Elliana

Elliana
36. Honyemoon (I)


__ADS_3

Ellie menggigit bibir bawahnya, ia tersipu malu wajahnya kini memerah mirip kepiting rebus. Betapa kikuknya ia sekarang, baru saja tadi memperkenalkan dirinya hanya sebagai mahasiswanya David. Namun diluar dugaan pria itu malah terang-terangan mengumumkan bahwa mereka adalah pasangan suami istri.


Seolah tahu istrinya yang sedang dilanda malu, David perlahan menggandeng wanitanya itu masuk ke dalam ruangan meeting yang berada disebelah nya.


Setelah keduanya masuk di ruangan meeting, Ellie segera menuju sofa untuk duduk kakinya terasa lemas.


"Mas, kenapa gitu sih?"


"Apanya?" jawab David santai dan mengambil posisi duduk disebelah Ellie.


"Kenapa diumumkan sekarang? A-aku..."


"Aku apa Sayang? Kamu mau ada salah paham lagi kayak di kampus?" tanya David memotong kalimat Ellie.


"Loh, kamu udah tau berita itu Mas?"


"Sudah, tadi pak Rendi hubungi aku..."


"Apa?? pak Rendi?? Mati aku!" Ellie kaget luar biasa. Ternyata berita itu bahkan sudah diketahui oleh ketua rektor.


"Lalu aku harus gimana Mas? hiks... hiks..." tangis Ellie pecah.


Sedari tadi di kampus ia berusaha tegar dan kuat menghadapi pemberitaan miring tentangnya. Namun kini dihadapan suaminya tangis itu tak kuasa lagi ditahan.


David meraih tubuh istrinya dalam pelukan, satu tangannya menepuk punggung rapuh itu seolah memberikan kekuatan.


"Jangan ditahan, menangis lah sepuas mu..." ucap David tenang dan lembut.


"Tapi aku malu kalau sampe karyawan kamu denger. Hiks... hiks..."


"Ruangan ini kedap udara. Mau nangis sekenceng geledek pun mereka gak akan bisa denger."


"Bener?"


David mengangguk dengan tangannya terus mengelus rambut panjang istrinya.


"Hua... Hua... Hua..." Ellie menangis kencang.


David kaget namun ia hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Memaklumi bahwa istrinya itu masih sangat labil.


...****************...


Sekitar tiga puluh menit David menjadi pendengar setia istrinya yang sedang konser menangis. Kini Ellie sudah lebih tenang setelah meluapkan emosinya.


Kemeja David bagian atas basah oleh air matanya.


"Maaf Mas, kemeja mu jadi basah gini..." ucap Ellie melepas pelukan suaminya dan membelai kemeja yang basah.


Ellie masih sesenggukan dengan sisa tangisnya.


Kedua tangan David menangkup wajah Ellie, kemudian bergeser mengusap pipinya. Bibirnya mengecup singkat mata Ellie yang bengkak dan sembab.


"Udah tenang?" tanya David. Wajahnya masih sangat dekat dengan wajah Ellie.


Ellie hanya menjawab dengan mengangguk.


Bersamaan dengan itu, suara ketukan dari pintu terdengar.


Tok... Tok... Tok...


Sadar posisinya sangat intim dengan sang suami, Ellie beringsut mundur mengatur jarak. Sedangkan David beranjak dari duduknya untuk membuka pintu yang tadi sengaja ia kunci.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya pria itu pada salah satu karyawannya.


"Maaf Pak, lima belas menit lagi jadwalnya meeting dengan perusahaan yang dari Singapura itu."


David tampak berpikir sejenak, ia menoleh kearah istrinya. Meeting kali ini sepertinya sangat penting namun ia tak tega meninggalkan istrinya disaat terpuruk seperti itu.


"Iya, tunggu sebentar..." ucapnya pada karyawannya itu.


Setelah karyawannya berlalu, ia duduk kembali di samping Ellie.


Ellie yang mendengar percakapan suami dan karyawannya tadi kini paham jika suaminya sedang sibuk.


"Mas, kamu pergi aja aku gak pa-pa kok..." ucap Ellie sambil tersenyum manis.


"Maaf Sayang meeting ini penting banget buat perusahaan soalnya ini tender kedua yang harus aku pastikan aku bisa menang kali ini." terang David.


"Gak masalah Mas, tujuanku tadi kesini mau kasi tau kamu berita itu eeh kamunya malah udah tau."


"Aku tadi nelpon kamu tapi ponsel mu gak aktif, lalu aku coba telpon Novi. Dia bilang kamu otw kesini, jadi ya udah aku nunggu aja disini."


"Oh gitu, iya hape ku lowbat Mas..."


"Ya udah, sekarang kamu pulang aja duluan. Aku orderin taksi ya. Maaf aku gak bisa nganter waktunya mepet sama jadwal meeting..."


"Iyaa Mas..." Ellie meraih tangan suaminya dan menggenggamnya erat. "Ya udah aku tunggu diluar aja, semangat ya Mas. Semoga berhasil!"


Cup...


