
Halaman rumah yang tak begitu luas itu nampak bersih, asri dan teduh. Terdapat sebuah pohon mangga besar disebelah kanan yang rindang. Disekitarnya beberapa pot bunga berjejer rapi, diatasnya tumbuh terawat aneka ragam bunga dan tanamam hias.
Disebelah kiri terdapat gazebo berukuran kecil, di kedua sisinya kiri dan kanan bergantungan pula beberapa pot dengan tanaman hias yang menambah kesan indahnya halaman rumah tersebut.
Tidak ada pagar menjulang tinggi didepannya, hanya pagar tembok berukuran tinggi satu meter yang membatasi rumah itu dengan jalan desa.
Sebuah mobil minibus berwarna hitam menepi dan berhenti di depan rumah itu. Penumpang mobil tersebut tak lain adalah Ellie, bu Ratna, pak Wahyudi dan David yang bertugas sebagai sopir.
Setelah sekitar empat bulan Ellie tak pulang, bukan karena tak ingin namun ia hanya menghemat uang saja. Tidak sedikit ongkos untuknya pulang dari Jakarta ke Sidoarjo. Toh rasa kangen dengan keluarganya bisa sedikit terobati dengan cara komunikasi via telpon atau video call.
Ellie nampak enggan melangkahkan kakinya masuk ke rumah, untuk beberapa saat ia hanya berdiri mematung di halaman rumah. Bu Ratna dan pak Wahyudi sudah berada didepannya beberapa langkah.
Tiba-tiba tangannya yang dingin dan sedikit basah karena gugup itu digenggam seseorang sejurus kemudian rasa hangat menyelimuti tangan dan tentu saja hatinya juga ikutan menghangat.
Ellie terperanjat kaget, ia menoleh ke samping kanan. Tatapan matanya tepat bertemu dengan mata cokelat milik David yang baru saja menggenggam erat tangannya.
Beberapa saat saling bersitatap dan hening, Ellie melihat ada ketulusan yang terpancar dari mata itu. "Ayo masuk, jangan takut" bisik David tepat ditelinganya sangat dekat. Ellie sampai bisa merasakan hembusan nafas hangat pria ini mengenai wajahnya.
Ellie sadar, ia segera melepas tangan David dan melangkah maju lebih dulu. Ia menoleh ke belakang "siapa yang takut?" sembari menjulurkan lidahnya ke arah David sambil tersenyum. Ia mencoba menutupi kegugupannya dengan bercanda seperti itu.
Ya, Ellie merasa sangat gugup saat David menguatkan dirinya tadi, saat jemari mereka menyatu, saat bisikan lembut pria itu.
"Assalamualaikum" ucap pak Wahyudi saat sampai didepan pintu rumah yang sudah terbuka lebar.
"Mari om tante, kita masuk saja silahkan duduk dulu" ucap Ellie sambil mempersilahkan para tamunya untuk duduk di sofa ruang tamu. "Saya panggilkan ayah dan ibu sebentar" lanjutnya.
Bu Ratna, pak Wahyudi serta David menurut. Mereka bertiga duduk berdampingan di sofa panjang berwarna hitam yang berada di ruang tamu. David mengedarkan pandangannya menelisik ruang tamu yang bersih dan rapi itu.
__ADS_1
Nampak beberapa pigura foto yang tersusun rapi pada dinding bercat warna krem itu. Ada satu foto yang terlihat mencolok mata, ukurannya lebih besar dari yang lain. Dalam foto tersebut berdiri gagah seorang pria memakai seragam TNI warna hijau lengkap dengan pangkatnya. David tertegun sesaat melihat foto itu.
Belum sampai Ellie masuk lebih dalam, seorang pria paruh baya muncul dengan memakai kursi rodanya. Rambutnya mulai memutih dan wajahnya nampak tak bersahabat. Ada seorang wanita yang mendorong kursi roda tersebut.
Mereka tak lain adalah ayah dan ibu Ellie. "Waalaikumsalaam, balas bu Dewi ibunya Ellie dengan ramah ia tersenyum lebar menyapa para tamunya.
"Selamat datang di rumah kami yang sederhana ini" ucap bu Dewi masih dengan tersenyum lebar. "Perkenalkan saya Dewi ibunya Ellie dan ini suami saya Ahmad" lanjutnya sembari duduk di sofa tunggal.
Tak lama kemudian ada dua gadis yang turut serta keluar menyapa para tamu.
"Dan ini Karin serta Rena adiknya Ellie" ucap bu Dewi lagi Kedua gadis itu dengan sopan mengulurkan tangan kanan lalu berjabat tangan dengan para tamu-tamu yang datang.
Setelah ritual jabat tangan selesai, suasana masih sedikit kaku. Hingga pak Wahyudi mulai berbicara.
"Bapak ini pak Ahmad? Ahmad Zainuri bukan?" tanya pak wahyudi meyakinkan dirinya sendiri.
Lalu sejak munculnya pria yang duduk di kursi roda ini tadi ia cukup terkejut dengan kondisinya.
Pak Ahmad nampak bimbang, ia masih diam seperti sedang mengingat seseorang. "Wahyudi Santoso, apa anda Wahyudi Santoso?" ucapnya kemudian.
"Hahaha wah ternyata benar dunia ini tak selebar daun kelor" tawa pak Wahyudi menggelegar. Ia segera bangkit dari duduknya berjalan menghampiri pak Ahmad yang sedang tersenyum juga.
Wajah tak bersahabat yang tadi ia tunjukan hilang berganti senyum lebar. Pria itu menyambut pelukan pak Wahyudi. Mereka berdua berpelukan melepas rindu.
David melongo menyaksikan adegan di depannya, ia tak habis pikir ternyata papanya telah mengenal ayah Ellie. Dilihat dari sikap mereka sepertinya dimasa lalu mereka sangat akrab.
Ellie tak kalah terkejut melihat pemandangan bahagia ini, tapi ia merasa beruntung karena sang ayah sepertinya tidak akan marah.
__ADS_1
Bu Dewi dan bu Ratna saling tersenyum ramah.
"Bagaimana kabarmu Wahyudi? Apakah dia putra pertamamu? kata pak Ahmad setelah mengurai pelukannya.
"Iya David putra pertamaku" jawab pak Wahyudi.
"Berapa usianya sekarang? Jika saja Arman masih hidup pasti dia seumuran dengannya" sahut pak Ahmad terdapat nada sedih disana.
"Ellie ini putriku yang kedua, anak pertamaku Armand sudah lama berpulang menemui Sang Pencipta" lanjutnya pelan.
"Oh begitu rupanya, kami turut berduka Ahmad. Semoga dia sudah tenang disana. Kamu adalah sosok ayah yang hebat" ucap pak Wahyudi.
Suasana ruang tamu yang awalnya kaku, kini berubah damai dengan suara obrolan santai dan gurauan. Ada gurat bahagia nampak di wajah Ellie ternyata ayahnya telah mengenal papa David sebelumnya.
Bisa saja pernikahannya dengan David akan berjalan lancar jika akhirnya begini. Sejak tadi berangkat ia sudah memikirkan ayahnya pasti akan sangat murka padanya.
Hal ini menjadi sebuah pelajaran berharga untuk Ellie bahwa jangan terlalu berburuk sangka pada sesuatu hal yang belum tentu akan terjadi. Kita hanya perlu berserah diri pada apapun yang menjadi keputusan Yang Maha Kuasa.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1
Minta like komen dan vote nya doong ππ