghangat untuk kesekian kalinya, pipinya kembali merona. Ia serasa melayang terbang ke angkasa mendengar perkataan David barusan. Tanpa aba-aba ia mendongak menatap David yang duduk didepannya hanya terhalang oleh meja.


Netra keduanya bertemu, seolah saling berbicara mengungkapkan sesuatu. Hanya mereka berdua yang tahu apa itu.


"Kamu bagaimana El?" tanya pak Ahmad bergantian ia menatap lekat-lekat wajah putrinya yang nampak gugup dan cemas.


Ellie gelagapan, semoga saja pak Ahmad tak menyadarinya.


Ellie bingung ia tak tahu harus menjawab apa. "Aduh rasanya ingin sekali aku menjadi jinny oh jinny, bisa ngilang disaat situasi begini" ia asyik bermonolog dalam hati.


"Maafkan Ellie ayah" hanya itu yang meluncur dari bibirnya. Lidahnya kelu, ia tiba-tiba saja menjadi manusia bodoh tak bisa berpikir jernih.

__ADS_1


Hati Ellie berkhianat, setahun yang lalu ia bertekad fokus kuliah. Setelah kuliah ia harus mendapatkan pekerjaan yang baik dan gaji yang banyak. Urusan cinta nomer kesekian. Tapi apa sekarang? Ia jatuh pada pesona David.


Suasana kembali hening, tak ada yang bersuara. Ellie dan David harap-harap cemas menanti pak Ahmad bersuara.


"Baiklah, apa mau dikata kalau memang anak muda maunya begitu, yang tua ya ikut saja. Saya restui hubungan kalian dan segeralah saja di sah kan. Supaya saya gak terlalu kepikiran Ellie jauh disana sudah ada yang menjaga" ucap pak Ahmad santai dan tersenyum.


"Alhamdulillah" bu Dewi dan bu Ratna kompak berkata.


"Alhamdulillah, terima kasih. Saya pastikan Ellie berada di tangan yang tepat Ahmad" ucap pak Wahyudi meyakinkan sahabat sekaligus calon besannya itu.


David tersenyum lega, sedari tadi ia memandangi Ellie rasanya sudah sangat ingin memeluk gadis itu. Jika saja tak ada para orang tua disana.


Raut wajah Ellie yang tadi nampak gelap kini berubah cerah, seulas senyum manis terbit. Jika saja ia hanya sendirian hampir dipastikan ia akan melonjak jingkrak-jingkrak saking bahagianya.


Baiklah ia akan mencoba ikhlas menjalani takdirnya menikah muda. Jika sang ayah sudah merestui, maka ia pun juga akan menurut.


"Bagaimana kalau ijab qobulnya minggu depan saja? ucap bu Ratna bersemangat netranya berbinar bahagia.


Semua orang nampak terkejut, namun detik berikutnya bu Dewi menambahi "kami setuju saja, iya kan pak?" ia meyakinkan pak Ahmad dengan cara mengedipkan sebelah matanya.


Demi apa Ellie bagaikan tersedak buah kedondong, ia membeku ditempat. Sungguh tak percaya akan secepat ini.


Sedangkan pria didepannya ini malah terlihat bahagia ia terus saja tersenyum sambil sesekali menggosok ujung hidungnya mirip orang sedang flu. "Entah apa yang merasukimu David?" batin Ellie geleng-geleng kepala.


.


.


.


.


Bersambung..


eheeem duuh ikutan seneng nih πŸ˜‚πŸ˜‚

__ADS_1


oiyaa minta dukungannya doong readers terzheyenk 😘


__ADS_2