Ellie mencium pipi suaminya sesaat untuk memberikan semangat.


David tersenyum dan membelai rambut istrinya.


...****************...


Beruntungnya hari ini hari sabtu jadi Ellie tak perlu ke kampus dan bebas mengkhawatirkan dirinya tentang gosip miring itu.


Seperti biasa alarm di ponselnya akan selalu nyaring terdengar tepat jam 04.30.


"Hoooaaaaammmmm..." Ellie menggeliat merentangkan kedua tangannya ke udara.


Reflek tangannya meraba sisi kanannya mencari keberadaan suaminya. Kosong.


Ia pun bangun dan duduk sambil mengumpulkan jiwanya. Samar terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.


"Oh, mas David udah bangun toh..." gumamnya.


Ia pun segera bangkit dan merapihkan tempat tidurnya.


Ceklek...


"Pagi Sayangku, udah bangun?" sapa David saat keluar dari kamar mandi.


"Hem... Pagi Mas. Shalat subuh berjamaah yuk, aku ambil wudhu dulu yah..." sahut Ellie dan segera masuk ke kamar mandi.


David hanya mengangguk dan segera bersiap.


Keduanya shalat subuh berjamaah dengan khidmat. Diakhiri dengan doa yang di ucapkan David dan diamini oleh Ellie. Tak lupa wanita muda itu mencium punggung tangan suaminya dengan mesra. Dibalas kecupan hangat di kening oleh David.


Setelah selesai shalat, Ellie merapikan mukena dan sajadah lalu menyimpannya di atas rak di samping lemari baju.


"Kamu siap-siap ya, bawa tiga atau empat baju aja. Jangan lupa baju yang tebal dan hangat." titah David.

__ADS_1


"Loh, emang kita mau kemana Mas?"


"Honeymoon Sayangku..."


"Hah? Apa?" Ellie kaget campur malu. Wajahnya tersipu.


David melangkah mengikis jarak dan memeluk istrinya dari belakang.


"Kemarin aku menang tender yang dari Singapura itu, hari ini dan besok aku mau kita hanya berdua saja. Karena mulai hari senin sampai satu bulan ke depan aku pasti sibuk..." ucap David. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher istrinya.


"Alhamdulillah, kamu berhasil Mas. Selamat yah..." Ellie menyandarkan kepala pada suaminya.


David mengangguk. Suasana berubah hening dan romantis sesaat. Hanya bahasa tubuh mereka yang bicara. Tangannya keduanya saling mengelus.


Tak mau larut terbawa suasana, David menyudahi adegan pelukan itu dengan deheman.


"Eheem... Udah ayo siap-siap dulu. Kalau kesiangan nanti jalanan macet." kata David sambil mengurai pelukan.


Ellie yang tengah sangat nyaman berada di pelukan suaminya berubah cemberut.


"Nanti di villa kita puas-puasin pelukannya. Aku gak mau kita kena macet nanti Sayang..." kata David, seolah ia tau isi hati istrinya itu.


"Iya-iya..."


Tak butuh waktu lama untuk packing karena hanya dua hari mereka akan liburan ke puncak.


Keduanya turun ke bawah beriringan, saat sampai dibawah sudah ada bibi Siti yang menyambut dengan satu box besar kotak yang sepertinya berisi makanan.


Ellie yang penasaran pun akhirnya bertanya. "Ini apa Bik?"


"Bekal makanan untuk dua hari Mbak..." jawab bibi dengan tersenyum.


"Bekal? Ini Bibi sendiri yang siapin semuanya?" Ellie bertanya lagi.


"Iya Mbak, udah mbak tenang aja dan selamat berlibur ya..." kata bibi lagi.


"Iya Sayang, kalian nikmati bulan madu singkat ini ya dan cepetan kasi Mama cucu yang cantik dan tampan..." ucap mama Ratna yang baru saja tiba di ruang makan.


"Sudah sana buruan berangkat, biar gak kena macet di puncak ini kan weekend..." kata papa


Wahyudi.


Ellie makin terheran-heran, ternyata semua orang sudah tahu rencana suaminya itu. Dirinya bahkan baru saja tahu hal ini dua puluh menit yang lalu. Tak mau ambil pusing ia hanya tersenyum saja dan segera berpamitan.


Kini keduanya telah berada di dalam mobil sedang perjalanan menuju puncak Bogor untuk honeymoon singkat.


Ellie sungguh merasa bersyukur mendapatkan suami dan mertua yang sangat baik dan pengertian. Wanita muda itu tak henti-hentinya tersenyum bahagia dan terus menatap suaminya yang fokus mengemudi.


"Apa aku terlalu tampan? sampai kamu liatin terus? Sayang aku gak akan terbang kok kamu tenang aja..." ucap David menggoda istrinya.


"Ih apaan sih ge er deh. Aku tuh terpesona sama pemandangan di jalanan ini Mas.." Ellie mengelak.


"Hahaha..." keduanya tertawa bersamaan.


...****************...


.


.


.

__ADS_1


.


bersambung...


__ADS_2