
"Apaa?" tanpa sadar Roy berkata dengan keras. Ia sangat terkejut pasalnya gadis yang kini berada didepannya ini terlihat masih sangat belia. Apa sahabatnya itu segitu frustasinya sampai-sampai ia mau menikahi gadis kecil?.
"Astaga, elo ngagetin aja sih" David mendorong pria itu sampai mundur beberapa langkah ke belakang.
Ellie tertawa kecil sambil menundukkan kepalanya melihat tingkah dua pria di hadapannya.
"Maaf bos" ucap Roy singkat. Ia melangkah ke depan mendekati Ellie.
David yang masih sibuk menatap layar komputer, mendongak melihat ke arah Roy "eh mo ngapain lo?" ucapnya.
"Gue mo minum kopi, haus!" elaknya. Roy tertawa lebar ia mengulurkan tangan ke arah Elly " Hallo, gue Roy asisten laki lo" sapanya ramah pada Ellie.
Roy melihat Ellie sepertinya gadis ini masih belia, jadi ia berkata santai saja.
David bangkit dari duduknya, ia berjalan ke sofa menghampiri Ellie. "Dia temanku sekaligus asisten ku disini" Ellie mengangguk dan menjabat tangan Roy "Ellie" sahutnya dengan tersenyum.
Mereka bertiga mengobrol sembari minum kopi dan makan roti bakar buatan Ellie. Entah mengapa kedua pria ini seakan lupa dengan kegiatannya tadi setelah kehadiran gadis cantik di ruangan itu
"Roti bakar rasa cinta ini sunguh lezat" puji David dengan mulut penuh makanan.
Roy hanya geleng-geleng kepala, ia bangkit berdiri lalu berjalan menuju meja komputer. Tangannya sibuk memegang roti namun matanya fokus mengamati layar. "Yes kena kau an****".
Secepat kilat David berdiri dan menghampiri Roy. Ia menatap layar kemudian duduk didepan komputer jari-jarinya sibuk mengetik sesuatu di keyboard. Mulutnya menggigit roti bakar yang belum sempurna masuk kedalam.
Dalam diam Ellie mengamati kedua pria tampan didepannya itu "ngerjain apaan sih? Serius amat mereka" .
Satu jam berlalu, akhirnya pekerjaan David selesai dan kini jam menunjukkan pukul delapan malam. Karena bosan menunggu tanpa sadar Ellie tertidur di sofa masih di ruangan David.
"Vid, kasian cewek lo nih sampe ketiduran" ucap Roy saat ia melintas hendak keluar ruangan.
Sedari tadi sibuk mengejar dan menghentikan hacker yang menyusup ke programnya, David dan Roy sampai lupa ada manusia lain di ruangan ini selain mereka berdua. David mendongak mengalihkan pandangan dari layar, ia menepuk jidatnya sendiri.
"Elo pulang duluan sana" titahnya pada Roy yang tak juga keluar dari tadi.
"Iya iya bos, gue pamit"
David mematikan komputer setelah memastikan programnya aman. Ia bangkit dan berjalan menuju sofa. Duduk disamping Ellie yang tampak seperti putri tidur. Wajah putih mulus itu terlihat sangat tenang.
"Kau ini gampang sekali tidur ditempat asing, tak sayang ya sama tubuhmu sendiri. Gimana jadinya kalo bertemu pria jahat?" David bermonolog.
David menepuk lengan Ellie pelan untuk membangunkannya tapi tak ada reaksi. Berganti menepuk pipi mulus itu tetap tak ada reaksi. "Duh gemas, harus gimana caranya bangunin kamu?" Batin David.
Tak lama ia menyeringai, David mendekati wajah Ellie tangan kanannya terangkat. Jempol dan telunjuknya bersatu mencapit hidung lancip itu.
Satu dua tiga empat pada detik kelima Ellie terbangun karena merasa susah bernafas. Saat matanya terbuka, sungguh kaget luar biasa ia mendapati wajah David tepat didepannya hanya berjarak satu jengkal saja.
Nafas hangat pria ini menampar wajahnya. Kedua pasang mata itu saling menatap untuk beberapa saat. David semakin maju mengikis jarak.
Ellie seperti menangkap sesuatu yang beda dari mata itu. Detik berikutnya "sofa ini kenapa jadi panas" batinnya tak mengerti. Hawa sejuk AC berubah mendadak seperti sauna, hangat.
__ADS_1
Semburat merah memenuhi pipinya, jantungnya serasa melompat keluar. Reflek tangannya mendorong dada David untuk mundur. Namun sialnya pria ini terlalu kokoh ia bergeming ditempatnya.
"Mas, apa yang k-kau..." kalimat Ellie terpotong. Ia tak bisa melanjutkannya, karena kini bibirnya telah menempel dengan bibir David.
Pria ini mencoba lebih masuk kedalam namun sepertinya Ellie enggan mengizinkannya. Tak ingin ditolak, tangan kiri David meraih tengkuknya dan menahannya disana.
Ellie tak berkutik, ia bingung harus bagaimana karena ini pengalaman pertamanya. Sebuah adegan romantis di drama muncul di ingatannya. Mencontoh adegan drama, ia memejamkan mata dan pasrah menikmati sensasi baru tanpa membalasnya karena tak tahu caranya seperti apa.
David melancarkan aksinya dengan penuh kelembutan dan sangat hati-hati. Ia tak ingin menyakiti gadis ini. Ia baru memundurkan wajahnya saat merasa sesak kehabisan nafas.
Ellie terbatuk-batuk merasakan kehabisan udara. Ia segera menjauh dari David tak ingin pria ini menggodanya lagi.
"Aku tunggu dibawah saja" katanya sambil keluar ruangan dengan kikuk.
David tersenyum geli dan mengikuti Ellie keluar ruangan setelah mematikan lampu dan mengunci pintu. Ia melangkah menuruni tangga.
Tak ada yang bicara, mereka pulang dalam diam. Larut dengan pikirannya masing-masing. Hanya suara musik yang memenuhi mobil itu.
Empat puluh menit perjalanan akhirnya mereka tiba di rumah kost Ellie. "Kamu kenapa diam saja?" tanya David.
"Eh em a-aku gak pa-pa kok" jawab Ellie terbata ia tak berani menatap David. Menyembunyikan wajahnya yang memanas akibat malu.
Melepas seat belt lalu Ellie turun dari mobil. David ikut turun mengantar Ellie sampai depan pagar.
David meraih tangan Ellie dan menggenggamnya erat "maaf tadi aku terbawa suasana".
"Aku masuk dulu mas, udah malam. Hati-hati dijalan"
David mengangguk ia masih menggenggam tangan Ellie rasanya berat sekali untuk berpisah. Tapi perlahan ia melepaskannya juga dan berbalik masuk mobil.
Tak langsung pergi, David menunggu sampai Ellie benar-benar masuk rumah dan menghilang dari pandangannya. Baru setelah itu ia tancap gas meninggalkan rumah itu.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan dua sejoli itu. Tangan orang ini mengepal kuat menahan amarah yang kapan saja akan siap meledak.
Ellie membuka kamarnya yang ternyata kosong, "dimana Novi?" batinnya. Tak ingin memikirkan ini, ia beranjak masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Setelah selasai Ellie keluar dengan wajah segar dan pakaian yang berbeda. Daster memang sangat nyaman untuk tidur. Segera ia merebahkan diri di kasur empuknya.
Ia belum mengantuk, hanya sekedar berbaring saja punggunya terasa sakit karena tadi sempat tidur dengan posisi yang tak nyaman saat dikantor David.
David? Ya ampun hanya dengan mengingat nama itu bayangan adegan di sofa tadi kembali berputar diotaknya.
Tanpa sadar tangan Ellie terangkat keatas, jarinya meraba bibir sudut bibirnya tertarik keatas. Menarik selimut sampai menutupi kepalanya ia tersenyum sendiri. Kakinya menendang-nendang ke udara.
Novi yang baru datang kaget saat melihatnya, ia pikir ada penyusup yang masuk kamar. Tanpa pikir panjang ia menutup pintu dengan sangat pelan.
Melangkah mengendap-endap tangannya mengambil sapu disamping pintu. Mengangkatnya keatas posisi hendak memukul seseorang.
Satu tangannya bersiap menarik selimut.
__ADS_1
Sret..
"Aduh sakit" teriak Ellie dengan sangat kencang.
Novi membelalak kaget, sapu ditangannya terlepas begitu saja.
"Elo gila ya El? Ngapain sih pake selimut kayak gitu? Mencurigakan" cibir Novi.
"Maaf" sahutnya lagi sambil mengangkat tangannya ke udara jarinya membentuk simbol damai.
Ellie mendengus kesal tangannya mengusap-ngusap kakinya yang tadi terkena sapu. " elo dari mana aja sih?.
"Rumpi di kamar Ami sama yang lain" jawab Novi. Ia mengambil posisi duduk diranjang Ellie "dateng jam berapa sih? Katanya sore, sore gue tungguin ga ada" katanya lagi.
"Barusan" sahut Ellie.
"Gimana gimana El cerita dong ke gue, elo diapain sama ayah? Apa dipukul sapu kayak barusan?" Novi tertawa lebar.
"Sialan lo, males ah" Ellie hendak balik berbaring saat tangan Novi menariknya duduk lagi. Ellie memutar bola matanya malas namun tak urung ia juga menceritakannya sama Novi.
"Waah jadi ya kalian tuh emang jodoh, pertemuan yang romantis lalu ayah kalian ternyata dulu sahabatan. Tunggu apalagi, gue setuju sama mamanya David buruan aja di sah kan" Novi mengedipkan sebelah matanya.
Novi merasa Ellie harus cepat menikah supaya Ragil tidak berani mengusiknya lagi. Ia khawatir pria itu akan berbuat jahat ke sahabatnya ini.
Melihat binar bahagia di mata Ellie, Novi mengurungakan niatnya untuk memberi tahu sebuah kenyataan tentang Ragil. Ia tak ingin merusak kebahagian Ellie.
Cukup dirinya saja yang tahu dan akan berusaha menjaga Ellie dengan baik.
"Nov, gue mohon elo jangan kasih tau siapapun kalo gue akan menikah dalam waktu dekat. Pliss ya gue mohon!"
"Memangnya kenapa kalau orang-orang tau El? Bukannya malah bagus ya, jadi ga ada yang berani deketin elo lagi"
"Gue cuma belum siap aja dengan omongan orang, trus juga dia kan dosen kita. Aku gak mau orang berpikir nilai ku bagus karena hubungan ini" jelas Ellie panjang lebar.
Novi mengangguk ia memahami kekhawatiran sahabatnya ini "selama menurut lo baik gue dukung sepenuhnya" ucapnya tulus.
...****************...
.
.
.
.
Bersambung...
lagi mood baik nih, jadi up 2 episode deh. hehehee. happy reading π
__ADS_1